a Cup of Tea

Sering ragu ketika melihat kapasitas diri yang tak selaras dengan bertambahnya tugas dan kewajiban. Butuh waktu dan energi lebih untuk melakukan banyak kerja dan usaha. Kian tak percaya diri jika melihat maksiat bertambal sulam setiap hari. Meski tak putus asa mengharap rahmat dan kasih sayang-Nya, tetap saja merasa tak pernah layak walau sekedar hamba yg taat.

Menengok ke relung qalbu, menengok kepada kesadaran yang kian menciut ditinggalkan azzam. Bagaimana mungkin menjadi sososok yang lantang meneriakkan imperium kejayaan! tapi ia tertinggal dalam mengejar gemilang keemasan, tak pernah muncul dalam sejarah, tak pernah berarti, tak member kontribusi,terhadap apapun..

Menyatakan pasrah tidak akan bisa, karena bara itu masih ada.

Berkata payah, tak mampu karena potensi itu begitu nyata.

Berujar kalah, apalagi, tak pernah terbersit bahkan berniat menyerah pun tidak pernah.

Mungkin perasaan ini sebagai imbas dosa yang tak elak lagi

Sebagai kafarat maksiat terhadap hati.

Mendebet pahala sudah pasti, tapi berlubangnya oleh maksiat ini yang harus ditambal permanen.

“Seperti sebuah cangkir, jika ia tidak berisi teh hangat, mungkin saja berisi udara atau yang lainnya, tapi tidak untuk kedua-duanya”.

Begitulah hidup, tidak ada yang optimal tanpa fokus yang jelas.

Fokus jelas pun tak akan pernah berarti tanpa tekad yang membaja, kerja-kerja nyata, serta kepasrahan dengan segala bentuk upayanya.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: