Wahai adikku, kita perlu lebih peka

Sore yang cerah adikku, kau memang selalu membanggakan. Apa kabar?

Kali ini aku kisahkan padamu tentang seorang pemuda, rupanya menawan pun dengan karakternya.

Kira-kira sama seperti ini kondisinya, sore cerah dan berangin di selasar kota. Ia, pemuda yg aku ceritakan ini, sedang berjalan menuju kota besama teman yg usianya lebih muda darinya, dan belum menikah. Jadi ini benar-benar kisah menarik tentang dua orang pemuda yaa. Jadi dengarkan.

Sambil menikmati angin sore, perbincangan terjadi diantara keduanya. Perbincangan itu seputar pernikahan, haha. Tentu saja selazimnya anak muda.

Pemuda tadi bertanya pada temannya ini, “Fulan, tidak kah kamu ingin menikah?”

Jawab temannya, “Oh, tentu saja!”

“Lalu, sudah kamu siapkan?” tanyanya kembali.

“Ya”, jawab temannya ini canggung.

Pemuda tadi tadi tersenyum, menjeda pertanyaannya dan mengamati penampilan temannya ini.

Lalu kembali bertanya, “Emm, adakah seseorang yg menarik perhatianmu?”

“Ada gadis yg kamu suka?”

Kali ini, rona wajah temannya berubah, ia memperbaiki nada suara dalam jawabannya kemudian.

“Hehe, bisa jadi” kurang lebih begitulah tanggapannya saat itu.

Sementara pemuda tadi terus memperhatikan gerak-gerik teman juniornya, ia mengganti topik pembicaraan.

“Kendaraanmu bagus juga, kalau aku beli darimu, berapa kamu jual?”

Ini jawabannya, “Dijual?? Padamu?, tapi ini hartaku satu-satunya, kayanya nggak akan sih”.

Kemudian pemuda ini tertawa, “Yasudah, kalau akan dijual, kira-kira berapa harganya?”

“Hmm, sepertinya 160 juta” sahutnya, “tapi nggak akan dijual loh” ujarnya lagi.

“Oke, oke. Terserah saja, tapi aku suka sekali. Akan beli dengan hargamu tadi”.

“Yaa, kalau dijual, hehe” dan berakhirlah percakapan keduanya, mereka telah tiba di selasar kota.

Beberapa hari kemudian, datanglah sifulan ini tadi ke kediaman Rasulullah, sambil membawa kendaraan yg mereka pakai bersama kemarin.

Hoho, jadi ini kisah tentang Rasulullah saw, adikku. Ingin tahu kelanjutannya?

Ia kemudian menyerahkan kendaraan itu sambil berkata,

“Yaa Rasulullah, engkau menginginkannya maka ambillah ia”.

Tersenyum Rasulullah lantas menyuruh pembantunya menyerahkan uang sebesar 40 dinar. Jadi nilau uang pada percakapan tadi hanya konversi, adikku.

Maka pulanglah temannya ini, begitu mudah ya berurusan dengan Rasulullah saw.

Namun, di tengah-tengah perjalanan, pembantu Rasulullah saw kemudian menyusulnya. Ia memanggil-manggil sambil membawa kendaraan yg barusan dijualnya. Hatinya berdebar sambil menerka, ada apa gerangan?

Kemudian berhentilah ia menunggu, lalu terkejut mendengar perkataan utusan Rasulullah ini,

“Rasulullah saw menyuruhku agar aku mengembalikan kendaraan ini padamu” ujarnya.

“Ada apa? Apa terdapat cacat padanya?” tanya orang ini.

“Tidak ada, aku hanya disuruh menyampaikan ini padamu, hadiah”.

Maka tertegunlah ia, bersama rasa bahagia yg memenuhi rongga dada.

Dan kisahnya berakhir disini, adikku 🙂

Well, bentuk percakapan sebelumnya, aku adaptasi ke dalam aksen kita. Terlebih karena tidak tahu persis huruf demi huruf yg diriwayatkan. Semoga tidak termasuk menambah kurang hadits karena bisa termasuk dosa. Kalau masih penasaran, bisa kau cari kisah ini di literatur kisah yg ada. Misalnya pada buku Dr. Muhammad Abdur-Rahman, yg judulnya “Enjoy Your Life”.

Sudah kau temukan apa maksud Rasulullah saw? Nah, ini bagian yg penting, hehe.

Silahkan dipikirkan, akan aku buatkan quote di post berikutnya jika masih memerlukan 🙂

Salam dari Bogor cerah, salam merona.

Iklan

One thought on “Wahai adikku, kita perlu lebih peka

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: