Children of heaven

Dan aku mulai mengingat hal-hal kecil yg begitu aku sukai darimu. Lucu, karena baru sekarang aku sungguh-sungguh melakukannya, me-recall ingatan karena aku membutuhkannya kelak, di masa depan.

Iin kecil, 3-9 tahun.

Aku suka sekali melihatmu menyulam, menunjukkan bermacam-macam pola yg mengagumkan, indah. Topi woll menjadi favoritku, aku pakai kemana saja pergi, dan bangga sekali karena itu buatanmu sendiri. Lalu terhadap kain perca, mereka kau jahit menjadi banyak ikat rambut cantik.

Origami, sama memukaunya bagiku. Kau tunjukkan bahwa sehelai kertas dapat menjadi banyak rupa bentuk, hebatnya lagi karena ada banyak bentuk yg bisa kita buat mengikuti imajinasi. Ayo berimajinasi! hahaa.. Dan aku mulai mendemonstrasikan banyak cara melipat dan memotong kertas di depan teman-temanku. Puas rasanya melihat mereka terpesona, lalu tertarik melakukannya juga.

Gula, tepung, ada kacang, telur, dan banyak jenis tools di dapur. Aku selalu senang kau tunjukkan bagaimana mereka berfungsi, kombinasi dari bahan-bahan makanan hingga menciptakan berbagai rasa. Aku terheran-heran, dan mulai menciptakan eksperimenku sendiri. Bangga sekali rasanya, mendengar kau bercerita saat menunjukkan sederet kue-kue hari raya mana saja yg aku buat. Di hari yg lain, kalian berdua sakit. Aku mengingat dengan baik binar matamu, saat itu kau menatapku kagum dan penuh haru, aku membuatkan bermacam-macam makanan untuk makan siang.

Makan. Kita tidak saling diam saat makan. Kita bercerita tentang banyak hal, tentang aktivitas kalian seharian, apa saja yg menarik, lucu. Aku bercerita ini itu, atau aku bertanya, atau kalian hanya membicarakan soal masakanmu yg selalu enak. Atau dia akan bercerita tentang perjalanan sebutir padi, menjadi nasi, masuk ke tubuh, setelah melalui berbagai macam petualangan di dalam tubuh, dia berhasil membangun kekuatan untuk tubuh kita. Kita akan bicara saat makan, tapi bukan berkecap.

Ini lucu, di lain hari saat mendapati kalian bernegosiasi, sebaiknya aku menghabiskan hari minggu bersamamu atau bersama ayah, karena dia dan teman-teman kantornya akan pergi memancing. Masuk jauh ke dalam hutan, memakai boots, menenteng kail, melompati batu-batu dan menemukan tempat mengail di gua-gua. Aku masih kecil, tentu dan kau mempertimbangkannya. Tapi ayah, saat itu. Dia memenangkanku, aku aman bersamanya haha dan itu sebuah janji. Aku bersorak saat benar-benar dibonceng pergi, yeah! Tak terkira rasanya, saat melintas ilalang, membelah hutan dan meninggalkan jejak-jejak baru, juga menyeberang sungai-sungai kecil. Lalu aku rekam dengan baik berbagai jenis suara, rangkong, kera, gemericik aliran air menabrak batu-batu, pesta ikan saat kelaparan mencari makan siang, semuanya menggelitik hatiku. Dia ajarkan pula bagaimana membersihkan kotor lumpur, berwudhu dan menghamparkan jas hujan lalu berdiri untuk sholat. Saat itu aku mendengar bacaan sholatku begitu jernih, di bawah lazuardi langit, dan angin lembut yg menyentuh-sentuh bulu mataku. Aku jatuh hati pada lanskap semesta yg begini indah, lalu bertanya-tanya tentang siapa yg membuatnya dengan sengaja. Berikutnya, saat aku semakin lincah mengikuti langkah-langkah ayah, diangkatlah aku sebagai partner perjalanan, kami akan pergi memancing kapan saja bisa. Waktu itu untuk merayumu, aku bawakan berkeranjang kangkung dan sepotong benih anggrek hutan, haha. Atau sekedar daun-daun yang bagus bentuknya, untuk dijadikan pembatas buku.

Musim kemarau. O hey, belakang rumah dinas kita (kita? aku kan juga sering ikut dinas) karena memang sering kau ajak menemani, duduk dan melihatmu mendiagnosa pasien lalu menuliskan catatan-catatan yg nggak bisa dibaca, gaya juga rasanya karena tulisanku tentu jauh lebih bagus. Well, balik ke musim kemarau, kalau masanya sudah tiba. Kita akan pergi membawa ember dan gayung, seratus meter di belakang rumah, dan tentu rawa-rawa itu telah mengering, meninggalkan kubangan-kubangan kecil dan banyak. Daaan banyak ikannya! Geli rasanya, saat mengikuti kalian, menciduk mereka, si ikan-ikan itu dengan gayung dan mengumpulkannya di ember, penuh! Lalu terbayang kau akan membuat hidangan bumbu bali, dagingnya yg gurih dan nasi panas penuh uap, wuihh!

Vespa. Aku mengukir bagian depan motor klasik itu dengan bekas gigi-gigiku. Sengaja, in? Nggak! Itu kalau sedang jalan, aku berdiri di depan, dan kalau ada angin yg mengenai wajahku jadi ngantuk rasanya. Bisa dipastikan berikutnya, aku sudah mengangguk-angguk lalu gigi-gigiku menabrak “dashboard vespa”, aih. Kita sering pergi, dan kalian bicara macam-macam. Menunjuk-nunjuk berbagai jenis pohon, tumbuhan di sepanjang jalan lalu memberi tahuku apa saja namanya. Di hari yg lain, aku minta berhenti dan menunjuk tanaman yg cantik sekali. Sejak saat itu, akulah pengagum keindahan, penyuka tanaman.

Pekarangan. Rumput gajah yg hijau menghampar, ada tiang bendera di tengahnya. Lalu bonsai, dan dibaliknya ada bunga cocor bebek berwarna merah memenuhi sisa ruang halaman hingga ke jalan. Koleksi mawar, juga beberapa tanaman berdaun. Kebanyakan isi pekarangan berasal dari benih yg kita bawa pulang dari perjalanan. Hasil “menunjuk” dan “berhenti”, haha. Atau buah tangan saat pulang dari silaturahmi. Pekarangan menjadi relung yg dalam bagiku, tempatku tak pernah bosan bermain, hujan-hujanan, atau sekedar duduk di bawah jendela di atas teras kayu, menyapa angin dan tertidur.

Petualangan. Masih ingat saat kau terlalu sering kehilanganku begitu waktu tidur siang? ahaha. Aku pergi, melaksanakan ekspedisi yg sudah direncanakan diam-diam saat guru masih menjelaskan mata pelajaran. Aku sering ditegur karena ribut, tapi aku membalasnya dengan peringkat yg nggak pernah turun saat diumumkan pada upacara bendera. Saat itu, aku mengumpulkan banyak sekali cerita petualangan bersama teman-temanku, yg paling menarik yg penuh misteri. Anak-anak suka sekali misteri, aku tahu itu saat sudah besar. Kami sudah menjelajah hampir seluruh hutan belakang sekolah, menemukan sisa-sisa babelian dayak paser, main air di sungai, memanjat pinus dan pohon kelapa dan menengok sarang burung, menangkap ikan, menjerat burung, ikut panen di ladang orang, mengumpulkan kerang, keong. Petualangan ini berlanjut terus, dan saat kita pindah rumah, kadang petualangan itu hanya diganti dengan main layang-layang, ukulele, sepak bola, atau kasti! saat gagal karena ketahuan perginya. Tapi aku selalu mengakui kalau aku memang habis pergi, yah tentu saja. Orang-orang yg mengenaliku bermain sampai jauh akan membawakan cerita padamu suatu waktu berjumpa. Waktu itu, aku sudah lebih jago merayu, aku pulang membawa kacang panjang, kangkung, mente, daun cincau, melinjau, ikan, atau apa saja yg kadang-kadang dititipkan orang untukmu, kadang-kadang kalau petualangan kami harus berakhir di kebun, kolam, atau dapur milik salah satu orang tua teman-temanku. Akhirnya, aku tidak perlu lagi tidur siang sepulang sekolah.

Well, tulisan singkat ini selain telah membantuku mendeskripsikan corak jiwa yg dibawa sejak anak-anak, membantuku mengingat banyak hal yg menjadikan orang tua begitu menarik di mata anak-anak. Mereka seru, asyik, penuh rahasia, pandai bercerita, menunjukkan banyak hal baru, memancing dengan pertanyaan tapi pelit jawaban, harus nyari sendiri. Lalu mereka teman dalam imajinasi, mendengarkan cerita-cerita, penemuan-penemuan, hingga aku menemukan diriku, dan mengenali jawaban-jawaban tentang Tuhanku.

Dan aku menuliskan ini kembali saat aku harus menentukan pilihan studiku, mencocokkan banyak subjek dengan corak jiwaku. Lega rasanya, sekali dayung dua-tiga pulau terlampau. Nah, selamat berakhir pekan!

Terima kasih ibuqcayang, terima kasih ayah ganteng ^_^

DSC_0002
Baby Tazki, putrinya adik bungsu ayah. Dia mirip sekali dengan baby Iin dulu, ahaha
Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: