Milestone

Demi (angin) yang menerbangkan debu
dan awan yang mengandung (hujan)
dan (kapal-kapal) yg berlayar dengan mudah
dan (malaikat-malaikat) yg membagi-bagi urusan
sungguh, apa yg dijanjikan kepadamu pasti benar
dan sungguh, (hari) pembalasan pasti terjadi
~Az-Zariyat: 1-6


Milestone


Sungguh al-Qur’an adalah runut baris baca yg membuat terpesona. Siapa yg tidak heran, bagaimana mungkin Yg mengatakannya dapat demikian “tahu” mengenai kehidupan dan segala sesuatunya, pernah terjadi, sedang berlangsung, atau masih dalam prediksi, yg lamat waktu justru terbukti, dan benar. Kecuali Ia yang berkata demikian adalah Maha, atau memang Ia Yg menciptakan kehidupan itu sendiri.

Manusia memiliki kemampuan menganalisis, ia diberkati dengan akal sehingga mampu mensintesa pengalaman empiris menjadi pengetahuan. Tidak heran mengapa Umar ra, salah satu contoh dari sahabat Nabi saw, terduduk lemas ketika adiknya Fatimah, membacakan ayat-ayat dari al-Qur’an. Akalnya menolak hipotesa terhadap citra Nabi saw, terhadap ayat yg ia dengar tentu bukan penuturan manusia, hatinya mengiyakan, keyakinannya terhadap teori yg telah ia bangun runtuh, lantas hadirlah iman. Pengalaman empiris bagi Umar ra saat ia mendengar ayat al-Qur’an, kemudian mentransformasi pengetahuan baru, pemahaman baru, hikmah yg mengantarkannya sehingga beriman. Atau sering kita simpulkan dengan kata, “hidayah”, dan ia memperolehnya.

Pertanyaannya, apakah mungkin Umar ra melakukan ini jika tanpa berpikir?

Dia memberikan kebijaksanaan kepada yang Dia kehendaki, dan barang siapa yang telah diberi kebijaksanaan, sesungguhnya telah diberi kebaikan yang melimpah, namun tidak ada yang mengetahuinya kecuali orang-orang yang berakal”. QS. Al-Baqarah: 269

Ayat diatas mengungkapkan betapa Allah swt muliakan orang-orang yg mau menggunakan akalnya untuk berpikir, Ulul albab.

Berpetualang di alam nalar

Untuk menemukan pengetahuan baru. Ini jawaban masuk akal untuk pertanyaan, fungsi perguruan tinggi? Kita diberikan “cerita-cerita” mengenai ilmu yg telah ditemukan, kemudian diajak membuktikan teori dengan berbagai percobaan, tidak selesai sampai disini. Seharusnya kita belajar mempertanyakan lebih jauh, dan itu hanya terjadi jika muncul rasa penasaran, benar? Dan sepanjang yg aku ketahui, orang yg cukup penasaran pada umumnya memiliki cukup pemahaman terhadap ilmu tersebut. Jadi, ilmu bukan merapal teori, tentunya.

Petualangan di alam nalar berangkat dari rasa ingin tahu, penasaran, sehingga mempertanyakan banyak hal. Ini banyak membantu kita menyusun dugaan-dugaan sementara, menemukan analogi, berasumsi. Kemudian percobaan-percobaan dilakukan disepanjang perjalanan untuk membuktikan kebenaran dari dugaan sebelumnya. Hasilnya, kita memperoleh pengalaman empiris, berangkat dari sini kita lalu menjadi, “tahu”. Data empiris ini lantas menjadi titik tolak untuk melanjutkan petualangan menduga-duga tadi, yang pada akhirnya mensintesa pengetahuan baru.

Pengetahuan baru ini masih diuji, maka dari itu kita dikenalkan dengan metodologi ilmiah, cara menguraikan mesalah dan penyelesaiannya. Bedasarkan pengujian inilah pengetahuan baru tadi dapat menjadi ilmu, suatu teori yg sah dan dipercayai. Sampai kapan? Sampai ia tidak terbantahkan.

Berpetualang di alam nalar, penuh tantangan, tentu saja. Dan lebih seru memang jika pembuktiannya melibatkan petualangan yg sebenarnya, mengeksplore dan menemukan.

Milestone

Bagian ini hanyalah ungkapan, setelah melihat mahasiswa tingkat akhir yg sedikit pusing dengan penelitiannya. Jadi isinya sekedar kata semangat sih, kalau-kalau ada yg butuh di luar sana (ceritanya bagi koleksi).

Pas nggak inget jawaban soal ujian atau mutung liat nilai di krs: kata  Pintar itu bukan dia yg lulus ujian dgn nilai terbaik, karena ujian kuliah nggak ngetes kepintaran, tapi daya ingat. #moveOn

Giliran keyboard nggak menghasilkan banyak kata: @abdurarsyad karya yg baik itu lahir dari resah. Tulislah thesis dengan keresahan, ketakutan, dan kesedihan. Jangan takut untuk bersedih.

Atau ketemu jalan buntu, sementara status quo, nothing progress: @xxxx Hasbunallah wa ni’mal wakiil, ni’mal maula wa ni’man nashir. Udeh pasrah ajee, kaga ade yg bisa lu kerjain dengan tenaga sendiri, ada Allah. Minta bantuan sama Dia YMK.

Terakhir, saat sadar betapa banyaknya yg nggak kita tahu, atau nggak ada gunanya pun kalau kita tahu itu: @TheDeenShow look at the picture!

Mungkin Ia hendak selamatkan kita dari ilmu yg tiada berguna, berprasangka baiklah dan terus belajar.
Mungkin Ia hendak selamatkan kita dari ilmu yg tiada berguna, berprasangka baiklah dan terus belajar.

Satu lagi, video favorit!

Selesai.

Salam semangat dari jauh!

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: