Dua bagian hati

Salam everyone:-)

Menyenangkan sekali malam ini. Punya kesempatan berkumpul dengan teman-teman dekat. Banyak cerita dari seminggu yg lalu padahal, tapi sayang berhenti di pikiran karena belum sempat dituliskan. Nah, aku ceritakan yah..

Tentang gagal dan penolakan.

Pasti semua pernah mengalami ini kan? Bagaimana kamu menyikapinya?

Anggap biasa kah?

Atau lupakan? Karena ini kejadian yg memalukan,

Menghindar mungkin? Karena memikirkan gagal saja sudah merasa susah.

Atau hadapi saja dengan tenang?

Ambil sampel gagal deh, seminggu yg lalu aku pergi turun ke jalan untuk peringatan hari tani. Bersama dengan teman-teman se-kampus, kita pergi ke bundaran HI. Aksi pertama dengan bagi-bagikan bibit Caisim dan tomat kepada para pengguna jalan. Sejenak dipikir mudah, toh tinggal bagikan saja. Tapi apa? Gak semua orang yg ditawarkan bibit mau terima, woh. Beberapa penolakan tanpa alasan lagi, menyedihkan bukan? Hehe

Berikutnya, masih sok pd nih ya. Aku naik ke atas mobil sound system buat menyumbang orasi. Lupa kalau konten kajian terakhir belum dikuasai, dan akibatnya zoong. Gak banyak yg bisa aku perbuat dengan microphone, wahaha. Gagal deh, kasih orasi yg menggemakan inspirasi.

Akhirnya aku balik, ambil bibit Caisim dan tomat, coba bagikan lagi. Kali ini dengan meletakkan kategori pengguna jalan, memilah pengendara yg hendak diberi penawaran, lalu memilih untuk memberikan, timing pas, ucapan selamat hari tani, senyum dan terima kasih. Tidak lagi ada penolakan, tidak untuk kesekian kali. Aku tersenyum mengapresiasi diri sendiri.

Evolutionary Stable Ecology.

Dua hari kemudian di kelas evolusi, aku memahami konsep ini. Tentang proses evolusi yg terjadi untuk menstabilkan ekosistem. Bahwa setiap populasi makhluk hidup memiliki cara unik untuk tetap bertahan hidup, struggle for existence.

Ternyata pola ini berlaku sangat rumit untuk populasi manusia, tentu. Dan hey, bicara populasi bukan berarti perubahan bagian tubuh seperti sisik menjadi bulu-bulu burung, membuat reptil menjadi bisa terbang. Atau monyet menjadi manusia, pemahaman primitif ini sangat perlu di del. HAPUS, wahaha.

Ada 3 poin yg begitu aku tekankan, pertama tentang penolakan. Kedua, gagal. Ketiga, adaptasi. Penolakan itu fakta, selalu ada. Bahkan Rasulullah saw, dengan keteladanan sempurna saja masih menerima penolakan dari kaumnya. Gagal? Siapa sih yg tidak pernah gagal? kesemuanya hanya proses pembelajaran, adaptasi kita terjadi secara alami untuk mempelajari penolakan dan kegagalan, dan ini yang akan menjadi treatment kesuksesan, kemenangan.

Oya, sebenarnya yg gagal menawarkan gak cuma aku doang, teman sebelah juga. Cuma, yasudahlah, tertawakan saja dalam hati, haha.

Nah, barusan duduk ditraktir jus sama teman lama.

Ada satu hikmah pemungkas waktu, ini tentang dua bagian hati.

Berikanlah tempat yg sama, terhadap semua yg mendukungmu dan semua yg menolakmu.

Karena yg mendukungmu menguatkanmu, sementara yg menolakmu akan semakin meneguhkan.

Berikanlah tempat yg sama, pada hati yg sama.

Dengan cara itu kau akan mampu memimpin keduanya.

Well, struggle for existence, dan yg kalah akan punah. Sunnatullah.

Demikianlah pendidikan penolakan dan gagal di minggu ini. Semoga kita miliki mental-mental yg tidak takut ditolak, serta berani menghadapi kegagalan. Dengan begitu, kita lebih dari sekedar siap untuk menerima dan mengalami kesuksesan. Bermental pemenang. Sadar sekarang? Maka mendidik mentalitas pemenang itu memang harus dari sekarang.

~End

Salam tengah malam

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: