Life Super Flat

Salaam everyone ūüėÄ

Kali ini ingin cerita tentang rutinitas hidup yg super singkat, dengan keboringan klimaks yg nyaris membuat setiap dari kita serupa mayat yg pergi ke stasiun kereta, pergi menunggu gerbong eksekusi takdirnya. Hidup seperti apa itu?

Hidup tanpa memilih hidup.

Bagaimana bisa terjadi?

Bisa saja, saat mengalami disorientasi hidup, ini aku tak dusta. Saat kesadaran kita pingsan, hingga lupa “melakukan apa untuk tujuan apa”. Atau saat meyakini tujuan tapi sama sekali nggak bergerak menuju arah yg ¬†benar.

Taunya bagaimana?

Saat mengeluhkan ini itu menjadi mudah, hati yg sempit dengan pikiran rumit.

Ketika perlakuan orang lain selalu dianggap menekan dan sama sekali membuat kita kepayahan.

Atau penuh laga, percaya diri bahwa akan dapat melakukan apa saja. Semena-mena membayangkan sukses itu gampang saja, karena toh sudah di depan mata.

Ini hidup yg lupa, bahwa kaidah berjuang sama sekali nggak berakhir selama tarikan nafas masih membutuhkan kalori. Bahwa teori usaha yg sama dengan hasil, tapi nggak melibatkan Dia yg menetapkan takdir. Maka sudah payah rasa hati, lelah pikiran, sakit pula raga, tapi nggak menegak arti kepuasan. Mengapa?

1. Penguasa alam semesta ini tidak ridha terhadap apa yg kita perbuat, atau 2. Kita tidak sedang ridha dengan apa yg ditetapkan oleh-Nya.

Kami menceritakan kepadamu kisah yg paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu termasuk orang yg tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 3)

Jungkir balik pelaku hidup yg dikisahkan dalam al-Qur’an sebagai kisah paling baik, dan ini kisah tentang hidup Yusuf as. Yusuf as¬†hidup dengan nilai-nilai kebenaran di tengah-tengan¬†masyarakat yg tidak mengenalnya, kemudian ia mengenalkannya, dan bersabar di dalam kesungguhan terhadapnya.

Bermula dari mimpi Yusuf yg melihat 11 bintang, matahari dan bulan bersujud padanya. Namun kemudian ia harus menghadapi makar saudara-saudaranya, cemburu membuat mereka buta akan baik dan jahat. Dusta saudara-saudara Yusuf kepada Yaqub as, sementara takdir Yusuf beralih menjadikannya budak yg ditemukan musafir, Yusuf dijual sebagai budak di pasar.

Hidupnya berganti menjadi anak dari seorang Amir Mesir, cindai mata kesayangan Ibu angkatnya. Kemudian ia tumbuh menjadi pemuda yg rupawan baik akhlak dan rupanya. Sekenario takdir mengantarkannya pada ujian akan fitnah wanita, pada ujian kesabaran dengan masuk ke penjara, pilihan yg ia buat sendiri. Yusuf belajar, ilmunya bertambah dan berkembang, sampai waktu kemudian mengantarkan 2 terdakwa dari istana yg bermimpi akan anggur dan roti. Dengan karunia ilmu yg sama, Yusuf menakwilkan mimpi raja.

Setelah hari itu, kehidupannya berganti menjadi orang yg berkuasa mengelola dan mengatur urusan perbendaharaan negara. Ia sampai pada masa dimana usia telah mengubah rona wajah hingga saudara-saudaranya yg datang ketika itu sebagai orang yg membutuhkan santunan, tidak lagi mengenalinya. Sementara Yusuf mengingat dengan baik saudara-saudaranya, ia tidak menemukan Bunyamin, adik kandungnya diantara mereka.

Yusuf menyusun strategi dan rencana mendatangkan Bunyamin, menjebaknya agar dapat tinggal dan bertemu dengannya di istana, mendatangkan ayah yg begitu dicintainya. Hingga di akhir dari usianya, genap Yusuf as berdo’a memohon,

¬†“Wahai Tuhan Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yg shaleh”.

Demikianlah kisah yg paling baik diakhiri. Dan yg perlu digaris bawahi, bahwa lika liku hidup Yusuf as dijelaskan sebagai detail kisah kehidupan yg indah. Beragam ujian sabar dan kesyukuran, silih bergantian di dalam kehidupannya. Hanya satu yg tetap sama, totalitas kepasrahannya pada Sang Pemilik kehidupan di langit dan di bumi.

Inilah kisah hidup yg indah, kehidupan terbaik adalah hidup dengan nilai-nilai kebenaran di tengah-tengan masyarakat yg tidak mengenalnya, kemudian ia mengenalkannya, dan bersabar di dalam kesungguhan terhadapnya.

Itu saja, menyikapi hidup dengan hidup adalah justru yg mencari macam rupa likunya, tanpa pernah merasa putus asa di dalam menjalani dan selalu melibatkan Dia. Hidup yg hidup dengan bergerak. Nggak malas melatih bakat, mendidik pemikiran, berdisiplin dalam kebaikan, menambah kapasitas, mengasah kepekaan sosial, berkarya dan menjaga amanah Tuhan. Karena yg terpenting dalam setiap urusan adalah keridhaan-Nya, ridha Sang Pembuat sekenario hidup.

Dan saat lelah dan jenuh bersilaturrahim dengan kisah hidup kita, sebagaimana Rasulullah saw berkata pada Bilal ra,

“Yaa Bilal, arihna bish shalah”, wahai Bilal, istirahatkanlah kami dengan shalat.

Maka sungguh indah ukuran perjuangan untuk hidup itu, jika istirahatnya adalah shalat. Jika meletakkan shalat sebagai waktu untuk melepas semua penat. Dikala shalat kita mengumpulkan energi, di luar shalat kita kembali berjuang. Maka memang, berjuang itu tidak berhenti selagi tarikan nafas kita masih memerlukan energi.¬†Mendekat ke sumber energi, menjaga orbit kita di jalan kebenaran. Maka Ia memanggil hamba-hamba-Nya untuk mendekat di sepertiga malam, dengan shalat dan membaca al-Qur’an, dan tetap membersamai orang-orang yg benar.

Cukup sekian.

Salaam.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: