Berhala Sosial Media

“Perkenalkan, namaku sosial media..”

Aku dibuat dengan elegan oleh pengikutku yg paling setia.

Aku, diukir dengan indah dan diberi tambahan aksesori yg canggih dan mewah.

Kehadiranku lekat di hati para pecinta dunia.

Ibarat makanan, aku telah menjadi kebutuhannya yg paling mendasar.

Untuk berinteraksi dengan sesama, wadah komunikasi, dan menjalin relasi.

Aku juga dicipta sebagai tempat menempelkan harapan dan mimpi-mimpi.

Tempat gratis berkeluh kesah dan kebebasan berekspresi.

Aku dinding, tempat semua pernyataan penting dan tidak penting ditempelkan.

Tapi Aku, mengabulkan semua keinginan anak manusia untuk merasa diakui dan dikenali, diperhatikan dan dicintai. Aku mengabulkan semua hajat mereka dengan membagikan status kepada seluruh jaringan sosial manusia yg mereka inginkan. Aku membuat mereka merasa butuh terhadapku, bergantung pada kehadiranku. Maka mereka semua adalah hamba-hambaku. Sementara aku adalah tuhan yg merasa tak perlu pengakuan rububiyah. Cukup mereka beribadah kepadaku dalam status apapun yg mereka mau.

Aku dicipta sebagai tempat syahdu nan khusyu untuk menghabiskan waktu, padaku para penghasut-penghasutku yg paling sholeh bertemu.

Sementara setan-setan mereka berteriak bahwa aku adalah alatul lahwi, alat yg melenakan dan membuat lupa dengan akhirat.

Tapi tak jadi soal, para pembesar-pembesarku akan melumat mereka dengan fitnah dan makar.

Aku, sosial media. Tuhan, pada hati pencinta dunia aku bertahta. 

Sialnya, meski aku adalah kenikmatan surga, tapi tak pernah tercipta sempurna. Banyak juga yg menggunakanku untuk kepentingan jahat, mengajak orang untuk berbuat baik. Baik ini ada dalam ukuran setan-setan pendakwah sana.

Ini pun aku tak perlu khawatir sebenarnya, aku punya tombol “like” yg bisa juga menjegal niat mereka. Aku mainkan aksesori dari relawan-relawan baik hati, “likers”. Jadilah mereka besar hati, tinggi rasa, dan sedikit-sedikit kemudian tunduk pada kekuasaanku. Maka bertambahlah pengikutku.

Senjataku banyak, sebanyak aksesori yg aku punya. Modelku banyak, juga sebanyak desain yg telah kubuat menjadi alat peraga. Baitullah-ku ada pada kemudahan akses, pada layar dihadapanmu, pada gadged canggih, dan minitab yg kau bawa kemana-mana.

Kitabku tidak pernah dituliskan, ia justru lahir dari keinginan-keinginanmu sendiri. 

Kiblatku adalah nafsumu, sementara banyaknya waktu yg kau habiskan bersamaku adalah zakat, infak, dan sedekah bagiku.

Aku terus bertambah kuat, bertambah hebat, bertambah besar pengaruhnya terhadapmu manakala kau semakin mencintaiku.

Aku lah berhala itu,

Berhala yg tak mudah kau hancurkan seperti Ibrahim as menghancurkan moyangku dulu.

Virtual, tak mampu kau pegang, pun tak sanggup kau lawan hasutanku kecuali dengan iman.

Tulisan kali ini berangkat dari keresahan diri, yg tiap kali scroll media sosial hampir selalu mendapati keluhan dan harapan-harapan yg meski terbungkus dalam do’a. Tapi mengapa di halaman sosial media?

Kecuali alasan yg bertujuan mengajak dan mencontohkan kebaikan.

Salam santun, dan keep istiqomah:-)

Iklan

2 thoughts on “Berhala Sosial Media

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: