Bin Boy: Tentang putri-putri ayah (bagian 1)

Namanya Linda Fitriyani, adiknya, Lidia yg sekarang akan duduk di level pertama SMA. Satu lagi Ika Nurkhasanah, semuanya adik-adik aku yg terbaik hingga saat ini 🙂 Dan kejadian hari ini yg akan aku kisahkan, sungguh satu dari banyak cara ungkapan syukur dan terima kasih tiada tara. Silahkan santai baca, tulisan ini nggak pake klimaks-antiklimaks soalnya, hehe.

Do’a dan baik sangka.

Ayah, chip kromosom xy telah meletakkan perbedaan secara fitrah. Linda dan Lidia, kedua shalihah ini sungguh aku yakin tak pernah patah berharap, menyebut ayahnya dalam selipan do’a, kapanpun. Semoga tidak ada penolakan untuk sebuah izin yg merentangkan cita-cita sang adik, melepas pergi melanjutkan studi dengan kualitas lebih baik lagi. Tapi di seberang pulau, jauh sekali di mata.

Keputusan sang ayah sudah final, di sekolah yg sama Lidia terdaftar kembali untuk tahun ajaran baru nanti, dia yg terbaik di kelas sebelumnya. Dan di sekolah yg sama, dasar Lidia, begitu rendah hati mengeluhkan bahwa terlalu mudah memperoleh prestasi seperti itu, lagi. Pikiran kita memang harus terbuka untuk kompetisi, bukan? 🙂 *betulkan niat.

Lebaran, scene yg bagus memang. Silaturrahiim mengantarkan Linda dan Lidia berkunjung ke rumah Bude, sebutan untuk kakak perempuan ayah. Sampai di sana, betapa terkejutnya mereka. Ayahnya juga ada disana. Rencana mengutarakan niat untuk dukungan Bude “merayu” ayah, urung.

Siapa kira semua yg rapi terencana sekarang tidak bisa dipakai lagi. Tapi kita punya sutradara Maha hebat untuk urusan duga-menduga, membuat alur hidup berubah dinamis dan sangat menarik.

Kepada kakaknya, sang ayah telah lebih dahulu mengungkapkan keinginan putri ke-tiganya. Siapa yg beri tahu? Kakak sulung mereka, anak laki-laki pendiam yg sejak kecil begitu patuh pada ayah sekeras itu. Siapa yg membuat ayah berpikir untuk mempertimbangkan lagi keputusannya? Bude. Dan siapa yg mendukung meyakinkan sang ayah? Keponakannya yg pada waktu dan setting tempat yg sama, datang silaturrahiim ke rumah Bude-nya.

Dan begitulah rencana Tuhan, telah ia kabulkan do’a dan harapanmu bahkan sebelum rencana-rencana itu melakukan usaha.

Maka semoga di setiap keinginan, do’a dan harapan yg terpenuhi, ada rasa syukur yg mengikuti, mengembang-memenuhi hati. Bahagia?

Tapi kau tau bahwa nikmatnya belum seberapa, yg mampu disadari, kan?

Pasir, Juli 2015

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: