East Borneo

Menulis lebih enak begitu ide-ide itu sedang berdesakan muncul. Ekspresi dan cita rasanya renyah, fresh from oven, haha.

Ok, cerita kali ini bertema, “Pulang”.
Selalu ada tempat di bumi ini, dimana kita merasa diterima dan dicintai sepenuh hati. Bagi yg belum menemukannya, tak boleh putus asa. Kita disuruh menemukan penggalan surga ini di bumi, kan? jika ingin menikmati surga yg ori nantinya, Hehe

Nah, aku kisahkan sejak mula berangkat ya.
Tak berubah, bangun di pagi kepulangan sungguh melegakan rasa, senang tentunya. Penerbangan masih jam 2.45 siang, santai aku beres-beres kamar kos.

Jam 8.30 nyaris baru ingat titipan ibu, oncom. Ada-ada deh ya, lekas aku ambil kunci motor dan pergi beli dengan teteh. Sekilonya delapan ribu, banyak banget dah tu. Siap berangkat, baru ingat lagi uang di saku nggak ada, haha. Mampir lah di atm, tapi memble. ATM raib tak tampak di dompet, adohai. Tragedi kecil ini, bikin aku balik lagi, bongkar-bongkar kamar kos.

Pada akhirnya, aku duduk manis antree bank, mau nggak mau harus cairkan uang saku dengan buku tabungan, puas.

Tepat jam 10, berbekal semangat 45’, salip kanan-kiri, pangkas jalanan Bogor yg macetnya nggak ketulungan, aku pulaang. Jam 11 di Bus Damri, jam 12.30 di airport walhamdulillah. Tak ada habisnya jika hendak berprasangka baik pada Allah, Dia lah yg paling cermat mengatur urusan hamba-Nya.

Tentang ini aku punya sedikit cerita, dulu saat aku kecil. Saat itu ayah hendak bepergian keluar kota, karena beberapa hal kemudian pergi terlambat. Beliau harus berada tepat di dermaga pukul sekian untuk menumpang ferry, menyeberang. Tapi bagaimanapun, qadarullah. Kecelakaan ferry, ada kebakaran yg mulanya kecil, tapi karena ferry itu mengangkut banyak kendaraan penumpang, merembet dan jadilah api besar. Ferry nyaris karam di tengah laut. Ah, andai saja ayah berangkat tepat waktu saat itu. Tapi beliau justru sedang berada di ferry lain, di belakang. Husnudzon, Allah selalu beri yg terbaik bahkan jika kebaikan itu tampak buruk, karena kita melihat dengan mata manusia.

Aku menunggu penerbangan hingga jam 3, boarding. Mengisi senggang waktu menunggu, pandanganku menyapu sekitar. Hilir mudik orang-orang dengan berbagai rupa, oma-oma, pramugari yg siap terbang, muda-muda bermata sipit dengan jeans pendek-turis, ada bule muslim lewat, berpeci dan bermata biru, ayah dan kereta baby-nya. Tepat disampingku, parkir sebuah kursi roda kosong yg kemudian membuat aku termenung-menung. Pikiranku jauh terlempar ke tanah Haram, kereta dorong dan kursi roda, relasi harmoni hadir antara anak dengan orang tua, kontras. Lain kali aku kisahkan.
“JT 0760 on boarding..”
Eksperien menakjubkan berada di ketinggian, diantara awan-awan seputih kapas. Jakarta tertinggal di belakang, makin kecil sebesar miniatur kota lalu hilang. Terakhir, kepulauan seribu di bawah sana masih tampak dengan perairan lepas pantainya yg padat oleh hilir mudik kapal-kapal. Selanjutnya hanya biru yg terhampar, 15 menit sejak lepas landas, aku sudah berada tepat di atas laut Jawa. Waktu sudah hampir memasuki ashar, aku bersiap-siap. Kesempatan ini, kesempatan menikmati free zone, perasaan bahwa kita bukan apa-apa, dan sudah semestinya patuh pada Kemahabesaran Allah azza wa jalla, shollu. Dengan awan yg berarak di bawah sana, bertasbih bersama semesta, dan aku hanyalah hamba.
Lepas ashar, aku memilih membaca buku dan murottal. Hingga memasuki daratan Kalimantan, sungai-sungainya sudah tampak berkelok-kelok. Ibarat jemari bidadari, bersambung ruas indah, terpecah menganak sungai yg jumlahnya tak hitung. Masih 30 menit sebelum burung raksasa ini mendarat.
Terminal udara Spinggan Balikpapan, letaknya tepat di tepi pantai. Membuat siapa saja yg menengok ke bawah merasa hendak mendarat di atas permukaan air, fantastis. Hari mulai senja, kerlip lampu-lampu kota sudah mulai tampak, rumah-rumah penduduk terhampar mengikuti tipologi daratan, berbukit-bukit. Memberi kesan tinggi rendah, lekuk lembah yg bercahaya. Perasaan yg sama membuncah, tak berubah meski berpuluh kali sudah aku menatapnya. Hingga burung raksasa ini mendarat sempurna, halus menyiratkan kecakapan sang pilot. Welcome home, selamat datang di tanah dayak, tanah kalimantan. Propinsi terkaya di Indonesia, terkenal karena bahan tambang, batu bara dan minyak yg menjadi penyokong energi negara, bersama status alam dan luas wilayah yg menjadi PR pemerintah di dalam pengelolaannya. Seulas senyum ironi, mengingat aku dulu pernah berjanji, pada lahan basah, pada kawasan riparian, mangrove, dan pada Ibis Karau-jenis burung langka dunia, bahwa mereka akan tetap eksis 10 tahun lagi.

InstagramCapture_35058161-c747-4c77-8e88-ca79380d7a7e_jpg

InstagramCapture_67839f79-2cee-4103-8acd-002b095f72dc_jpg
Sepenggal surga tropis, aromanya bahkan sudah tercium sejak apron terminal. Menyegarkan cinta akan tanah tempat aku lahir dan tumbuh besar. Terminal udara Balikpapan kali ini lebih megah, bangunan baru sudah mulai digunakan, sebelas duabelas dengan Changi airport milik Singapur. Menariknya 1/3 bagian interior lantai dasar didesain sebagai taman hutan hujan tropis, ragam jenis palem dan pepohonan menjulang tinggi di dalam ruangan, berasa in the jungle haha. Selesai ambil bagasi, di depan pintu keluar sana, ayah ibu sudah menunggu. Sambil tersenyum lebar aku melangkah, saatnya menjadi anak kembali:-)
Berbuka, sudah saja disuguhi kelezatan kudapan ini:

kudapan
Namanya bakwan, asli dengan udang di atasnya. Satu lagi es kelapa, bersama campuran alpukat dan nangka.
Kemudian Isya, berkumpul dengan keluarga, menyantap soto buatan nenek. Sedap lah:-)
Sebenarnya kalau harus diceritakan, betapa panjangnya halaman ini nanti. Antusiasku menganga lebar, menanti pagi tanpa kantuk sama sekali. Malam ini, menyaksikan awan berarak rendah, langit cerah, laut yg tenang berpagar hutan mangrove, bersama Swarna Nalina yg menemani aku menunggu matahari, jumpa pagi. Sampai disini, selamat beribur!
Paser Buen Kesong!*
Sayup kelana malam dan sepenggal lagu daerah ini mengantarkan pada ragam memori,:
Kandilo, kandilo
Loak yoo batuah engkat bay sampe tempondo
Mo Paser Belengkong ne kota iyo
Kerajaan yo, keo motana Paser
Catatan kaki:
* “Orang Paser berhati baik”, motto kebanggaan putra-putri Paser

Iklan

5 thoughts on “East Borneo

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: