Kemanusiaan: Hitam putih kampus

Hai.. hai..

Semester baru, semangat baru? tentu..!

Terima kasih sudah berkunjung ke halaman ini, tulisan ini untuk menemani ayunan langkahmu kembali ke kampus, belajar? Hmm

Supaya kita berangkat dengan semangat tempat kita sampai

Ada hal-hal yg tidak otomatis kita bawa sebagai warisan genetik, yg perlu kita pelajari dan mengerti sendiri. Tanggung jawab kita sebagai manusia misalnya. Seberapa banyak dominasi waktu dan energi yg terpakai untuk kepentingan egosentris? Sebenarnya ini seperti membalikkan alasan dengan penggunaan kata “becus” dalam mengurus diri sendiri.

Tulisan ini yg agaknya kurang hemat kata, akan mempermasalahkan arti kata, “becus”, silahkan lanjut baca kalau minat hehee

Ada yg berbeda ternyata, dalam penempatan arti kata “becus”. Bukan untuk pernyataan begini, “urusan sendiri tak becus, bagaimana mengurus tanggung jawab lain”.

Padahal kemampuan yg ditanamkan pada saat encoding DNA kita jauh lebih besar peruntukannya daripada sekedar untuk, “mengurus diri sendiri”. Sehingga ini pun menjadi salah satu alasan tak terbantah, manusia sebagai kandidat terkuat untuk mengemban tanggung jawab membangun peradaban bumi.

Meluruskan paradigma, bahwa kita diciptakan untuk satu tujuan, itu jelas. Bahwa kita dilahirkan dalam waktu dan tempat tertentu untuk suatu tujuan. Menemukan apa yg menjadi maksud Tuhan adalah mendapatkan apa yg menjadi panggilan jiwa. Analog ini seperti berada dalam ekspedisi untuk sampai pada suatu tujuan. Sementara urusan-urusan yg perlu diselesaikan disepanjang perjalanan adalah proses, nyaman atau tidak, kita harus terlibat di dalamnya. Jadi becus atau tidak bukan untuk menyebut urusan diri sendiri, tapi urusan yg menyangkut tanggung jawab kita sebagai manusia, entitas yg tidak akan pernah lepas.

Kemanusiaan, agaknya judul di atas terlalu berlebihan ya. Maksudnya sih, itu untuk menghubungkan kita terhadap tanggung jawab sebagai pribadi utuh. Bahwa ada hak dan kewajiban mengikat pada predikat manusia, hubungannya dengan diri sendiri, keluarga, tetangga, klan atau suku, masyarakatnya, bangsa dan tanah airnya, sebagai umat beragama, juga umat manusia dalam arti luas.

Nah, praktis jika tersadar menyebut tak becus urus diri sendiri, periksa lagi. Mungkin sedang silap makna, menyamakan tujuan dengan pencapaian yg semakna dengan kesenangan, semu saja. Bisa jadi ini alarm bahwa kita sedang kehilangan tujuan.

Cukup perlu diingat, benar bahwa sebaik-baik manusia adalah yg paling bermanfaat bagi sesama. Tapi ternyata makna ini tidak sesederhana frase katanya. Yg berada pada puncak hirarki manfaat adalah yg terbaik, apakah orang tersebut sadar atau tidak. Yg paling banyak meninggalkan jejak manfaat adalah yg terbaik, terlepas ia menyaksikan atau sudah tidak lagi. Jadi agar dapat meluaskan manfaat, tentu kita perlu berhubungan dengan banyak manusia. Melihat contoh, Rasulullah saw, puaslah akal kita mengapa beliau disebut sebagai teladan yg sempurna.

Jadi berbuat baik itu tidak sederhana efeknya, meski Tuhan menyederhanakan caranya supaya kita mudah untuk mengusahakannya.

Dan tekadang kutipan mutiara itu juga tidak selalu benar, jadi perlu ditimbang-timbang juga makna dan penggunaannya, contoh, “maybe silent is golden” bantahannya, “being communicate is to share your golden”.

Sekian. Kalau-kalau pembaca ada yg tidak sepakat, kurang setuju, silahkan pos komentar. Sejujurnya ini hanya sindiran buat diri sendiri, hehe

Salam santun 🙂

dan Semangat memperbaiki diri 🙂

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: