Catatan bergizi: Halo dunia pasca kampus :)

“Mau tidak mau aku akan sampai pada titik ini. Saat aku dihadapkan dengan begitu banyak pilihan. Aku harus memilih satu yang paling tepat menjadi prioritas hidupku. Penuh kemantapan hati menuju gerbang masa depan. Disaat tanggung jawab menjadi syarat mutlak kedewasaan”.

~ Endar Widiah Ningrum

Refleksi

Life line, garis waktu yg begitu cepat mengantarkan kita kepada babak hidup selanjutnya. Rasanya baru kemarin jadi anak asrama, sekarang masuk fakultas, sebentar sibuk dengan laporan, project, dan tugas-tugas, berikutnya skripsi, lantas? Taraa.. wisuda! Selamat datang di dunia pasca kampus. Sudah siapkah kamu?

Apa yang perlu disiapkan? Master plan masa depan? Tentu!

Berikutnya, apa yang akan kamu lakukan? Bekerja? Lanjutkan studi? Atau menikah?

Nasihat gratis, dahulukan yang menjadi prioritas hidupmu. Apakah itu karir, studi, atau keluarga?

Passion dan kontribusi

Menemukan passion adalah seperti menemukan harta karun yang berharga di dalam hidupmu. Jadi passion adalah panggilan jiwa. Fred Gratzon, penulis peraih international bestseller, mengoceh tentang hal ini, “Betapa menariknya hidup jika anda dibayar tanpa bekerja”. Tahu maksudnya? semua orang pasti suka dibayar untuk melakukan apa-apa yang menjadi kesenangannya, panggilan jiwanya, dan itulah passion.

Well, bagaimana dengan kontribusi?

Jika tadi kita berbicara tentang passion, dengan apa yang menjadi minat. Maka kontribusi berbicara tentang, untuk pekerjaan apa kita dilahirkan? Ada baiknya kita berpikir menyelaraskan passion dengan kontribusi. Keselarasan diantara keduanya berarti meluaskan manfaat dengan cara yang paling kita sukai. Sehingga definisi kerja dapat berarti, cara kita berdedikasi sepenuh hati.

Prioritas hidup

Kalau bagian ini sarat subjektifitas penulis tentunya. Lanjut kuliah? Kerja? Atau menikah? Saya akan hidangkan pemaparan singkat satu-satu. Kamu tentu pernah mendengar kutipan ini, “every man is a single person, but women is a nation” iya kan? Tersirat secara tidak langsung bahwa laki-laki dilahirkan untuk memimpin, sementara wanita melahirkan dan mendidik para pemimpin. Jika demikian, tentulah kualitas pendidikan menjadi sangat penting bukan hanya untuk salah satu, tapi untuk keduanya, laki-laki dan perempuan. Sepakat?

Baik, tadi sebelumnya kita sudah bicarakan tentang dedikasi, kontribisi dengan bekerja by passion. Perlu kita sadari bahwa rentang usia produktifitas kita berada klimaks pada usia muda. Usia berapa? Data BAPPENAS menyebutkan usia produktif berada pada usia angkatan kerja, yaitu 15-64 tahun. Adapun puncak usia reproduksi produktif, Wanita Usia Subur menurut BKKBN berada pada rentang 20-29 tahun (laki-laki 20-30 tahun). Sementara usia produktif belajar bisa dipatok pada syarat usia maksimal pendaftaran program doktor, yaitu 40 tahun. Prioritas? Sepertinya akan mudah terbaca.

Usia muda disebut sebagai usia produktif karena berpotensi besar untuk melejitkan prestasi dan karya. Oleh karena itu, keberlanjutan studi memberikan kesempatan bagi pikiran agar tetap menyala karena selalu update dengan keilmuwan, profesional di bidangnya, memiliki kompetensi di dunia kerja, sekaligus membuka peluang untuk memiliki kualitas mumpuni di dalam mendidik generasi berikutnya. Dengan demikan, melanjutkan studi menjadi hal yang penting untuk diprioritaskan. Masuk akal bukan?

Terakhir, Rasulullah saw memberikan ukuran bagi kita, pemuda agar tidak lupa diri. Bahwa sunnah yang telah dicontohkan beliau sama sekali tidak menyalahi fitrah manusia. Ada begitu besar tantangan bagi orang usia muda, ketertarikan dengan lawan jenis adalah salah satunya. Tidak dipungkiri bahwa bertebarannya status galau di jejaring sosial juga berangkat dari hal tersebut. Mau tidak mau harus kita akui bahwa kegalauan seperti ini menurunkan produktifitas, benar? Oleh karena itu Rasulullah saw menyeru kepada pemuda, “manistatho’a minkumul baa’ah,..” (HR. Bukhari) barangsiapa yg telah mampu menikah, maka menikahlah. Solusi solutif berbingkai syariat islam.

Hikmahnya? Tak hitung. Ada banyak contoh pasangan halal muda-mudi yang sukses melanjutkan studi. Saling mendukung dan menyemangati, saling bahu-membahu mendaki puncak prestasi. Keputusan untuk lebih dahulu menyiapkan rumah tangga,  lebih dahulu berkompromi dengan masa depan, lebih dahulu membangun karir bersama. Sehingga tidak ada lagi alasan untuk menunda sukses bersama, dan jangan heran jika mereka lebih dahulu sukses di usia muda. Prioritas? Tentu sudah terbaca 🙂

———————————————————————————————————————————————-

(By the scene)

Salam everyone 🙂

CREATIN. Hari ini acara keputrian SERUM-G, rohisnya anak Fakultas MIPA, dan minggu lalu sempat nulis buat acara ini. Awalnya kaget juga waktu disodorkan tema ini, “Dunia Pasca Kampus: Kuliah, Kerja, Nikah” uwow bangets. Langsung deh masuk ke ‘gua’ dan merenung. Ternyata duduk di tingkat akhir betul-betul diujung tanduk rasanya, sedikit kepleset-lulus deh, dan itu artinyaa: Kau berada di dunia pasca kampus!

Well, disini lah aku post, moga ada yg tercerahkaan (selain diri sendiri maksudnya), hehe

Dan maklum kalau masih kurang tajam bahasannya, soalnya masih baru akan mengalami besok hari 🙂

Salam inspirasi!

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: