Senescence notes

A romantic nature philosopher

Klip catatan perjuangan dari biosfer planet bumi, selamat menikmati.

5). Menghadapi kebencian

Tentang menghadapi kebencian yg dulu pernah kamu tanyakan, aku senang sekali sekarang kamu sudah memahaminya lebih baik. Nah, sekarang kamu bisa bercerita kan? Sini beritahu aku.


Mengahadapi kebencian tidak jauh berbeda dengan cara kita menghadapi perasaan cinta yg mendalam. Ayah bilang, kita harus adil dalam menempatkan sikap, kan? Tuhan suka bagian pertengahan, tawazun meletakkan perasaan.

Suatu hari aku bertemu dengan perasaan cemburu, yg dimiliku orang itu padaku. Aku nggak mau bilang dia benci aku, hanya mungkin perasaan tadi mendasari sikapnya setiap kali berurusan denganku, mendengar namaku, bersentuh sapa padaku. Aku tetap tersenyum, menyapanya, menanyakan kabarnya, dan mungkin berbagi hal-hal yg sekiranya dia butuhkan, seperti do’a misalnya. Aku merasa berat, tapi kau bilang itu hanya perasaan sementara, mungkin memang benar.

Lain waktu aku berjumpa dengan orang yg pernah menyakitiku, menghardik dengan keras, dan aku benci sekali. Aku suka orang yg kuat tapi benci orang yg keras. Aku suka orang yg lembut tapi tidak lemah. Aku suka mereka yg santun tapi bukan karena kepentingannya. Kau tahu kan yah, orang yg barusan aku ceritakan, dia punya semua kebencianku. Keras suaranya, lemah semangatnya, santun kalau punya keperluannya. Suatu hari aku berjumpa lagi dengan orang seperti ini, tidak bisa ditolak. Aku tetap tersenyum, menyapanya, menanyakan kabarnya, dan mungkin berbagi hal-hal yg sekiranya dia butuhkan, seperti do’a misalnya. Saat itu hatiku terasa jauh lebih ringan.

Ada lagi, dia orang yg aku kagumi, sifat-sifatnya aku sukai, semua tentang dia selalu ingin aku ketahui. Hatiku tahu cara tersenyum, bagaimana menyapa dengan cara yg paling disukainya, menanyakan kabarnya.
Aku bahkan tidak perlu berpikir untuk membantunya pun mendo’akannya. Semua mudah saja dilakukan saat itu.

Kali lain, aku berjumpa dengan orang yg sayang sekali padaku, meletakkan kekagumannya terhadapku. Kau tahu, yah? Tidak dibutuhkan banyak usaha untuk membuatku tersenyum, menanyakan kabarnya, berbagi cerita kehidupan, bantuan dan do’a untuknya. Kau bilang, jangan berlebihan, aku masih heran saat itu. Tapi aku lakukan saja, menghormati pengalaman hidupmu yg berharga.

Lalu sampailah aku pada hari ini, lucu saat merasakan bahwa tidak lagi berbeda rasanya saat berjumpa dengan berbagai macam rupa mereka. Buruk atau baik sifat dan kondisinya saat itu, rasanya jauh lebih mudah menghargai bagian kehidupan mana yg sedang mereka jalani. Disitulah aku sedikit-sedikit mengerti, apa yg kau maksud dengan adil lah meletakkan rasa.

Baru itu, bukan perasaan yg lantas kita menangkan. Tapi ketaatan pada Tuhan.

“Tidak sempurna keimanan, sebelum ia mampu berbuat ihsan”

4). Nggak peduli

Kenapa kamu khawatirkan soal amalku? Tanyanya suatu waktu, aku bilang padanya ya kan beramal nggak perlu tunjukkan kesana kemari sih. Kamu mau pahala kamu lenyap kalau saja ada bisikan kebanggaan di dalam hatimu itu? Dan begitu tadi jawabannya, menjengkelkan sekali rasanya.

Hari ini pun, masih lagi dia bilang begitu, “aku nggak peduli sama amalku, kenapa memangnya?”

Kenapa kalau aku tunjukkan amalku kesana kemari? Kan bagus, kali aja ada yg nggak tau caranya terus ngikutin.
Memangnya ada apa dengan rasa bangga? Menakutkan sekali kah sampai-sampai harus sembunyikan amal kamu?! Apa jangan-jangan itu perasaan khawatir aja yg dibisikkan supaya berhenti?

Aku terdiam. Sementara dia lanjutkan kembali,..

Ini cuma usaha menghabiskan usia, in! Kamu tahu kapan usia kamu habis? Nggak. Akhir hidup yg baik itu diperjuangkan, in! makanya harus sabar. Itu kenapa juga kita nggak akan pernah tahu dimana batas sabar, ya emang karena nggak tahu dimana batas hidup. Lagian, percaya diri amat kalau ngerasa dengan amal yg baik lantas kamu melenggang anggun ke dalam surga. Lupa ya, apa yg bisa menyebabkan kita berada di surga? Allah yg Maha Rahmaan, itu karena rahmat dan kasih sayangNya, in. Jadi mana yg mau dibanggakan sama amal? Ini lucu, bahkan kita beramal saja diberitahu dulu, lakukan mana yg sanggup kamu lakukan, jangan bebankan dirimu, lakukan yg sekiranya dapat kamu lakukan sekarang dan terus menerus. Dia tidak akan bosan, kitalah yg punya perasaan bosan itu. Sudah ya, itu saja. Jangan tanya macam bab ini lagi. Just do it! No worries. Do and forget it.

Itu kenapa juga kita nggak akan pernah tahu dimana batas sabar, ya emang karena nggak tahu dimana batas hidup.

3). Mencintai

Suatu hari aku berjumpa dengan seorang kawan. Aku terpesona pada kerendah hatinya. Tapi kita tidak akan dibiarkan beriman tanpa ujian, kan? Hari berganti, lalu ada kala aku jumpai dia tidak lagi bersama dengan kerendahan hati itu. Maka aku pun diuji. Adakah aku masih bersikeras jatuh hati? Begini jawabku, bukankah melalui kerendahan hati yg dia miliki, telah ditunjukkan kepadaku sebuah keteladanan Rasulullah? Maka kecintaanku diuji, masihkah ia melekat bersama do’a-do’a? agar suatu waktu, Allah balikkan hati miliknya. Menetapi kebenaran, menggenggam teguh keteladanan, bukan saja untuk sebuah kerendahan hati. Begini sederhana kah ternyata?

Maka dalam segenap harap, semoga perasaan cinta yg kita miliki menumbuhkan kehidupan dan bukan malah menghancurkan. Dan sungguh, dalam setiap sifat baik pun, masih Dia letakkan ujian.

2). Menjaga

Malam basah berganti dengan pagi cerah, hujan Desember mengantarkan pikiran aku dan dia menyelami tahun terkenang di kampus. Mencukupkan waktu yg dihabiskan bersama, menceritakan tingkah polos, kekanakan dan menyebalkan, satu sama lain, juga teman-teman lain, ah. Singkat malam, sedikit tidur, lalu terbangun saat subuh telah tiba. Ketika tasbih semesta menggenapkan mimbar cahaya yg kami lewatkan. Aku rasa disini ujian kebersamaan, dapatkah kami menjaga agar tidak saling menyeret pada kelalaian. Jika belum bisa menjaga dengan bersama, mungkin sendiri adalah cara terbaik agar kita saling mengusahakannya. Bisa begitu, ya?
“Berhati-hatilah terhadap dua hal, lisanmu saat bersama dengan orang lain dan pikiranmu saat sendirian” ~Muallim

1). Memperkenalkan

Buongiorno, cerita pagi..
Ada seorang ibu muda, cantik, cerdas juga bijak, dia ceria dan mudah tertawa. Pagi itu aku bertemu dengannya, mendengarnya mengeja pesan tentang memperkenalkan. Membangun hubungan baik dengan sesama, apa artinya? Dan untuk apa kamu lakukan itu?
Begini sayang, dia memulai dengan senyum ketika menjelaskan.
Bahwa mengingat membantumu mengenali siapa-siapa yg sudah berkenalan denganmu. Ini awal untuk membangun hubungan baik. Kamu lakukan agar suatu waktu, orang-orang yg mengenalimu akan dapat menerima manfaat darimu, begitu dan bukan dibalik, kamu kenal untuk mengambil manfaat. Jika pun ada nantinya, itu hadiah. Jadikan dirimu mukaddimah kebaikan dan kebahagiaan, cukup. Orang yg mengantarkan bahagia, sejatinya memiliki lebih banyak lagi kebahagiaan. Karena Tuhan dan Tuhan bersamanya.
Bogor, 8 Desember
Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: