Kelembutan Jiwa

beauty alle's effect
beauty alle’s effect

Bi tahmid wa salam, Hujan sudah melingkupi pagi di Bogor. Menghirup udara basah lembab hujan di musim seperti ini sudah menjadi kebiasaan. Kicau burung di luar sana masih sahut bersahut terdengar, damai dan tenang. Kali ini ditemani suasana seperti ini, yg kelak akan aku rindukan, tulisan ini dibuat.

Ini tentang kelembutan jiwa, sesungguhnya Sang Pencipta (The Creator) Maha Lembut dan Ia memiliki nama indah yaitu Al Lathief. Sementara kita ciptaanNya ini, identik dengan sifat lemah, tiada berdaya tanpa kuasaNya, ringkih dan tiada mampu tanpa pertolonganNya. Sehingga apabila kita dengar, para shalihin berdo’a, “Yaa Lathifu ulthuftinna..” memohon kepadaNya yg memiliki segenap kelembutan agar berkenan berlaku lemah lembut terhadap kita. Inilah untaian do’a yg dapat kita pelajari. Adalah bagian dari moralitas, adab, akhlak, atau apapun lah itu namanya.

 Mari tengok bagaimana seyogyanya cara kita memohon pinta terhadap Tuhan, Sang Pencipta. Adalah dengan penuh kerendahan, penuh kesadaran, penuh kesantunan. Tidak lah layak kita ucapkan do’a yg mintanya banyak, nadanya segera, tergesa daan menyuruh dalam kalimat seruan, suruhan. Toh siapa kita?

Itu tadi sedikit ulasan mengenai do’a, komunikasi kita dengan Sang Pencipta. Ada lagi komunikasi kita terhadap jiwa yg dititipkanNya dalam jasad ini. Bagaimana kita berbicara dengan diri kita? Mendidik dan memelihara jiwa kita? Apakah kalimat-kalimat seruan, kata-kata marah, menyalahkan, menyudutkan, menghina, dan makian? Naudzubillah. Jika toh demikian, bagaimana mungkin kita dapat mengeluarkan kata-kata baik, benar lagi santun terhadap manusia lainnya? Terhadap diri sendiri saja tidak, yak kan?

 Ini ada sedikit cerita tentang seorang ayah, semoga dapat menjadi refleksi bagi hidup kita. Suatu malam ketika dini hari akan menjelang, sosok ayah ini sudah bangun dan mengambil air wudhu. Hari itu, putrinya pulang ke rumah, sudah lama sekali tidak bersua karena ia mengirimkan buah hati untuk studi di kota yg jauh dari rumah. Lepas berwudhu, sejenak ia hampiri kamar putrinya, melihatnya dalam lelap lelah, tapi tak urung niat, tetap ia bangunkan untuk menghidupkan malam. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga itu, ia dan isterinya, begitu pula dengan anak-anaknya untuk bangun bergantian, mendirikan qiyamul lail.

Putrinya belum juga bangun, ia tinggalkan saja untuk shalat lebih dahulu. Saat fajar awal akan masuk menjelang, sang putri terbangun, ia lantas segera bangkit mengambil air wudhu. Melewati ruangan mushola tempat sang ayah sedang larut dalam munajat dan do’anya. Senyap sebentar, kemudian terdengar kembali, suara sang ayah hilang timbul terdengar. Putrinya kemudian mendekat penasaran, hingga lantas ia mendengar dengan jelas, do’a ayah untuk dirinya. Menghajatkan kelembutan hati, keluasan pemikiran, kecerdasan nurani, akhlak dan keberkahan hidupnya. Demikian, tanpa terasa bulir air mata menetes, ia kemudian kembali ke kamarnya. Tak kuasa menahan haru.

Nah, demikian kisah di atas. Tentu kita dapat melihat, tanpa ditulis pun tahulah kita, bagaimana cinta dan kasih sayang tercermin dari hidup sang ayah. Keduanya, berasal dari kelembutan jiwa. Dan kelembutan jiwa dibangun, dibentuk dari pancaran keimanan. Sementara iman hadir dari harmoni kedekatan makhluk dengan Sang Khalik. Selebihnya susah dijelaskan, karena bicara kadar iman, urusannya langsung kepada Tuhan.

Oke, kita bicarakan sisi yg lain. Bicara kelembutan jiwa dari bagaimana cara kita mendidik dan menumbuhkannya. Pada surat Ibrahim ayat 24-26, dalam al-Qur’an telah Allah jelaskan. Adalah perumpamaan kalimat yg baik seperti pohon yg baik, akarnya kuat dan cabangnya menjulang hingga ke langit. Dengan izin Tuhannya, pohon ini menghasilkan buah setiap waktu. Sementara kalimat yg buruk seumpama pohon yg buruk, telah tercabut akar-akarnya ke permukaan bumi. Sudah barang tentu ia tak mampu tegak apalagi hasilkan buah, tidak sama sekali. Demikianlah Allah buatkan perumpamaan ini untuk manusia, agar kita selalu ingat.

Nah, kalau teman-teman pernah mendengar kisah bagaimana suku, penduduk asli pulau Solomon menebang pohon. Mereka melakukannya tidak seperti kita, cukup dengan datang dan mengelilingi pohon yg mereka inginkan. Lantas, mengucapkan kata-kata kasar, sumpah serapah, cacian dan hinaan. Berikutnya, dalam beberapa hari kemudian, zassh.. si pohon layu dan mati.

Satu lagi, untuk semakin meyakinkan teman-teman. Tentu pernah mendengar hasil penelitian dari seorang ilmuwan ini ya. Namanya Masaru Emoto, ilmuwan Jepang. Ia meneliti tentang kristal air. Menemukan rahasia bagaimana suatu molekul air dapat membentuk kristal. Air yg diberikan label kata-kata bagus, atau diucapkan padanya kata-kata semangat, terimakasih akan membentuk kristal yg indah. Sementara yg diberikan kata-kata cacian, ucapan maki dan menjatuhkan akan membentuk kristal tak beraturan, bahkan tidak terbentuk. Nah, lho bagaimana dengan manusia? Sementara kita tahu bahwa sebagian besar komposisi tubuh kita adalah cairan, air?

 Itu tadi tentang bukti ilmiah, sementara Allah sudah lebih dahulu jelaskan pada kita jauh sebelum penelitian dan fakta ini terungkap, masyaallah. Hikmahnya apa? Salah satunya adalah bagaimana kita kemudian dapat memperhatikan kata-kata. Baik yg diucapkan tatkala memohon dan meminta kepada Tuhan, kata-kata kita terhadap jiwa kita, terhadap manusia lainnya, pun dengan makhluk. Karena kita berada dalam lingkup semesta ini, yg saling bertaut, sunnatullah saling mempengaruhi.

Memulai kebiasaan mengucapkan kata-kata yg baik, mendengar yg baik. Namun bukan berarti menutup diri dan tidak mau terima masukan. Biar saja dikritik dengan bahasa orang, dengan kata-kata reaktif. Seusaha mungkin tetap bersikap proaktif, menanggapi dengan tenang, tersenyum, ucapkan tanggapan yg baik. Urusan sakit hati mah belakangan, hehe. Healing, atau proses penyembuhan, bagi muslim ada dalam urusan ia dan Tuhan. Semangat, bagi seorang muslim, ia dapatkan motifnya dari Tuhan. Ia tempatkan zona privasi, untuk urusan seperti ini, hanya terhadap Tuhan.

Ingat pelajaran kimia, tentang atom?

 Oke, coba kita ingat-ingat lagi deh, elektron itu jika semakin dekat dengan inti tentu akan makin stabil bukan? Analog dengan manusia, makin dekat ia dengan penciptanya, makin harmoni hidupnya. Pemimpin pun demikian, pilihlah pemimpin yg dekat dengan Tuhannya.

Demikian tulisan pagi ini, di pagi dingin yg menginspirasi. Maaf untuk kepaduan bahasa yg masih cukup-cukup. Moga besok lebih dari cukup  lebih baik lagi maksudnya..

Salam semangat pagi, Selamat menyusun resolusi 2014!

 Oya, ini ada lirik dari lagu Irfan Makki, kata-katanya bagus, tentu Judulnya I think of you. Mengisahkan suatu kehidupan yg baru, baru tiba di bumi ini.

When the seasons change

In the monsoon rains

when a newborn cries

In a mother’s eyes

I think of You

(Our Lord the most Merciful Creator of the universe Possessor of glory To whom perfection belongs No lord but Him No lord but Him)

Miracles Are everyday

The moon will come

As the sun will fade

Forever this way

Chorus: سبحان الله ، سبحان الله سبحان الله ، سبحان الله (Glory be to Allah Glory be to Allah)

A seed that grows

from a tiny shell

becom the tree

Feeding you and me

here for our needs

Iklan

2 thoughts on “Kelembutan Jiwa

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: