The Dreams come true

Bismillah, assalamualaykum:-)
dikasih tittle “the dreams come true” sebenarnya lebih karena lagi dengerin lagunya Westlife “Dreams come true” pas lagi buat tulisan ini.

Sabtu minggu pekan ini diisi dengan praktikum lapang mata kuliah interpretasi alam. Denger dari namanya aja mesti tereka-reka lah ya, perginya musti kemana, hehe. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, kita naik bareng-bareng, berangkat sabtu subuh dengan truk.

"Fresh Pine" pemandangan lembah pinus di sepanjang jalur perjalanan
“Evergreen” pemandangan lembah pinus di sepanjang jalur perjalanan

Yg seru dari praktikum ini, meskipun harus menempuh medan menanjak plus harus sering berhenti mengukur dan inventarisasi. Kesempatan untuk mengenal orang-orang baru, karena komposisi kelas aku lebih banyak dari arsitektur lanskap, sementara mata kuliahnya dari fakultas kehutanan dan aku Biologi, MIPA dan ini yg menyenangkan!:-)

Awal KRS an kemarin aku sempat mau ambil mata kuliah lanskap, sayang gak kebagian jatah kursi. So, berasa “dreams come true” juga karena sekelas bareng anak-anak lanskap juga disini, hehe. Jadi bisa banyak belajar.

Bahasan Interpretasi alam ini adalah mengenai eksplorasi segala potensi yg ada di alam dan erat kaitannya dengan kehidupan kita. Potensi ini kemudian diinterpretasi ke dalam bahasa teks, peta, tulisan, lisan, cerita untuk disajikan kepada pengunjung. Tujuannya agar semua orang dapat menikmati alam dari berbagai sudut pandangan dan nilai esensialnya.

Kalau aku sih memaknai mk interpretasi sebagai mk tadabur alam, hehe. Soalnya pengertiannya persis dengan yg dimaksud di atas, tinggal tambahkan pemikiran dan perenungan, menjadi proses mengambil hikmah. Ceritakan, tuliskan, perdengarkan maka akan jadi buah manfaat dari ilmu pemikiran.

Well, sampai di atas kami langsung dibagi jalur tempuh. Kelompok kami kebagian “canopy trail”. Ini jalur dengan keanekaragaman tertinggi. Meskipun berjalur tempuh pendek, kami harus berhenti hampir setiap 10 meter sekali, sementara total keseluruhan stasiun ada 100 buah dengan kemiringan medan yg tajam, wow!

Pembagian spesifik tugas pun jelas, aku dan Dwi bagian inventarisasi flora fauna di sepanjang kanan kiri jalan. Galih, Bagus, Alam, Rifqi dapat jatah mengukur kemiringan sudut, jarak, dan arah mata angin. Grace dan Naftalie mencatat, Dea buat sketsa kasar medan, dan Anes bagian dokumentasi perjalanan. Tim kami didampingi 1 asisten dari departemen konservasi/kshe, abang Gede dan 1 interpreter, bang Suhai.

Interpreter jalur "canopy trail"
Interpreter jalur “canopy trail”

Serunya, ada semacam tantangan, tugas kelas. Yaitu peta yg sudah jadi, harus bisa disambungkan jadi satu dengan skala yg sama, dari total 5 tim. So, beres sketsa medan langsung keroyokan buat olah data lapang sampai malam. Dari sini kerjasama tim, saling tolong itu kerasa. Sambil nge-joke bareng, berbagi pengalaman juga, akhirnya tuntas juga di jam 10 malam. Senangnya lagi, peta tim kami jadi percontohan, sebuah apresiasi menurutku. Balik ke mes bukannya langsung istirahat, malah ketemu Kak Ren, asprak. Berdua, masih ngobrol sampai larut. Karena si Kakak ini tertarik dengan kehidupan tanah Borneo, walhasil puas dah aku cerita sampai kami benar-benar tertidur.

kerja tim, keroyokan tugas
kerja tim, keroyokan tugas
proses penggabungan peta interpretasi
proses penggabungan peta interpretasi
peta interpretasi jalur "canopy trail"
peta interpretasi jalur “canopy trail”

Minggu pagi, tugas berikutnya adalah analisis sosial ekonomi (sosek). Berhubung tugas hari pertama lancar jaya, alamat nih besok bakalan bisa lebih cepat kelar. Cepat kelar, cepat pulang, woha!

Minggu,

Hari ini analisis sosek, so kita kudu turun ke pemukiman masyarakat setempat buat ambil data dengan wawancara beberapa orang. Gak harus semua, masing-masing kelompok ambil 2 perwakilan buat ngewawancarain. Alam si Jenius lanskap dan Anes sang jurkam lebih dulu turun. Serius, kayanya emang mereka pengen banget sosek hari ini lekas beres, haha. Aku, Dwi lebih milih jalan santai di belakang, sambil ngobrolin banyak hal, kenal Ina&Neil yang rame banget orangnya. Sesekali kami berhenti untuk ambil beberapa foto, pemandangan yang aduhai, natural manjakan mata, subhanallah.

tepi hutan menghadap lembah pinus: Neil, Iin, Ina
tepi hutan menghadap lembah pinus: Neil, Iin, Ina

Bercerita tentang pengalaman jelajah ruang dan waktu, 33 jam yg kami habiskan bersama. Ada banyak sekali pelajaran yg bisa didapat bila dalam merenungkannya. Bersama dengan orang-orang baru, ke tempat yg belum pernah dikunjungi sebelumnya, pergi dengan menempuh cara yg berbeda, melihat hal-hal yg tak biasa. Berjalan menyusuri perjalanan ini, membuat aku memandang hidup dengan perspektif yg berbeda. Siklus alam, segala mekanisme yg terlibat di dalamnya, berada di dalam superekosistem semesta akan menyadarkan betapa kecilnya kita. Meski demikian segala keputusan yg kita ambil ibarat jejaring energi, antara kehidupan kita dengan yg lain akan saling mempengaruhi. Memilih melakukan hal baik akan menentukan kepada apa dan siapa energi yg kita keluarkan akan bersambung, menyatu dalam ritme semesta.

berhampar dalam truk, kental aroma kebersamaan
berhampar dalam truk, kental aroma kebersamaan

Disini untuk kesekian kalinya aku belajar, terlibat dalam mekanisme di alam menjadi Laboratorium Percobaan berharga. Sekaligus menjadi Laboratorium Sosial yg tak kalah menariknya, salah satunya dengan mengenali karakter teman-teman seperjalanan. Ini sebabnya suatu eksplorasi begitu menarik bagiku. Belajar dari sebuah perjalanan, saat melihat rombongan semut yg hanya berjalan di atas ulir tanaman sejenis, tahulah bahwa jenis semut ini memanfaatkan cairan tumbuhan tertentu untuk hidup. Demikian manusia, lingkungan hidupnya menentukan karakternya, ada yg berhidung mancung, ia hidup di di daerah yg terdapat musim dingin, berkulit sawo matang yg tinggal di daerah tropis. Saat melihat buah aprika yg berserak tak utuh, tahulah perbuatan Owa Jawa memang seperti ini, senang membuang tanpa dihabiskan. Masih berguna dalam persebaran jenis tanaman ini, infasif ekosistem. Kadang kala dalam keseharian kita, tidak semua hal yg kita miliki diambil manfaatnya, prinsip “membuang” mengajarkan kita akan makna ikhlas. Tidak berat mengeluarkannya, tidak ada beban dalam melakukannya itulah ikhlas. Seperti “membuang”, tidak menghendaki untuk dimiliki diri sendiri, lagi. Melihat, meraba, mendengar, merasakan, berpikir kemudian merenungkan. Maka terhadap apa saja yg kita temui di dalam kehidupan ini, akan selalu menjadi guru terbaik bagi kita, belajar tanpa batas, di sepanjang hayat.

Peta Jalur Interpretasi
Sketsa

Feel free to be me: “Penting bagiku untuk mengetahui kemana aku pergi, siapa yg aku temui, apa yg ingin aku lakukan, dan untuk apa aku melakukannya” ini membantuku dalam menggambarkan sketsa hidup.

Demikian-lah secuplik tulisan mirip ‘reportase’, semoga dapat menjadi rekomendasi untuk senang melakukan perjalanan:-)

see you in the next..

Iklan

One thought on “The Dreams come true

Add yours

  1. Wah, senangnya nemu blog anak IPB juga..
    Di foto yang ke-empat (dari atas) itu ada foto bang Ridwan (kshe46) juga ya di samping kanan bang Gde (kshe46)..

    Salam kenal, Yusuf Muhammad, kshe47..

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: