School of Life 1

Jika berkisah tentang kenangan. Akan ada banyak hal yg ingin aku bagikan, sayang belum mampu aku tuliskan satu persatu. Enam tahun yg lalu saat aku berdiri menatap megahnya komplek bangunan tinggi berpagar kawat duri, masih aku sangsikan, tentang kehidupan menjemukan apa yg sekiranya akan aku alami. Tapi saat ini, mengenangnya saja melahirkan tawa dan banyak kuluman senyum, bah. Ok, mungkin ini satu dari banyak cerita di dalamnya. Well, aku mulai saja yak:D

Lebih bayak tentang perjalanan waktu, hidup terkadang tidak memberikan kesempatan untuk semua sikapmu agar diterima dan dianggap baik, menyedihkan sepertinya. Tapi ada proses belajar dan memahami disana. Contohnya saja, saat kita berpikir dan mendapatkan ide cemerlang (anggap saja begitu), kemudian ada upaya untuk menjelaskannya ke dalam sebuah kelompok diskusi. Yang membuat ide itu dipandang bagus atau tidaknya jelas dipengaruhi banyak faktor. Antara lain seperti kejelasan bicara, pilihan kata, intonasi, gesture, situasi dan kondisi pada saat ide itu disampaikan, hingga ada kaitannya dengan siapa dan bagaimana kita berpakaian dan menempatkan diri. Oke teorinya cukup disini, kita mulai kisahnya.

Seorang kawanku, jujur aku salut dengan kecerdasannya, atau mungkin tepatnya jenius, hmm. Namun seperti yang sudah-sudah, proses kehidupan yg dilaluinya mencetak karakter unik pembeda. Namanya Utih, jago sekali matematika atau gila mamang ya dengan angka (maap*). Saat bicara dengan dia, pengetahuan sejarahmu akan meningkat, khususnya yg berkenaan dengan ilmuan angka (misal al-Khawarizmi). Demikian pula jika sempat duduk makan siang dengannya, ada banyak prinsip kehidupan yg dapat dirumuskan dengan formula matematika. Kalau saja lihat dia berada di kelas, loker mejanya mesti ada buku matematika, sudah jelek penuh corat-coret dan penuh jawaban, tinggal nyalin kalau ada pr, heh. Oya, dia juga gabung di club astronomi, waktu topik diskusi sampai bab menentukan koordinat lokasi tinggal dan menghitung sudut kiblat (lokasi tinggal-ka’bah) dia udah luwes mainin kalkulasi. Di serambi masjid beberapa waktu menjelang UN, kita andalkan dia buat ditanyain ini itu. Aktifitas lainnya ada di tim olympiade matematika sekolah. Aktifitas lainnya lagi ada di perpustakaan lagi baca koran. Terkadang kesan underestimate juga bisa mampir loh ke orang-orang perfect gini, gak kenal sikon soalnya. Selalu ada saja hal-hal tentang dia yg bisa jadi bahan gossip, gak biasa dan gak banyak orang yg kaya dia, menurutku. Tapi terlepas dari itu semua, kita tahu batas harusnya. Hampir 3 tahun yg lalu, saat wisuda alumni sudah berlalu, ada kesan terdalam yg sampai saat ini masih membuatku terhenyak jika membaca ulang novel angkatan kami. Ada puisi yg ditulis olehnya, tentang cinta. Dan tahukah kamu, dia seperti dirinya, seperti jiwanya, berikut aku tuliskan:

Vektor-Vektor Cinta

Saat pertamaku mengenalmu

Aku merasakan sebuah transformasi

Sepasang translasi dan dilatasi

Menyampaikan prooyeksi vektor ke hatiku

Vector-vektor cinta

Aku tak yakin ini sebuah tautologi

Tetapi setiap ku memejamkan mata

Kudapati cerminan wajahmu

Kucari nilai kebenaran rasa ini

Kugunakan modus ponens, tollens, dan silogisme

Hingga kutarik sebuah kesimpulan

Bahwa ku jatuh ke prisma cinta

Seiring berotasinya lingkaran waktu

Polynomial cintaku bmengalami integral

Hingga membentuk deret divergen

Dengan limit mendekati tak hingga

Namun,..

Aku tertegun

Aku tak bisa menjadikanmu

Modus statistik cintaku

Karena nilai i maksimum cintaku

Ada pada-Nya

Hanya faktor cintaku pada-Nya lah

Yang membuatku cinta padamu

Demikianlah, pada kali kesempatan yg lain aku menyadari bahwa, “betapa menyenangkan berbicara dan bergaul dengan orang yg menjadi dirinya sendiri”.

 1

Iklan

2 thoughts on “School of Life 1

Add yours

  1. Wah… ketawa sendiri bacanya, tu puisi juga ababil bgt deh, wkwkwk
    Kayaknya saya ga gitu2 bgt deh, hehe… kalopun iya, alhamdulillah ini jadi motivasi buat saya (harusnya sekarang lebih rajin, kan udah mahasiswa)

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: