Di penghujung jalan kehidupan

Bismillah, Jum’at 22 November 2013

Ingin menulis sedikit tentang mengingat akhir hidup. Semoga dapat diambil pelajaran, amiin. Siang tadi baru dapat sms dari teman,

“Innalillahi wa inna ilahi rajiun. Kbr duka utk Bio 48. Shbt kita, Julia Saras Putri meninggal pkl 11.50 siang ini, teman”.

Julia, seorang teman kami di Jurusan Biologi angkatan 48 dikabarkan telah meninggal dunia. Sebelumanya almarhum dikabarkan koma. Julia sempat sakit beberapa waktu yang lalu.

Terhadap orang yg telah meninggal, kita tentunya memiliki kenangan baik maupun buruknya. Sesuai apa yg telah dikerjakan semasa hidup. Apalagi jika orang tersebut adalah saudara, kerabat, teman dekat, atau bahkan hanya kenalan. Demikian pula denganku, ini tentang kenangan baik terhadap Julia.

Kurang lebih 2 minggu yg lalu, ada acara Pesta Sains Nasional di FMIPA, mengundang adik-adik SMA untuk datang dan berkompetisi di bidang ke-MIPAan. Julia dan aku bergabung dalam panitia di jurusan. Saat itu dia sudah sakit dan datang ke kampus hanya untuk mengikuti ujian saja. Namun koordinasi kepanitiaan tetap berjalan dengannya.

Tanggung jawab, itu yg hendak aku sampaikan. Saat itu bagian kestari, surat menyurat dan penyusunan soal membutuhkan beberapa printer. Julia, tentu saja terlibat untuk memastikan pengadaannya.  Nah, ketika itu Julia rajin sekali sms aku, memastikan printer aku dipinjamkan, diambil dan dibawa ke sekretariat, dan oleh siapa, sampai kapan diambilnya. Julia, sudah tidak pernah aku temui di kampus. Tapi kehadirannya masih terasa.

Hanya terakhir melihatnya di parkiran, dibonceng teman kami, dan wajahnya pucat sekali.

Masih pagi tadi, di jam pertama kuliah, teman-teman sekelas bersama mendo’akannya. Hingga kabar yg sampai pada kami siang ini, memperjelas kondisinya. Almarhum Julia Saras Putri, dan kami sibuk mengenangnya dalam do’a-do’a.

Demikianlah tentang akhir hidup, kisah di atas diceritakan kembali dalam versi kami yg masih berada dalam kehidupan.

Studi Lapang SiBio 48

Adapun tentang kematian, tentu setiap dari kita yg bernyawa pasti akan merasakannya.

Tidak tahu kapan datangnya, dalam kondisi seperti apa kita akan sampai pada penghujung jalan ini, jalan kehidupan.

Julia, ia hanya contoh yg tampak dekat terasa. Sedangkan ancaman kematian sebenarnya berada disekeliling kita, lebih dekat, hanya saja rasa lupa terhadapnya menyelamatkan kita dari ketakutan-ketakutan. Jadi, menurutku “lupa” juga suatu kenikmatan. Hanya saja kalau kita sadar, menjadi “ingat” akan lebih menguntungkan. Mengingat mati, mengingat akhir kehidupan ini akan membantu kita memepersiapkannya.

Mengingat mati, sadar bahwa, aku: tidak tahu kapan, apa yg sedang aku lakukan, kondisiku sesaat sebelum kematiaan menjelang. Pertanyaan mengenai mati: apa yg sudah aku pilih untuk aku jalani dalam kehidupan ini, berbuat baik&benar atau banyak buruknya? Dalam kondisi baik&benar atau buruk, hidupku akan berakhir?Bagaimana aku mengakhiri hidup? Kondisiku?, apakah bertahan dalam kebaikan dan kebenaran? atau kah sebaliknya?

Kita selalu berharap keselamatan, tapi terkadang enggan mengusahakannya dalam perbuatan. lebih seringnya jiwa tergoda berbuat keburukan, tampak indah dilakukan dibanding kebaikan. Sekali lagi perlu kita bertanya terhadap diri: Untuk apa hidup? Apa yg terjadi pada diri kita setelah mati? Dan jawabannya bukan sekedar teori.

 ‘Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS Al-Mulk [67]: 2).

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: