Hak Cipta


Salaam everyone 🙂

Suka baca buku?

Enggak juga gak jadi soal.
Tapi tahu kan tentang hak cipta?
Ahaha, kali ini aku terusik menyoal tentang hak cipta.

Berawal dari istirahat singkat selepas isya, dan balesin mensyenan temen di sosmed. Pikiran aku malah udah jalan-jalan aja, trus ketemu sama nasihat ayah di masa lalu. Masa lalu banget yg ini mah, jaman iin masih bocah.

Kata ayah tentang kepemilikan harta dan amal shalih. Harta itu akan mengikuti pertanggung jawaban tuannya sampai di akhirat. Makanya, dulu para sahabat tak suka berharta banyak. Khawatir kelamaan perhitungannya di mahkamah Tuhan. Mereka lebih senang berlomba dalam amal shalih. Amal shalih itu berbeda dengan harta, karena dia malah harus dilepas dengan ikhlas. Kelak akan kembali sendiri untuk berhujjah atas kita tanpa diminta.

Well, terus hubungannya dengan hak cipta, in?

Harta seperti buku itu punya hak cipta. Dia termasuk produk utilities, sewa. Pembaca adalah penyewanya.
Apa yg disewa? Ya pemikirannya, atau cerita-ceritanya, juga ilmu, pengetahuan, atau sekedar informasi-disewa. Karena hak ciptanya punya yg buat. Makanya kalau mau fotokopi (sebenernya) harus izin, dan kalau mau sitasi, perlu cantumin nama.

Dalam muamalah, meminjamkan buku ini sama seperti memberikannya. Sejauh orang yg dipinjamkan dapat mengambil manfaat dari buku tersebut. Maka meminjamkan atau memberikanya ya sama saja (tidak ada beda-selama manfaatnya dapat diambil).

Yg jadi masalah adalah hak cipta ini. Kepemilikan kita terhadap buku tidak dihitung sebagai kepemilikan ilmu-penyebab amal shalih, tapi kepemilikan akan suatu benda.

Sampai disini pertanyaan aku belum terjawab memang.

Bukan kah kita kelak kita akan ditanya tentang kepemilikan harta?

Tidakkah Tuhan tentu akan bertanya pula tentang buku-buku yg sampai saat menutup mata, masih dibawah kepemilikan kita?

Apakah Dia juga akan bertanya tentang hak cipta-nya?

Terhadap isi buku-buku yg tidak kita tahu dan mengerti seluruhnya?

Dan mungkin juga terhadap isinya yg sudah kita lupakan-tentang apa dia bercerita?

Sayangnya, dia masih dalam pertanggung jawaban kita sebagai harta.

Belum lagi jika isi buku itu adalah pemikiran-pemikiran yg tidak bersesuaian dengan kebenaran.

Akan kah kita juga akan ditanya tentang pertanggungjawaban-nya pula?

Padahal yg menuliskannya saja bukan kita.

Sampai disini aku menimbang-nimbang. Mungkin apa yg dimaksud dengan hak cipta itu, hanya cocok digunakan selama kita masih tinggal di bumi.

Sementara, dalam mahkamah Tuhan, kita bertanggung jawab atas seluruhnya.

Terhadap semua yg terhitung harta. Asal muasalnya, bagaimana memperolehnya, dengan apa, lalu kegunaan, fungsi, manfaat-mubadzirnya, termasuk juga kepemilikan buku dan segala hal yg berkenaan dengannya.

Atuh pantaslah, sahabat Rasul saw tak suka “berharta”, karna pasti lama hitung-hitungnya, ya kan?

(Udahan ceritanya)

Point cerita:
1. Buku adalah benda paling nggak guna kalau disimpan aja (tuh sama aja emang sama manusia? *eh)

2. Dan berhati-hati lah dengan waktu luang, apalagi kalau pikiran kamu suka jalan-jalan (dibaca juga: ngelamun).

3. Cuma di bumi ada hak cipta, besok hari yg kita tahu adalah hak hujjah, hak pembela. Maka kirim pembela sebanyak-banyaknya, kirim amal shalih.

*Lalu kita terheran-heran karena yg menentukan masuk ke surga tidak amal shalih semata, tapi kasih sayangNya. Wallahu a’lam..

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: