Pita dalam Gelas

kecapiborneo
pita dalam gelas

Sore gerimis di Bogor, aku baru saja sampai di masjid kampus, al-Hurriyah untuk menyerahkan berkas ujian di kantor saat sms itu masuk:

15.10 “Assalamu’alaikum kakak dimana?”

15.18 Balas: Waalaykumsalam di alhur, mau pulang, kenapa?

15.19 “Mau ketemu bentar kak… boleh?

15.30 Balas: boleh, kakak di kosan ini. Ika mau kesini? Kakak tunggu.

Namanya Ika, fakultas Kedokteran Hewan. Kami bertemu dalam lingkar ukhuwah asistensi Pendidikan Agama Islam (PAI). Semester ini aku memang jadi asisten, sebagai mentor untuk kelompok Ika ini. Sore tadi dia datang ke kosan aku, hanya mengembalikan jilid PKM yg kemarin dipinjam.

Seperti biasa berjumpa, aku salamin dan bertanya tentang kabar. Adik ini, lantas memelukku. Aku usap bahunya, aku dengar seguk tangis tertahan. Ia hanya bilang,

“Kak, Ika kangen”.

Sudah. Begitu saja.

Tak bertanya lagi, kangen ini padaku apa pada lingkar kelompok kami?

Singkat pertemuan sore itu, saat dia pulang, aku lihat ada sampul coklat kecil di plastik jilid PKM, sebuah surat. Intinya dia bilang, “Ika ngerasa punya kakak di lingkaran ini. Padalah aslinya Ika gak punya kakak kandung, tapi kakak udah kayak kakak sendiri. Selain tambah pengetahuan, dari asistensi ini Ika juga dapat keluarga baru.”

Demikian, sore gerimis di Bogor, baru saja menyentak kesadaranku. Meskipun menjadi teladan  tidaklah mudah, menjadi kakak bukan berarti tidak pernah berbuat salah. Kita tidak harus berhenti menjadi “Kakak”, saat semua perasaan kurang menghampiri diri. Justru dengan demikian kita lebih mawas diri, lebih semangat lagi memperbaiki kurangnya tadi.

Ada banyak manfaat saat kita dapat memberikan sebuah contoh kebaikan, karena pada posisi inilah seorang kakak ditantang. Kita tidak pernah tahu kebaikan seperti apa dan bagaimana caranya yg dapat sampai ke hati orang lain. Manusia hanya berteori saja dalam hal ini. Kita mungkin berharap agar kata-kata yg kita sampaikan dengan baik dapat tumbuh dan menjadi salah satu alasan bagi perubahan hidup orang lain, menjadi lebih baik. Kebaikan yg kita contohkan dapat menjadi mata rantai bagi kebaikan yg dilakukan orang lain. Terlepas dari itu semua, kita kembalikan urusan sesudahnya pada Allah.

Ini seperti pita dalam gelas yg setiap pagi aku ambil. Tak peduli akan terambil gulungan yg mana lagi pagi ini. Prinsip apapun yg tertulis di sana, itu yg akan aku coba jiwai dengan sepenuh hati, hari ini.

Demikian pula dengan contoh kebaikan yg kita usahakan. Tak peduli akankah diturut atau pun tidak, tidak usah kita bosan melakukannya. Menjiwainya dengan sepenuh hati. Karena sesungguhnya semua kembali pada Allah, ia pemilik hak prerogatif atas segala ketentuan. Oleh karena itu, jangan sedih dan jangan kecewa jika tak menemukan harapan sesuai dengan realita.

Teruslah berbuat baik, apapun dan bagaimanapun. Penuhi kursi-kursi kesempatan, untuk ambil bagian dalam kebaikan.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: