Question (WHY)

We Should Start Appreciate (Others) Time More Seriously

Janjian ketemu dan mulai rapat jam 7.00 malem. sekarang jam 7.10 tapi belum ada siapa-siapa di lokasi tempat rapat yang disepakati. Beberapa orang yang saya temui di kampus IPB sering punya pikiran: “ah, baru jam 7.10, palingan juga belum mulai rapatnya. ngaret.”

Setuju nggak kalau orang yang berpikir demikian justru dia sendiri yang bikin ngaret? Saya sering menekankan kepada tim saya, untuk bisa hadir tepat waktu. Kalau janjian jam 7.00 mulai rapat, itu berarti sebelum jam 7.00 kita udah kumpul di lokasi dan tepat jam 7.00 kita mulai rapatnya. Bukan justru ketika jam 7.00 sibuk nyariin personil yang tak kunjung kelihatan batang hidungnya.

Beberapa orang mungkin masih salah dalam memahami konsep telat itu sendiri. Menurut saya telat berdasarkan efeknya bisa dibagi menjadi dua. Pertama, telat yang merugikan diri sendiri, dan yang kedua, telat yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Merugikan diri sendiri tanpa melibatkan orang lain. Contohnya seperti telat masuk perkuliahan. Dosennya akan memulai kuliah jam 8.00 dengan ataupun tanpa kita. Dalam hal ini, perkuliahan nggak akan jadi lebih lama 15 menit karena kita terlambat dan baru masuk kelas jam 8.15. Merugikan diri sendiri dan juga orang lain. Biasanya terjadi di forum yang sebelumnya udah disepakati bersama. Rencana rapat tim jam 7.00 malem. Karena belum lengkap timnya, atau peserta forumnya masih kurang, agenda nggak bisa dimulai. Atau lebih parah lagi, pemimpin forumnya yang telat. Terpaksa harus menunggu teman kita yang belum hadir. Kalau sudah begini, bukan diri sendiri saja, tapi orang lain juga dirugikan karena diri kita terlambat.

Paham bedanya lah ya. Karena tidak disiplin terhadap waktu, kita jadi wasting time. Tapi hadir telat di suatu forum yang membutuhkan kehadiran kita tepat waktu, kita jadi wasting other people’s time. Setahu saya, jadi dzalim terhadap orang lain.

Oleh karena itu, suatu jarkoman at some time sharp’ buat kumpul forum yang butuh kehadiran kita biar bisa mulai, nggak bisa dianggap remeh lagi. Kita membuang-buang waktu teman kita yang berharga, membuang-buang loh.

Sejujurnya menerapkan disiplin waktu itu emang nggak gampang. Budaya kita di Indonesia, sering kali meremehkan hal-hal seperti ini. Saya empat tahun menekankan masalah disiplin waktu ke tim yang saya pimpin sejak tingkat satu sampai tingkat akhir, sejujurnya, nggak mendapat hasil yang memuaskan. Tapi nggak ada salahnya terus mengingatkan. Semoga bisa lebih disiplin lagi.

Saya, Ishak.

Catatan:

Terima kasih buat yg sudah menuliskan isi kepala (aku) nya, istighfar bener pas beres baca.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: