Kolong Langit

Topik hidupku.

Akhirnya,..

kolong langit kali ini menarik sekali hingga menjadi topik dalam hidupku.

Cerita singkat, kolong langit ini terbentuk beberapa bulan yg lalu. Aktivitas di organisasi ekstra kampus mempertemukan aku dengan orang-orang ini;

Nur Maulana Yusuf

Dadan Hudanulhaq

Wahyu Nustantomo

Zaenul Arifin, serta manager kami, Herlin.

Mulanya aktor kami hanya 4 orang, satu-satunya pemeran wanita hanya ada aku. Tapi pagi tadi adik kelas kami, Rahmi Putri Dion yg dipanggil Ami, resmi bergabung dalam pentas Teater Kolong Langit. Berikut wawancara singkat dengan aku salah satu anggotanya:)

(anggap saja begitu ya, haha)

Tanya: Mengapa Teater ini dinamakan Kolong Langit?

Jawab: Karena kandang latihan kami di atap-atap gedung kampus, berada di puncak tertinggi kampus ini terasa seperti berada dekat dengan langit.

Tanya: Bagaimana sih teater ini terbentuk?

Jawab: Gagasan ini berasal dari kejemuan kita terhadap model pergerakan yg sebenarnya tidak melulu harus turun ke jalan. Kita bisa turun ke panggung, dapat duduk berdiskusi dan membuat produk jadi yg dapat menginspirasi orang-orang di sekitar kita untuk bergerak dan melakukan perubahan. Aksi yg lebih cerdas dan lebih relevan dengan kondisi pergerakan saat ini.

Tanya: Memangnya gagasan apa yg dibawa oleh Teater Kolong Langit?

Jawab: “Aksi yg menginspirasi”.

Pada akhirnya, mahasiswa kelak akan selesai dan pergi dari bangku terakhir, wisuda. Setelah masa ‘kampus’ berakhir, kita akan bertemu dengan realita kompleks kehidupan yg sebenarnya. Disini idealisme mahasiswa ditantang, apakah dapat bertahan melawan benturan realita? Jika ya, seberapa jauh dan seberapa lama? Kalau tidak, lalu apa yg salah dengan model pendidikan di kampus kita? Menghasilkan aktivis instan yg tak lama setelah wisuda sudah kehilangan taringnya. Mereka yg realistis kadang sudah pergi dan jauh dari idealis. Ada yg tetap idealis, namun tak pernah diterima, karena tidak mau berkompromi dengan realita. Banyak yg terjebak diantara idealisme dan realita kemudian terjepit dan tak dapat berbuat banyak. Demikianlah birokrasi dan sistem yg dibangun di dalam pemerintahan kita, dari desa hingga puncak pemerintahan, mulai yg berstatus negeri juga yg swasta. Lalu apa yg dapat kita perbuat?

Ternyata menerjemahkan cita-cita yg saat SD dulu ditanya Ibu Guru pasti menjawab, “Menjadi manusia yg berguna bagi keluarga, agama, nusa dan bangsa”. Baru disadari sekarang, bahwa jawaban cita-cita yg tanpa profesi konkrit ini adalah berat. Profesi anak negeri yg mengabdi adalah berat. Hoho

Kembali ke cerita kolong langit. Salah satu model yg dibawakan oleh teater ini adalah gambaran utuh benturan realita dengan idealisme mahasiswa, sehingga penonton dapat melihat letak posisinya dan menjawab pertanyaan, “apa yg akan aku lakukan jika demikian?”.

Demikianlah. Tentang Kolong Langit;

adalah tempat bakatku menemukan rumahnya.

tempat pemikiran kami menemukan ekspresinya.

alat bagi kita menunjukkan kesenjangan idealisme dan realita.

dan mungkin suatu model bagi aksi yg relevan berikutnya.

Nah, pagi tadi kolong langit tampil di depan newbie-nya kampus, angkatan paling muda. Yg paling menyenangkan adalah saat dapat menangkap ekspresi kaget, heran bercampur tanda tanya, saat mereka tampak mampu mengikuti alur cerita, menjawab tanya pada dialog-dialog yg dimainkan, untuk beberapa adegan dengan renyah tawa, ditutup dengan anggukan paham terhadap nilai-nilai yg kami sampaikan juga riuh tepukan tangan.

Selesai pentas, sekali kami berkumpul mengucap hamdalah. Ini adalah saat-saat paling penting karena kami harus mampu menegaskan kembali niat awal. Bahwa kolong langit bukan apa-apa tanpa campur tangan-Nya.

Selesai.

Salam semangat berkarya!

Iklan

2 thoughts on “Kolong Langit

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: