Wawancara masa depan

Salam everyone ūüôā

Setelah kemarin berhasil me-recall ingatan masa kecil, sekarang ditambah dengan apa yg sudah dilakukan hingga hari ini dan mengira-ngira. Ini menjadi penting jika tujuannya untuk memantaskan diri dalam menerjemahkan mimpi-mimpi. Kayanya sih satu set pertanyaan berikut berguna, bagiku jelas, tapi untukmu ya silahkan dicoba dulu.

Endar Widiah Ningrum

     | A biologist 

Birthplace      : Samarinda

Current City  : Bogor, Indonesia

What do you want to be when you were growing up?

Muallim, orang yg cukup tahu dan memahami mekanisme yg terjadi di alam secara menyeluruh maupun mendetail. Dulu aku pikir menjadi guru adalah salah satu caranya. Saat SMP betul-betul fovorit dengan mata pelajaran Biologi, sampet dua kali ikut Olimpiade. Aktivitas lintas alam dan halang rintang di pramuka semakin mengasah keluwesanku dalam eksplorasi.

Waktu SMA nilai fisika dan kimia lebih tinggi dari biologi, ditambah senang main ke lab astronomi dan fisika lalu bergabung di club astronomi dan selalu ikut kegiatannya. Masuk ke perguruan tinggi, Biologi dipilih karena ngerasa banyak fieldtrip-nya. Semangat kalau sudah praktikum atau jalan-jalan, tapi segera bosan setelah duduk lama mendengarkan ceramah perkuliahan. Akhirnya memutuskan untuk fokus ke salah satu mata kuliah yg menarik dan ambil penelitian di sana. Aku memilih untuk menjadi ecologist, evolutionist-environmental scientist. Ketiga subjek ini berdekatan, dan harus ditambah dengan beberapa skill di luar kurikulum, alhasil aku lebih senang belajar sendiri atau berdiskusi.

How did you get started in your field of work?

Berawal dari studi lapang di akhir semester 4, dibimbing oleh Bapak Tri Heru, dosen biologi. Keahlian beliau di fisiologi moluska, tepatnya kerang-kerangan. Waktu itu tim kami menjelajah kebun teh sebagai kolektor keong dan slug. Kami berangkat dari sore, kemudian mulai lagi jam 10 malam, dilanjutkan besok paginya. Berbekal boots, headlamp, kontainer, dll. Tujuannya untuk mengidentifikasi organisme perusak tanaman teh. Ini ekspedisi singkat yg sungguh berkesan di lapang.

Kemudian di semester 5, aku dan tim mendapatkan dana hibah untuk memulai proyek bioremidiator lingkungan dengan menggunakan jenis kerang-kerangan, masih di bawah bimbingan beliau. Kami mendirikan 6 stasiun yg isinya keramba kerang di Waduk Situ Gede, lokasinya sedikit ke arah belakang kampus. Fokus tim saat itu adalah untuk melihat konsentrasi logam berat di perairan. Pekerjaan yg banyak dan lama haha, tapi aku menikmatinya. Juga kolaborasi unik dari berbagai bidang dalam komposisi tim ini. Dan Bapak Tri Heru, beliau selalu mudah ditemui, memberikan semangat, dan menyempatkan hadir di sela-sela kesibukannya hanya untuk melihat kami presentasi. Betul-betul terima kasih telah menginspirasi, saat ini beliau lebih banyak berada di Kornita, a humble headmaster.

Berikutnya setelah berdiskusi dengan topik kerang untuk tugas akhir, aku dimimbing oleh dosen evolusi, expertise nya di molekular dan bioteknologi, Dr Dedy, lingkup studi dipersempit untuk melihat konsentrasi merkuri dan sekaligus dibalik. Bukan lagi menggunakan kerang sebagai akumuator tapi justru mengeluarkan polutan merkuri itu dari kerang-kerangan, supaya aman dikonsumsi, hoho. Disini aku berkenalan dengan Ibu Butet, dosen perikanan, molekular, beliau lembut, tegas dan keibuan. Aku belajar menyelesaikan banyak masalah lapang di bawah bimbingan keduanya. Penelitian yg extremely berkesan, huawah.

What inspires you to dedicate your life to be a nature philosopher?

Dulu saat kecil aku sudah sering diajak menjelajah alam oleh ayah, kami pergi memancing hingga jauh ke dalam hutan, gua, sungai, dan ke tepian sungai berair payau karena dekat laut. Kalau di rumah seringnya nonton wild life, aduh ini channel TV yg nggak pindah-pindah. Senang sekali membaca ensiklopedia sains, sejarah, dan pemikiran para filsuf. Sementara rasa ingin tahu aku diikuti dengan induksi bacaan kesukaan bocah-bocah, serial detektif macam Conan dan Lima Sekawan, ditambah karangan Sir Arthur C Doyle dan Mr Alfried Hitchcook.

Waktu SMA aku sering sekali menemukan “kebetulan-kebetulan” antara apa yg sedang aku pelajari dengan apa yg aku baca dari kitab al-Qur’an, yg kadang aku pikirkan sampai demam, haha (lebay) tapi iya emang. Dari situ kemudian serihan-serpihan pemikiran hendak aku gabungkan, dalam balutan lanskap indah yg dapat didokumentasikan. Sebagai nature philosopher ini, bukan pilihan aku hendak menjadi apa, tapi tentang mengerjakan apa. “Bagaimana?” akan aku jawab dengan macam profesinya, peneliti dan penulis. Sementara “Untuk apa?”, tujuan ini harus dimulai dari kehalusan budi, kemajuan pemikiran, dan inovasi dalam karya, untuk¬†mengisi peradaban madani.

What’s a normal day like for you?

Kira-kira jawaban pertanyaan ini adalah, bagaimana kiranya sebuah hari yg normal itu? Aku mulai dari bangun sejak fajar awal, membuat makanan saat cahaya matahari mulai tampak, dilanjutkan dengan aktivitas yg tidak pernah sama setiap hari. Aku seorang biologist, juga seorang explorer, aku menulis dan melukis-cahaya, sekaligus foods survivor, juga seorang nature historian yg mencintai perjalanan, aku suka bekerja di lab, di lapang, di depan komputer, bercerita juga betah sekali tinggal di rumah, dan besok¬†bahkan aku adalah istri dan ibu dalam satu hari penuh!¬†(aamiin). Sungguh hari yg “normal”.

Do you have a hero?

Allah azza wa jalla, Dia yg mengantarkan begitu banyak pahlawan ke dalam hidupku.

What has been your favorite experience in the field? The most challenging?

Favorit aku: pertama, tahun lalu saat harus sampling kerang ke Tanjung Pasir, Banten. Lokasi pantai ini unik, dia punya waktu pasang surut yg sedikit berbeda dari kebanyakan pantai pada umumnya. Berangkat jam 2 siang untuk ambil sampel dari Bogor, sampai di sana sore dan harus bermalam dulu, karena ambil kerangnya besok pagi. Berikutnya, saat berusaha memelihara kerang ini di lab penelitian, mereka jauh lebih susah ditangani dari pada kerang air tawar. Kondisi matang gonad dan tekanan dari luar menyebabkan si kerang mudah sekali memijah. Aku harus ganti air akuarium setiap 3-4 jam sekali di sepanjang minggu itu supaya mereka tetap bertahan hidup, akibatnya mata aku jadi macam hantu-karena kurang tidur. Usaha ini menemui titik terang saat lokasi sampling pindah ke Cilincing, Teluk Jakarta.

Kedua, usaha memindahkan kerang-kerang itu membutuhkan skill tambahan, nge-driver mobil. Kelak sebelum terlambat, maka selesailah urusan ini dengan sekolah mengemudi satu setengah bulan waktu itu. Berikutnya, aku mendapatkan sim A setelah lulus tes driver mobil patroli, haha.

Ketiga, belajar bahasa inggris. Aku punya kebiasaan bagus (sesekali bagus), karena beraksen kalimantan, maka aku tersetting untuk membalik subjek dengan predikat. Dan ini kurang bagus di dalam penyusunan kalimat. Akibatnya, writing test aku jelek, terlalu susah menyusun ke dalam bahasa inggris atau terlalu banyak anak kalimat (cari aman dengan sering pakai gerund). Berikutnya, dalam penulisan ejaan aku teramat lah jelek (lagi). Usut punya usut, pola belajar aku dengan pendengaran superior inilah yg punya andil besar. Aku hampir selalu menuliskan apa yg aku dengar, bukan ejaan yg benar. Haha, ini jelas butuh effort yg lumayan melaparkan untuk sekedar memperbaiki keduanya. Kelak suatu hari berhasil, aku perlu pesta perayaan sepertinya, hoho.

What are your other passions?

Stargazing, hiking and camping, singing and dancing.

What do you do in your free time?

Mungkin maksudnya waktu luang tuh, yg nggak sengaja luang atau justru sengaja benar meluangkan. Kontak orang-orang tersayang atau konversi si waktu tadi supaya jadi waktu orang lain.

If you could have people do one thing to help save animal diversity, what would it be?

Kita punya banyak sekali keanekaragaman hasil budidaya laut, utamanya ikan. Ini jauh lebih banyak daripada yg bisa dipanen dari hasil ternak di darat. Jadi, ayo pindah pilihan porsi konsumsi dengan banyak mengkonsumsi hasil laut (1). Perubahan pola konsumsi ini yg meskipun tampak sederhana namun apabila dikerjakan oleh banyak orang, akan menggeser permintaan pasar terhadap pemenuhan protein hewani (2). Apabila permintaan pasar tidak besar, maka usaha-usaha pencarian bibit unggul melalui pemuliaan, terutama terhadap hewan ternak darat yg dikonsumsi tidak akan mengalami eksploitasi (3). Keanekaragaman hewan akan stabil, salah satunya dengan menempuh pola konsumsi seperti ini (4).

Selesai, satu set pertanyaan yg bagus. Diadaptasi dari daftar wawancara para grantee-young explorer by NatGeo. Dan selamat mencoba. Selamat menemukan sosok yg makin nyata dari dirimu, di masa depan!

Salam santun.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: