Feminine vs Maskuline

Ada pertanyaan yg menggugah pikir aku, saat bicara tentang gender, atau bahasa baiknya fitrah.

Apa yg dicari oleh seorang wanita dari keberadaan laki-laki, pun begitu sebaliknya?

Menjadi seorang wanita itu fitrah,

laki-laki pun demikian, karena sudah begitulah keseimbangan yg Allah beri.

Firman Allah, “dan di bumi  terdapat tanda-tanda (Kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Az-Zariyat: 21-22)

Benar sekali ini.

Menuju studi ilmiah tentang wanita:

dari sifat biologisnya,

Tubuh wanita memproduksi hormon oksitosin. Oksitosin disebut pula hormon mesra, hormon kelekatan sosial. Hormon ini diproduksi dalam jumlah banyak ketika dia merasa bebas merawat dirinya dan orang lain. Saat hormon ini meningkat jumlahnya, wanita pun merasakan energi lebih, kebahagiaan, keluwesan, dan ketertarikannya. Hormon ini merosot kadarnya saat wanita mengalami stress.

Tubuh laki-laki mensekresi hormon progesteron. Meskipun keduanya sama-sama memproduksi hormon progesteron dan estrogen, namun kadarnya berbeda. Pada laki-laki, progesteron diproduksi 20-30 kali lebih banyak. Testoteron mempengaruhi kesehatan secara umum sepanjang hidup, dan membantu membangun otot dan tulang yg kuat. Sementara stress dapat menurunkannya.

Keduanya sudah berbeda secara biologis. Ini memungkinkan respon terhadap lingkungan pun juga berbeda.

Salah satunya respon wanita dalam tekanan, stress:

Wanita cenderung ingin didengar dan diperhatikan. Bicaranya wanita bukan untuk membuatmu menyodorkan banyak solusi dan penyelesaian, melainkan ia sedang berusaha mengeksplor dan mendefinisikan apa yg sedang ia rasakan. Menyelanya saat bicara dengan komentar-komentar solutif bukan menjadi penyelesaian. Dengarkan saja, bentuk perhatian merupakan dukungan yg tepat untuk meringankan stress nya. Seringkali wanita menangis habis karena berusaha meluapkan emosinya, dengan begitu ia akan jaih lebih tenang. Begitulah, secerdas apapun wanita dalam menyelesaikan masalah, ia punya cara sendiri memenangkan perasaannya, tanpa melupakan fitrahnya sebagai wanita.

Pun sebaliknya,

Sekuat apapun laki-laki, saat tertekan, ia cenderung menjauh dan manarik diri, melampiaskannya dalam bentuk hal-hal yg membuatnya lebih rileks dan tenang. Ia perlu rileks untuk menenangkan diri dan merasa santai. Alih-alih berbicara mengenai masalahnya, ia justru melupakannya. Memberikan kesempatan untuk rileks, mengapresiasi dan menerima apa yg dilakukannya, atau memaafkan kelalaiannya merupakan cara yg paling suportif yg dapat dilakukan wanita. Setelah semua energi pulih, ia akan kembali siap berpikir dan menyelesaikan masalah. Beralih dari satu masalah ke masalah lain yg lebih mudah dipecahkan dapat membantu membangun kembali tingkat testoteron laki-laki. Dengan demikian, stress-nya akan berkurang.

Pada dasarnya, apabila pemahaman tentang karakteristik wanita dan laki-laki dipahami dengan baik. Maka komunikasi dapat dibangun dengan kualitas exelent.

Demikian pengaruh hormon tersebut terhadap wanita dan laki-laki di dalam merespon stress lingkungannya.

Hikmahnya apa?

Memberi dengan tulus merupakan penghasil oksitosin yg hebat. Tingkat oksitosin naik ketika kita peduli, berbagi, dan berteman tanpa mengharapkan apa-apa. Oksitosin meningkat bukan hanya ketika kita merawat orang lain tetapi juga saat kita merawat diri sendiri. Kadar oksitosin meningkat saat wanita merasa dilihat, didengarkan, dan dibantu kembali.

Testoteron meningkat saat laki-laki berhasil mencapai apa yg diinginkannya. Tingkat testoteron yg normal berkaitan dengan perasaan sukses pada laki-laki. Untuk merasakan hal tersebut ia perlu memberikan rasa puas, perlindungan, dan kenyamanan. Hal ini berkaitan dengan tanggung jawabnya terhadap wanita untuk merasa dibutuhkan.

Mari kita coba perhatikan bagaimana wanita tercipta, laki-laki tercipta dan bagaimana sifat-sifatnya. Keduanya berbeda, tapi justru dengan perbedaan tersebut Allah hendak beritahu kita, “mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka” (QS. AL-Baqarah: 187)

Ada kesalingan dalam perbedaan ini. Maha Suci Allah, yg tiada sedikitpun cacat dalam penciptaan-Nya.

Demikianlah,

Semoga kita dapat semakin baik lagi mengenali apa-apa yg terdapat pada diri sendiri dan memahami sesama.

Referensi: rujuk karya John Gray, Ph. D

Salaam everyone 🙂

Muslim muslimah (Gambar Intl.)
Muslim muslimah (Gambar Intl.)
Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: