Metamorfosa: Musim yg menjadi indah

Salaam everyone,

Di jum’at sore yg cerah ini aku akan bercerita, sedikit saja-boleh ya 🙂

Dalam satu tahun, kita orang-orang tropis mengenal bahwa ada dua musim, musim hujan dan musim kemarau, peralihannya-pancaroba. Banyak daerah yg jauh dari katulistiwa akan merasakan musim yg berbeda, musim panas, semi, gugur dan dingin. Aktivitas makhluk hidup sangat peka dengan siklus musim ini. Misalnya saja, di musim hujan, biji-bijian yg sedang dorman di lantai hutan akan terinduksi dan mulai mengeluarkan si calon akar. Di musim kemarau, kita bahkan bisa menyaksikan mekanisme survive untuk bertahan hidup pada hampir semua organisme. Begitu juga halnya dengan tipikal musim lainnya. Mereka menerima berbagai respon dari makhluk hidup di dalamnya. Sementara dia, musim itu sendiri adalah ekspresi lingkungan, menurutku, dia menyetir pola-pola respons dari makhluk hidup.

Bagaimana dengan manusia? Bagaimana dengan seorang muslim?

Responnya terhadap siklus alam ini pun demikian, bersesuaian dengan kehidupannya. Itu tidak jauh berbeda dengan makhluk hidup lainnya, hanya saja lebih elegan. Iya elegan, seorang muslim merespon musim dengan kelimpahan sumber daya bersama perasaan terima kasih terhadap Sang Pencipta. Lalu merespon musim survive, dengan bekal iman dan rasa sabar. Maka bertambah-tambah saja nilai hidup yg dimilikinya, karena setiap respon yg diberikannya terhadap lingkungan akan kembali lagi kepadanya. Dalam bentuk integral atau mungkin binomial.

Well, itu tadi cerita tentang musim.

Hari ini, dua orang teman baikku, Anas dan Okta telah sampai pada akad. Komitmen yg sungguh besar dan kokoh, mitsaqan ghaliza sehingga disandingkan pula dengan perjanjian para Nabi, juga perjanjian antara Tuhan dan hambaNya sejak zaman azzali.

Lanjutan cerita tentang musim, musim berlimpahnya sumberdaya dan musim survive yg masing-masing kita miliki, agaknya memang tidak sama durasinya. Panjang dan pendeknya hanya bisa dinikmati oleh diri sendiri. Berat dan mudahnya pun demikian. Ukuran-ukuran tadi kita ciptakan dalam imajinasi, lalu kita rasakan nyatanya, sendiri. Tapi dalam lingkup ekosistem yg sama, kita dapat saling mempengaruhi, begitu kan?

Dari mba Okta yg anggun, nun jauh di belakang hari, aku dapatkan nasihat indah tentang prinsip hidup, “Terkadang in, kita diuji bukan pada titik terlemah dalam hidup kita, justru pada titik terkuat itu. Pada apa yg benar-benar kita jaga, terhadap apa yg benar-benar kita anggap penting dan bernilai”.

Dari Anas, si manusia humoris, sarkas dan cerdas ini, aku belajar cukup banyak nilai, tentang kemurahan hati, keyakinan dan rasa percaya, terutama ini.

Pada awalnya, sampailah mereka berdua pada akad. Permulaan yg baik untuk melanjutkan hidup dengan warna-warna yg lebih kaya, memberi nilai pada kayanya jiwa mereka juga kehidupan yg bermanfaat bagi peradaban bumi. Semoga menemukan sakinah, bersama keberkahan dan cinta yg terus tumbuh, mawaddah. Mudah-mudahan Allah anugerahkan keturunan yg menyejukkan pandangan, teguh melaksanakan perintah-perintah Tuhan, dan menjadi kebanggaan umat Muhammad yg datang di penghujung zaman. Aamiin..

Dan semoga teman-teman dan aku yg belum sampai pada akad ini, disegerakan di waktu yg tepat, di musim yg menjadi indah tentunya, metamorfosa 🙂

Bogor, 5 Februari 2016

anas okta akad.jpg
Sesudah akad, Anas dan Okta

ref: foto dinding dari patrickclark.com

 

 

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: