Kyoiku mama ryosai kentro

Jika kalian wanita. Tidak mendidik kami dengan kebesaran jiwa dan ketinggian akhlak, anak-anak tak menemukan lagi kemanusiaannya” ~Ust. Faudzil Adhim

Salaam everyone,

Sudah berbilang waktu nggak update blog, apa kabar readers? Semoga sehat dan baik-baik saja ya. Well, terakhir kemarin dapet pesan wa dari acil (tante), nanyain kabar blog yg belum juga update, hehe. Maka baiklaah, ini drafting tulisan tahun lalu yg (semoga) sudah jauh lebih berbobot diterbitkan sekarang. Inspirasi judulnya diperoleh dari tulisan Ibu Septi Peni W, pendiri “Institut Ibu Profesional” (semoga keberkahan menyertai aktivitas beliau). Ini tentang peran kehidupan yg melekat pada eksistensi manusia, seorang wanita.

Bonus, sambil baca (Play) when you say nothing at all:

Kyoiku mama ryosai kentro

Diterjemahkan sebagai, “istri yg baik dan ibu yg arif”. Ini profesi terkeren dari wanita Jepang. Terkeren? Iya, karena para wanita Jepang yang menyandang jabatan istri dan ibu memiliki kesadaran yg tinggi terhadap perannya sebagai ibu rumah tangga. Semua pencapaian dalam kehidupan mereka, ilmu, kreativitas, kecerdasan dan keterampilan, didedikasikan penuh untuk keluarga ketimbang berkarir di luar rumah. Tidakkah sayang? Tentu saja tidak bagi mereka, mengasuh dan mendidik anak merupakan investasi terbaik sekaligus sebagai karir tertinggi bagi wanita Jepang. Begitulah, lalu jika kita melihat hasil didikan mereka, maka ibunya sungguh pantas dikagumi.

Itu kalau kita belajar dari wanita Jepang, bagaimana kesadaran mereka terlibat penuh di dalam menyiapkan pendidikan untuk dirinya sendiri. Kesadaran terhadap investasi berharga bernama keluarga yang akan menentukan sukses tidak karir hidupnya sebagai wanita, sebagai ibu.

Well, kemarin pagi di kelas evolusi, ada ulasan menarik tentang sebuah film berjudul, “Making Baby”. Film yg sebagian besar mengangkat tema kerusakan genetik dari kesalahan peletakan “kabel” materi genetik. Akibatnya, anak yg dilahirkan mengalami kejadian yg tidak biasa seperti kelainan sus-sum tulang dan otot-otot yg melemah seiring bertambahnya usia. Kelahiran anak-anak dengan kondisi tidak biasa ini justru menyentuh sisi kemanusian kita. Bahwa bentuk pekerjaan mengasuh dan mendidik anak bukan suatu hal yg dapat diandalkan pada sesuatu yg “alami” dan dapat “diwarisi” begitu saja. Ada proses evaluasi dan seleksi dari seluruh pengalaman hidup yg kita terima dari lingkungan. Lalu diolah dan disiapkan untuk mengasuh dan mendidik generasi sehingga lebih baik. Sehingga pola kesalahan di dalam pengasuhan tidak perlu terulang kembali serta keberhasilan metode mendidik dapat diteruskan dengan baik. Konsep pemuliaan dalam ilmu hayat berlaku (juga) di sini.

Selanjutnya tentang peran yg melekat pada wanita muslimah. Terdapat tiga peran yg berasal dari fitrahnya yaitu, al mar’ah shalihah, zaujatu mu’thiah dan ummul madrasah.

Al mar’ah shalihah, wanita shalihah. Shalihah baik dalam arti sempit maupun luas. Shalihah melingkupi segala aspek, dalam pemahamannya terhadap ilmu agama, akhlak yg menghiasi pergaulannya pada sesama, izzah dan iffah, termasuk bagaimana seorang wanita menjaga kehormatan dirinya dan kemuliaan orang tuanya. Shalihah dalam arti luas, pada tanggung jawabnya terhadap keilmuwan, pada karya dan prestasi, pada kontribusinya yg membersamai semua peran sosial yg menyertainya bermasyarakat.

Zaujatu mu’thiah, istri yg taat (ryosai kentro). Penjelasan disini yg secara garis besar disederhanakan sebagai pemenuhan kebutuhan mendasar bagi jiwa, fisik, pikiran. Membahagiakan disepanjang kehalalan, di dalam mengupayakan ketentraman hati (sakinah), pembentukan karakter positif diri dan keluarga, keselarasan ruhani (mawaddah), dan saling membantu pasangannya untuk mencapai family development (tarbawi) yg menjadi misi keluarga. Itu teorinya, dan istri yg taat dalam deskripsi Fahd berikut ini adalah istri yg cantik. Harus cantik? Iya 🙂

Berikut cuplikan nasihat dari penulis Fahd Pahdepie, tentang istri yg cantik.

Istrimu cantik bukan karena dia memiliki paras yg seperti bintang iklan. Dia cantik karena senyumnya bisa menerbitkan senyummu. Karena matanya yg berbinar membicarakan hal-hal yg ia sukai. Ia cantik karena semangat dan kepeduliannya menolong dan membahagiakan orang lain. Karena kebaikannya yg membuatmu selalu ingin menjadi seseorang yg baik. Dia cantik bukan karena hal-hal yg sifatnya sementara, namun karena kebeningan jiwa dan kemuliaan sikapnya. Karena apa saja yg ada dalam dirinya membuatmu bahagia dan selalu belajar mengucap syukur. Dan syukur adalah kata kerja. Istrimu cantik karena kau menjaga, merawat dan membanggakannya. Dia cantik karena kau mencintai dan menyayanginya, karena kau bersyukur telah menjadi bagian dari hidupnya.

(dikutip dengan sedikit perubahan)

Kita pinjam istilah istri yg cantik ini untuk penjelasan John Gray (relationship advicer), yg pada banyak tulisan, memberikan ulasan terfokus pada perbedaan kebutuhan mendasar dari wanita dan laki-laki serta komunikasi yg menyebabkan konflik keduanya. Terdapat paling tidak 6 kebutuhan emosional mendasar seorang pria dan wanita, dan berbeda tentunya. Pertama, pria butuh dipercaya sementara wanita perlu perhatian. Kedua, penerimaan yg dibutuhkan oleh pria dan pengertian itu penting bagi wanita. Ketiga, apresiasi atau penghargaan yg dibutuhkan pria sementara wanita butuh dihormati. Keempat, pria butuh kekaguman sementara wanita butuh kesetiaan. Kelima, sementara pria butuh disetujui, wanita butuh validasi atau penguatan. Keenam, pria butuh rasa percaya dan wanita butuh diyakinkan. Lalu penjelasan dari 6 prinsip di atas dilakukan oleh Gray dalam bentuk contoh. Sampai-sampai aku mengira Gray dan istrinya Lauren, menjadikan keluarganya sebagai laboratorium untuk eksperimen yg telah menyelamatkan banyak keluarga dari dampak konflik suami-istri. Penasaran? Saran aku, baca langsung bukunya 🙂

Ummul madrasah, ibu sebagai sekolah (kyoiku mama). Kualitas seorang ibu betul-betul menjadi modal terbaik dalam melahirkan generasi shalih-shalihah. Wanita Jepang rela menempuh pendidikan setinggi mungkin lalu berkarir sebagai ibu dengan pendidikan terakhir mereka yg rata-rata S1/S2. Jika wanita Jepang yg belum tentu seorang muslim saja memahami dan menggunakan prinsip hidup seperti ini, lalu bagaimana dengan seorang muslimah? Kita memiliki contoh yg lebih banyak tentunya. Ustadz Faudzil Adhim bercerita dalam bukunya, “Salahnya Kodok” tentang Fathimah, ibu yg melahirkan Imam Syafi’i, ia harus melahirkan dalam kondisi suaminya meninggal saat ia hamil tua, lalu lahirlah bayi yg telah ia kandung itu di jalur Gaza. Ketika anaknya berusia 2 tahun, Fathimah terlalu miskin untuk menyekolahkan anaknya. Yg tidak miskin, bahkan berlimpah adalah kekayaan kasih sayang dan keikhlasan hatinya untuk mendidik anak. Lalu atas kehendak Tuhan, tumbuhlah anak tersebut menjadi peletak dasar-dasar ushul fiqh. Sama seperti Imam Syafi’i, Imam Ahmad juga lahir dari wanita besar, jiwanya besar, tekadnya besar, keberaniannya besar, perjuangannya besar dan tentu saja, pengorbanannya juga besar. Dengan demikian seorang ibu, jiwanya harus terdidik lebih dahulu dari sekolah-sekolah kehidupan.

Kemudian Abah Ihsan, founder Program Sekolah Pengasuh Anak, agak lucu karena ini progam sekolah yg diperuntukkan bagi orangtua, bagaimana mengasuh anak. Well, kutipan klasmen orang tua menurutnya itu begini, “Orangtua biasa, memberi tahu. Orangtua baik, menjelaskan. Orangtua bijak, meneladani. Orangtua cerdas, menginspirasi”. Kebayang kan, bagaimana proses kepengasuhan sehari-hari itu meningkat dari yg tadinya sekedar memberi tahu lalu dapat menginspirasi? Dialog yg seperti apa? Obrolan yg bagaimana? Cerita dan diskusi antara anak dan orangtua yg dapat menumbuhkan sisi terbaik anak.

Terakhir, ini (juga) kutipan nasehat bagus, haha jadi isi tulisan aku kali ini semuanya kutipan. Okelaah, kali ini tentang prinsip Dorothy dalam pengasuhan. Jika anak hidup dengan celaan, dia akan belajar memaki. Jika anak hidup dengan permusuhan/kekerasan, dia akan belajar membenci. Jika anak dibesarkan dengan ketakutan, dia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan rasa iba, dia belajar menyesali diri. Jika anak hidup dengan ejekan, dia akan menjadi pemalu. Tapi jangan putus asa. Jika anak hidup dengan toleransi, dia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, dia belajar percaya diri. Jika anak hidup dengan pujian, dia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, dia belajar keadilan. Jika anak hidup dengan rasa aman, dia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, dia belajar menyukai dirinya. Jika dibesarkan dengan penerimaan dan persahabatan, mereka belajar menemukan cinta dalam kehidupan. Sudahlah, sampai sini aku tengah terharu, karena kangen ayah ibu, hoho. Tentu aku dan juga kita, harus bisa berhasil mendidik generasi supaya lebih baik lagi nantinya. Untuk Ayah, semoga aku dan kami dapat menjadi kebanggaanmu di bumi dan surga. Padamu Ibu, semoga hidupmu selalu berkecukupan bahagia. Waj’alni lil muttaqiina imama.

Intinya tulisan rangkuman kutipan kali ini, jangan pernah merasa puas belajar. Tapi bersyukurlah dan lanjutkan belajar. Semoga manfaat, salam semesta!

Children Learn What They Live

If a child lives with criticism, they learn to condemn.
If a child lives with hostility, they learn to fight.
If children live with fear, they learn to be apprehensive,
If children live with pity, they learn to feel sorry for themselves,
If a child lives with ridicule, he learns to be shy.
But do not despair …
If a child lives with tolerance, they learn to be patient.
If a child lives with encouragement, they learn confidence.
If a child lives with praise, they learn to appreciate.
If a child lives with fairness, they live with justice.
If a child lives with security, they live to have faith.
If a child lives with approval, they learn to like himself.
If a child lives with acceptance and friendship.
they learn to find love in the world.
Dorothy Law Nolte

Referensi:

Web Institut Ibu Profesional

Rumah Tangga (Fahd Pahdepie)

Man Are From Mars Women Are From Venus (John Gray)

Yuk Jadi Orang Tua Shalih (Abah Ihsan)

Salahnya Kodok (M. Faudzil Adhim)

Children Learn What They Live (Dorothy Law Nolte)

Tulisan sebelumnya Women of Worth

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: