Api

Setoples nastar dan susu soda, hey pagi:-)

Potongan cahaya matahari menepis pekat dingin pagi. Menerobos disela-sela daun, menimpa pagar berkayu bangkirai. Si Murai Batu unjuk merdu, meningkahi pagi pongah di teras rumah. Lebaran hari ke-2 di rumah nenek. Pagi ini aku pergi ke kampung acil lamsi di Sungai Siring. Perjalanan ini memakan waktu tempuh 1 jam melalui Air Putih, Tanah Merah, kemudian rumah acil, persis di perbatasan Kutai Kartanegara. Acil lamsi adalah anggota baru keluarga kami, menikah dengan paman, adik ayah.

Sungai Siring, dinamakan demikian karena beranak sungai, banyak yg tak hitung. Rumah-rumah penduduk dibangun dekat dengan sungai, termasuk rumah acil ini persis melingkah anak sungai. Dari atas teras dapur, kita bisa lihat bebek-bebek berenang berbaris. Persis di pinggir jalan rumah, pohon Kecapi sedang ranumnya berbuah berjuntai-juntai, sayang pohonnya tinggi sekali. Jadi, aku hanya mengambil beberapa buahnya yg telah gugur.

pohon kecapi
pohon kecapi
buah Kecapi
buah kecapi

Tiba kami di rumah, lekas kemudian naik ke teras berkayu ulin. Ulin disini lebih banyak dipakai oleh penduduk yg telah lama bermukim, kaum pendatang lebih suka bangunan beton dibanding kayu. Well, Kai sudah menunggu di dalam.

Kesempataan silaturrahim kali ini ditemani hidangan durian, rambutan, dan cempedak. Nah, kau tahu cempedak? Semacam buah nangka, namun lebih kecil lagi dan berbiji bulat. Rasa kulitnya nyaris menyamai daging jika diawetkan, lezaat. Besok lah aku bagi resepnya, hehe

santap siang-banjar
santap siang-banjar

Lepas makan siang, aku minta ayah mampir buat shalat dzuhur di Islamic Center Samarinda, konon ia masih bergelar terbesar se-Asia Tenggara, setelah Masjid Istiqlal Jakarta. Seperti Tajmahal rasanya, menaranya tinggi menjulang, ini masjid yg berdiri megah di tepi Sungai Mahakam.

Masjid-Islamic Center Samarinda
Masjid-Islamic Center Samarinda (telusur google)

Ramai kami pergi, sekeluarga. Asyik bercerita banyak, lupalah ayah buat belok, Islamic Center terlewat sudah, adohai. Persis di depan sana, antrian mobil berbaris hendak menyeberang jembatan Mahakam. Mobil berjalan merayap, dan disinilah insiden itu terjadi.

Tepat di seberang jalan, di kedai nasi goreng tampak api kecil menyala. Sekitar 5 menit mobil bergerak pelan saja, kami lihat api kecil itu membesar, beberapa pemuda yg sadar lekas mengambil seember air selokan, naas karena nyatanya api bertambah besar. Hanya butuh beberapa menit, api sudah naik ke lantai 2, menyeberang ke atap tetangga, kedai soto dan bengkel motor. Sampai di seberang Mahakam, asap hitam sudah mengepul tinggi. Kami lewat di depan kantor pemadam kebakaran, dan mobilnya baru saja keluar dari kantor, piaslah sudah. Blokir jalan dan panasnya suhu di tanah rendah, mungkin hanya menyisakan abu untuk dipadamkan. Hari raya kali ini, menyisakan sedikit kisah yg api.

kedai nasi goreng yg terbakar
kedai nasi goreng yg terbakar

Sore sudah. Sang bayu berkawan langit lazuardi, berwarna biru bersih berpagar hijau pepohonan. Panorama sore yg begitu indah, terlalu sayang jika dilewatkan.

Diselesaikan 16.32 WITA. Secangkir teh sore di kursi kayu,

and see you:-)

Catatan kaki:

Acil: tante

Kai: kakek

Iklan

8 thoughts on “Api

Add yours

  1. Pagar dari kayu Bangkirai? Wow, pasti sangat kuat dan awet.. Kata dosen, kayu Bangkirai termasuk kayu yang sangat kuat sehingga dijadikan alas rel kereta api.. Di Kalimantan masih banyak kah pohon Bangkirai??

    Murai batu? Wah, itu peliharaan atau di alam? Subhanallah.. Gak bakal bisa ditemuin di Jakarta tuh kecuali di dalam sangkar.. 🙂

  2. iya, kebanyakan dipakai masyarakat disini buat pagar dan kontruksi badan rumah, kuat.
    Murai batu yg di depan rumah nenek ya dipelihara, lgi dilatih buat kontes kicaunya.
    Kalau mau lihat langsung di alam, kudu masuk dulu ke hutan, hehe
    Thanks komennya kka

    1. Oh iya, kalau balas komentar sebaiknya via “balas/reply” biar masuk ke notifikasi pengirim komentar.
      Jadi kalau di wordpress pengirim komentar tidak bakal dikasih notifikasi kalau ada komentar baru di blog (yang ia komentari sebelumnya). Baru dapat notifikasi kalau ada yang “balas” atau “reply” komentar dia.

      Intinya sistem “komentar” dan “notifikasi” di wordpress beda dengan facebook.. 😀

      1. Suara burung Rangkong dan familinya memang terdengar nyaring. Apalagi kalau sedang terbang, “keluarga” Rangkong (Bucerotidae) mudah ditemukan. 🙂

        Ya, teman2 ane yang ahli burung pasti mudah menemukannya. Kalau ane mah mainnya ma reptil dan amfibi.

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: