Pulang: Menengok tanah kelahiran

“Untuk setiap rindu yg menyeret kata ‘kembali’ dari kamus usangmu”

Ini tahun ke delapan aku merdeka sebagai anak rantau, menjejak tanah budaya milik ragam etnis di Nusantara. Pindah dari kota satu menuju kota berikutnya, mengecap keelokan negeri dan kayanya kearifan lokal. Mengemas pengalaman, bertemu muka sejuta manusia, lalu terheran-heran. Sungguh banyak yg aku tak tahu dan belum mengerti. Dan yaa, selalu ada rindu yg menyelinap di sepenggal-penggal tanah tempat aku berpijak, dan terkadang menyeret paksa memoriku pada tanah pertama aku mengintip dunia,

Samarinda.

Tapi bukan berarti selain padanya, selinap rindu aku tak punya.

Untuk setiap tempat yg aku datangi, orang-orang yg kemudian aku kenali. Selalu ada rindu yg tersimpan untuk bertemu kembali. Paling nggak, ya menitipkan rindu pada orang-orang yg jelas menginginkanmu kembali. Kesan.

Well, kali ini adalah kesan yg aku bawakan dari tanah Borneo, yg luasnya hampir 5 setengah kali pulau Jawa itu. Salam Buen Kesong dari Paser (yg artinya anak Paser berhati baik) salam Dayataka, salam juga dari kota madani Balikpapan, terakhir ini salam dari tanah seribu bukit, Kalimantan Timur. Propinsi yg memagari sebagian besar tanah di pulau ini.

lai

Ini buah Lai, sodaranya Durian tapi dengan warna daging oranye, lembut dan legit

(yg kurang suka Durian bisa cobain buah ini)

mancing1

Foto dalam foto: Persis dekat dengan TPI Klandasan dan pasarnya, langsung bersinggungan dengan laut lepas (Balikpapan)

iin dan

Aha, itu aku yg lagi coba-coba pegang kulit buaya hidup (apa rasanyaa?-basah bertekstur begitu) disini penangkaran buaya yg berlokasi di Tritip-Balikpapan.

awan

Masih difoto dari foto: cuaca dataran rendah yg cepat sekali berubah, cerah lamat namun segera basah

kalimantan

Rupa oleh-oleh dari Kalimantan, minyak ulin atau disebut juga Kayu Besi (dan itu bijinya loh), ada batik tulis yg ditenun oleh orang Samarinda, motif batik gurita yg disablon di kaus, dan macam batu-batuan alam yg dironce menjadi gelang dan aneka perhiasan

mie ayam

Mie ayam Solo, heran dah, padahal udah lama menetap di Solo tapi belum pernah ketemu yg aroma dan rasanya se-candu ini 🙂 dan pulang tak lengkap rasanya kalau tak mampir ke kedai sini haha

ayah masak

Persis satu malam sebelum balik lagi ke rantau, masak dengan Ayah hoho (Itu satu ayam kampung utuh dibakar dua kali di kompor begitu saja, adohai ayah ganteng..)

satlantas

Tanah Paser: Pengalaman ujian sim a, karena mobil prakteknya nggak ada jadi ya diganti dengan mobil patroli, woaah..

Nah sekian oleh-oleh kesan tentang Kalimantan, masih belum bisa banyak yg dituliskan, mudah-mudahan di waktu luang berikutnya 🙂

Salaam everyone

Iklan

5 thoughts on “Pulang: Menengok tanah kelahiran

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: