LINGKARAN KITA: ENERGI CINTA DAN CITA

Rehat barang sejenak wahai sahabatku. Mari duduk di sini, pada hamparan rumput hijau lereng bukit, di bawah rindang sebuah pohon dan birunya langit, sembari menengok indah lekuk sungai berarus deras di bawah sana. Kau tentulah lelah, gurat wajahmu menampakkan kepayahan, fisik maupun jiwa lagi pikirmu. Duduklah sejenak sahabatku, ingin sekali aku bertanya kabar dirimu kini.

Tengoklah, apa kau lihat di sebelah sana, di sela-sela perdu itu menyeruak rumpun dandelion. Berbunga kuning saat muda dengan biji berparasut lembut dan siap diterbangkan angin kemudian. Dulu sekali, ia berasal dari dataran Eropa dan Asia. Kini sudah banyak kau jumpai, bahkan jika kau hanya sekedar menyusuri jalan setapak di bumi Indonesia. Sempat terpikir olehku, berapa banyak babak waktu yang telah dilewati oleh tetuanya hingga sampai generasinya kini.

Dandelion, ke dalam Asteraceae masih berkerabat dengan bunga daisy, aster dan matahari. Indah pada saat berbunga, dan semakin indah saat tiba masanya angin musim semi bertiup menerbangkan benihnya. Benih bunganya disebut “parachute ball”, persis seperti parasut saat mendaratkan muatan hayatinya.

Suatu hari, sampailah waktu pada angin yang datang ke lembah ini, menerpa lembut rerumpunan dandelion, menerbangan benih yang hendak terlepas. Sekali waktu angin musim semi menghentakkan  dirinya, membuat benih-benih dandelion terlepas, terbang serentak, membumbung tinggi, meninggalkan lembah itu. Parachute ball mendaratkan mereka dengan lembut di tempat lain.

Nah, sahabatku, ingatkah kau pada awal kebersamaan kita dulu, dalam sebuah lingkar ukhuwah berwadah madah. Hendak menyelami samudra ilmu dan hikmah. Kau tentulah mengerti mengapa aku benar-benar antusias saat itu. Menikmati sekali untaian kata dengan sanad paling utama.

Ah ya, kita dikandung dalam bunga yang sama, menyesap nutrisi nurani dari da’iah sejati. Semoga Allah berkenan melimpahkan karunia atasnya dan kepada keluarganya. Babak waktu itu telah bersaksi pada kita, betapa ilmu dan hikmah menyemai benih, membekali kita akan nilai-nilai mulia dalam hidup ini.

Suatu saat kelak, kita akan menjadi rumpun dandelion yang sepenuh hati mengayomi, cerah mewarnai calon benih dengan kecintaan akan ilmu dan hikmah. Hingga pada saatnya nanti menanti angin musim semi dengan penuh kesiapan, melepaskan benih, seraya menyisipkan harapan padanya agar dapat tumbuh dan berkembang di tempat yang baru. Menumbuhkan nilai-nilai kebaikan, menyambungkan harapan pada generasi berikutnya, akan sebuah cita-cita lahirnya peradaban.

-madrasah el-houb-

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: