Jebakan rasa memiliki

“Jangan letakkan bola dunia di hati, letakkan saja di telapak tangan agar mudah untuk kau genggam” kutipan bebas

Malam, tidur pulas lepas isya mencukupkan aku untuk kembali bangun di tengah malam. Midnight, saat-saat berharga untuk melewatkan waktu ini dengan membaca, menelaah kembali berbagai hal, atau sekedar mempersiapkan aktifitas esok hari. Dua, tiga jam waktu yang dihabiskan, saat mata sudah lelah maka tidur kembali adalah cukup.

Namun ada yang berbeda malam itu, saat aku terjaga begitu lama, asyik dengan rangkaian tulisan tentang pahlawan Indonesia. Menyadari kemudian, dalam sekejap memuji betapa menyenangkannya berada dalam kondisi seperti ini. Kondisi ketika kita memiliki kesempatan, kecukupan, keberdayaan untuk melakukan segala sesuatu yang kita inginkan, dengan mudah.

Sempat terlintas bahwa kenikmatan ini adalah anugerah, kesyukuran lah yang sepertinya hendak diuji. Namun siang tadi, saat fasilitas untuk kenikmatan yang baru saja semalam direnungkan-diambil oleh-Nya. Maka gagasan tentang kesyukuran semata, sirna. Adalah hal yang mafhum bahwa teori yang kita yakini dapat saja tergantikan dengan teori lain yang telah berhasil dibuktikan, terpatahkanlah.

Memang ketika aku dan mungkin juga kita semua, telah sampai pada suatu titik nikmat. Semua yang tampak dan dirasakan adalah segala yang menyenangkan, meski dengan begitu tak lantas membuat kita lalai untuk bersyukur. Namun jika kita mampu untuk sedikit lebih berhati-hati. Tentang jebakan rasa memiliki, inilah sebenarnya yang peru kita waspadai.

Kenikmatan serta kesyukuran, meski kita rasakan dalam waktu bersamaan seharusnya memang tidak membuat kita lupa bahwa keduanya bukanlah milik kita. Perasaan istimewa ini adalah pinjaman, titipan dari-Nya. Seperti seorang anak penjaga loker sepatu di sebuah masjid, ia menerima titipan sepatu para jama’ahnya. Lepas shalat, orang-orang akan mampir kembali ke loket penitipan, mengambil sepatunya. Demikianlah, setelah perasaan gembira dan senang, nikmat dan kesyukuran, berikutnya giliran kesedihan, kecewa dan kehilangan yang akan bertandang pada hati ini. Terhadap perasaan ini tidak ada yang benar-benar kita miliki, meski beberapa dari kita akan mengklaim mampu mengendalikan hati.

Itu soal perasaan yang sering berganti, soal harta tentu lebih jelas lagi. Analogi penjaga loker sepatu di atas sudah barang tentu dapat mewakili makna, bahwa segala sesuatu memang ada saatnya. Saat-saat kita dapat memanfaatkan harta, merasa senang dan bersyukur atasnya. Kemudian saat-saat harta itu pergi, karena rusak atau pun hilang, yang jelas ketika itu terjadi maka manfaat harta tersebut sudah diambil kembali.

Sayangnya saat lengah kita seringnya lupa. Merasa harta adalah milik pribadi, mungkin. Atau ada manfaat lebih besar dari harta tetapi kita memilih tidak menggunakannya. Terkadang lupa, dengan begitu saja memberi batas penggunaannya, dengan demikian terbatas pula manfaatnya.

Nah, itu baru soal harta, jika kita masukkan analogi penjaga loker sepatu tadi. Untuk banyak hal seperti perasaan, kesehatan, kecerdasan, potensi, kesempatan, kesibukkan, waktu luang, nikmat berkumpul bersama keluarga dan kawan karib, hingga nikmat-nikmat lainnya, iman dan islam. Maka peluang akan lebih besar untuk mengklaim bahwa diri kita memang ‘memilikinya’.

Jika saja kita selalu sadar bahwa hidup di dunia ini dalam komponen jasad dan ruh. Maka penjelasan untuk segala sesuatu yang bersifat dunia adalah sederhana. Tubuh ini pinjaman, kesehatan ini pinjaman, berikut sama halnya dengan perasaan, kecerdasan, potensi, kesempatan, waktu luang, kesibukkan dan segala macam kenikmatan lainnya-adalah pinjaman. Alangkah bijaknya jika kita mampu menjaga dan memanfaatkan dengan baik apa-apa yang telah kita pinjam. Karena tidak ada hal apapun di dunia ini yang sejatinya benar-benar milik kita.

sc23

         Dan dipenghujung ayat penutup subuh kali ini “Katakanlah, “Sungguh, Tuhanku melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan membatasinya (bagi siapa yang Dia kehendaki), tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Saba:36). Sungguh, dari apa saja kita mampu mendapatkan inspirasi. Wawllahu a’lam.

“Hikmah itu terserak, siapa pun yang menemukannya maka dialah yang paling berhak memanfaatkannya”. 

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: