Vision perception

Salam everyone 🙂

Kali ini akan cerita tentang sebuah film hoho, apakaah??

“Brain’s eyes”, yg menarik karena praktikum hari ini diganti dengan nonton bareng, meski dibelakangnya ada 1 set pertanyaan terkait film tsb, hehe (ini drafting post yg baru publish yaa)

Film ini menunjukkan bagaimana cara otak bekerja di dalam memproses milyar data pengelihatan. Unik. Karena pendekatannya dilakukan justru dengan melihat contoh kasus orang-orang yg memiliki masalah pengelihatan.

Gisela Leibold. Dia hanya bisa melihat visualisasi statis. Gak kebayang tuh, jika hanya citra statis dari dunia real ini yg dapat ditangkap otak. Tapi Gisela mengalaminya, pengelihatannya seperti buku gambar yg dibolak balik. Gisela akan tahu bahwa sesuatu bergerak hanya jika gambar dunia telah berganti di pengelihatannya. Kelainan ini akibat kerusakan pada otak kecil, cortex visual menyempit secara simetris sehingga gambar dinamis dunia yg biasanya ditangkap orang normal, pada kasus Gisela gerakan ini melambat. Kalau mau tau rasanya, itu seperti menangkap suara kereta tapi gambar kereta lewatnya baru datang 1 menit kemudian.

Licoln Holmes. Ia dapat melihat, semakna artinya dengan “melihat” sebagaimana orang normal. Tapi Licoln tidak pernah dapat mengenali wajah orang, milik siapa wajah itu. Satu jawaban sulit jika ada yg bertanya kepadanya, siapa? Otaknya bekerja dengan tingkat lebih berat untuk mengenali wajah manusia, diantara banyak manusia lainnya. Tidak ada satu pun yg sama persis, padahal komposisi wajah manusia di dunia ini sama, 2 mata, hidung, mulut, bulu mata, dua alis, bibir, pipi, dagu, dan rahang. Detail kecil seperti kerut sudah cukup dapat membedakan orang satu dengan yg lain. Tapi Licoln, ia kehilangan kemampuan ini pada otaknya. Akibatnya, Licoln hanya dapat melihat komposisi wajah orang tanpa mampu membedakannya!

Kevin Chappel. Mirip dengan kasus Licoln, Kevin tak dapat mengenali benda-benda. Ia hanya mengandalkan pengetahuannya terhadap bentuk dan warna benda-benda sebelum kecelakaan ini terjadi. Tidak pernah terbayang sebelumnya, mengatakan suatu bentuk bangunan berwarna coklat, dengan keduan kotak ditengahnya, dan ada warna lebih terang di atasnya, padahal yg dimaksud adalah rumah dengan 2 buah jendela dengan atap di atasnya. Kevin mengalami gap asosiasi antara apa yg ia lihat dengan pengetahuan terhadap benda-benda yg ia miliki, sementara matanya bekerja normal, otaknya tidak dapat melakukan interpretasi yg logis. Kebayang bagaimana dia harus menghabiskan banyak kata untuk menggambarkan dunia??

Itu tadi contoh orang-orang yg memiliki minus pada pengelihatannya. Sekarang bagaimana kita mampu memahami cara otak ini bekerja?

Mata dan otak. Keduanya membentuk suatu sistem pengelihatan sekaligus persepsi. Seperti digital camera yg bekerja autofokus, bedanya yg ini lebih canggih. Mata memindai cahaya apa saja yg datang dan otak bekerja memfokuskan pengelihatan terhadap suatu objek tertentu sementara milyaran cahaya lainnya hanya menjadi background. Ini yg membuat kita menemukan “apel” saat melihat ke arah rak penuh buah di supermarket dan menemukan wajah orang terkasih saat mencarinya di tengah-tengah kerumunan manusia.

Change blindness. Istilah untuk menyebut kehilangan kesadaran terhadap hal-hal yg telah berubah dengan cepat, disebut sebagai kebutaan dan semua orang memilikinya. Penjelasannya idem dengan autofokus di atas. Terhadap apa-apa yg tidak dijadikan objek perhatian, maka seringkali kita tidak menyadari apabila terjadi perubahan seketika dengannya. Hanya orang-orang yg terbiasa memperhatikan yg terkadang peka terhadap something else, perubahan kecil. Dan ini langka, tentu saja. Kemungkinan mereka yg memiliki kelebihan seperti photograph memory yg dapat melakukannya dengan baik.

Nah, mari lihat 2 contoh lagi..

Peggy Palmer. Ia kehilangan ½ dunianya semenjak stroke. Mengapa? Kerusakan pada hemisphere kanan membuat ia mengabaikan ½ ruang pengelihatan. Mata adalah pembantu untuk sistem perhatian. Peggy dapat melihat normal, hanya saja di dalam otaknya, imajinasi gambar dunia hanya terbentuk ½. Ia  melihat gambar seekor kelinci, imajinasinya hanya mempu memberikan ½ gambar kelinci, sehingga saat Peggy diminta menggambar kembali apa yg ia lihat. Ia hanya menggambar ½ badan kelinci. Dari sini kita belajar bagaimana pengelihatan dan persepsi bekerja dengan arah yg berbeda. Imajinasi berada pada kubu persepsi, itulah mengapa apa yg kita lihat tidak semata dapat membuat kita takut, justru pikiran, imajinasi kita lah yg melakukannya. Dengan demikian imajinasi membentuk dunia dalam yg sangat personal bagi masing-masing orang.

Radolf Llnas. Satu lagi kelainan pengelihatan yg dapat dipelajari. Radolf mengalami hal ini semenjak kecelakaan merusak sistem pengelihatan dan persepsinya. Ia melihat sebagaiman arti “melihat” orang normal. Hanya saja ia tidak mampu menerjemahkan apa-apa yg ia lihat, meraba makna begitulah yg sebenarnya terjadi. Radolf menceritakan kesehariannya sebagai pelatih sepak bola. Saat ia melihat ke atas, tampak warna biru begitu luas, pengetahuan masa lalunya lah yg membantu ia mengatakan itu adalah langit. Pun dengan rumput dan pepohonan, ia lihat dalam gambar hijau datar dan tinggi rendah gradasi hijau. Saat melihat permainan sepak bola, ia melihat warna-warna yg ditempeli dan bergerak dengan lingkaran putih. Lukisan abstrak, begitulah dunia menurutnya.

Maka, terhadap fungsi mata, sugguh kita memiliki nikmat yg tiada terkira, alhamdulillah ‘ala kulli syai’in.

Iklan

2 thoughts on “Vision perception

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: