Teach it first

Apa yg paling penting diajarkan pertama kali kepada seorang muslim?

Assalamualaykum 🙂

Apa kabar hidup? Semoga sehat lahir dan batin serta berkecukupan bahagia. Ini cerita yg panjang (menurutku), kalau betul-betul luang silahkan khidmat membaca, karena penting.

Pertanyaan di atas itu sederhana tapi sungguh berarti buat aku, dan mungkin kita semua. Jadi aku putuskan buat dituliskan disini. Akhir-akhir ini pikiran aku sering diajak kembali menjawab pertanyaan di atas, persisinya menambahkan contoh-contoh baru. Apa sih yg penting sekali sehingga harus diajarkan segera kepada seorang muslim?

Sholat kah? Mengaji kah? atau langsung berhaji? hehehe

Bersyahadat, tentu. Kita tahu bahwa kalimat tauhid ini adalah misi para rasul. Jadi syahadat adalah pintu gerbang dalam berislam. Mengikuti syahadat, ada konsekuensinya-syari’at. Nah, setelah bertauhid, lalu apa?

Langsung sholat kah? Eh tidak ternyata. Meskipun diletakkan di rukun islam ke-dua, tapi tidak serta merta sholat menjadi hal pertama yg diajarkan. Dan meskipun diperingatkan bahwa sholat adalah amal yg pertama kali dihisab, tidak lantas menjadi hal pertama yg dipentingkan untuk langsung diajarkan.

Apa mungkin mengaji? Kan saat sholat kita harus membaca ayat-ayat dari al-Qur’an. Jawabannya juga bukan ternyata. Mengaji penting, tapi bukan itu yg dimaksud untuk diajarkan pertama kali.

Bersuci dong kakak, nah ini dia pengantar kita menuju sahnya ibadah itu. Bersuci, atau bab thaharah ini yg penting dijarkan pertama kali kepada seorang muslim. Kita tentu familiar dengan mukaddimah mata pelajaran PAI ini kan. Dan mengapa thaharah menjadi penting, sih?

Tuh udah dijawab, dia kan syarat sahnya ibadah sholat kita.

Sederhana sekali dong, ya kalau mau sholat maka kita harus bersuci dari najis lalu berwudhu. Tapi pembahasan bab ini sungguh luas sekali, dan lengkap. Mulai dari sifat najis dan cara membersihkannya, benda yg tergolong najis, benda yg digunakan untuk membersihkan najis, juga golongan air dan derajat kesuciannya. Cara membersihkannya pun demikian, mulai dari membasuh, lalu mandi dan tata caranya. Ada berwudhu atau tayamum untuk menggantikan keduanya sebagai rukhsoh (keringanan). Sungguh pun, aku tak bahas semua itu disini. Tapi aku buatkan daftar pertanyaan di akhir tulisan untuk mengukur, apakah kita malah perlu buka-buka kembali bab ini ? untuk kembali memahami.

Well, ini nih yg jadi center point aku, menyoal najis dari air seni dan siksa kubur sebagai akibat tidak hilangnya dia setelah bersuci.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari kencing. Karena kebanyakan siksa kubur berasal dari bekas kencing tersebut.” Diriwayatkan oleh Ad Daruquthni.

Memang ya, di setiap prinsip yg dipegang akan selalu mendapatkan tambahan penjelasan baru sebagai penguat kalau kita baru mau memperhatikan kejadian-kejadian yg berhubungan dengannya.

Beberapa waktu lalu aku pergi nge-camp buat fokusin diri olah skill bahasa. Ngecamp adalah sebutan buat tinggal satu kamar dengan 5 orang dalam satu rumah yg berisi beberapa kamar. Pemilik rumah itu adalah dua orang lansia, semoga Allah anugerahkan kasih sayang diantara keduanya. Nenek, dalam kondisinya tidak dapat menahan buang air kecil, seringkali tiba-tiba hendak ke toilet, mafhum lah kami. Kadang-kadang pula, air seni beliau kami dapati di lorong dekat pintu toilet. Lantai mungkin dapat dibersihkan segera, tapi tidak jika keset kaki memang tidak diganti. Kulit kaki yg menginjak najis, tidak sama membersihkannya dengan ujung rok yg terkena najis, muslimah tentu familiar kan dengan hal ini. Kaki harus dicuci, sementara ujung rok yg terkena najis akan bersih kembali saat berjalan lalu mengenai tanah dan debunya. Tapi kan tetep aja rok kita kotor dong kakak? iya, kotor, tapi tidak najis. Poinnya, berhati-hatilah terhadap keset di tempat umum, apalagi jika kamu tidak yakin penggunanya memakai dalam kondisi bersih dari najis, sementara kamu sudah berwudhu.

Yang ini tentang kebiasaan dalam buang air kecil, saat menggunakan kloset jongkok maka pancaran air seni akan mengenai kaki jika dipancarkan terlalu nyata (perhatikan deh), membersihkannya sih mudah yaitu cuci kaki. Masalahnya buat para muslimah yg menggunakan rok dan celana panjang, menghindari yg seperti ini pasti nggak mudah. Tapi tetep bisa dihindari jika buang air kecilnya nggak pas kebelet banget, atau kontrol arusnya, atau amankan dulu pakaian bagian bawah. Alternatif lainnya bisa pilih kloset angsa, dan kalau menggunakan fasilitas umum jangan lupa lapis dulu dudukan toilet dengan tissue atau bersihkan dengan cairan pembersih kalau nggak mau ambil resiko terkena si Candida sp, penyebab masalah keputihan dkk.

Lain contoh, kalau biasa menggunakan commuter line/KRL. Kamu bisa perhatikan bagian tempat duduknya, ada nggak tuh bercak-bercak gelap/hitam. Boleh curiga, apalagi yg duduk di gerbong wanita hehee. Berhati-hatilah terhadap najis yg berasal dari darah menstruasi. Duduk di tempat umum pun demikian.

Nah, masih soal duduk-duduk. Ini buat yg rajin rapat or syura di kampus dan pilih tempat terbuka. Perhatikan juga tempat yg digunakan, ada bekas-bekas yg menandakan tidak bahwa tempat tersebut tidak digunakan bermalam oleh hewan semisal anjing. Kalau kucing sih hampir dipastikan tidak najis, tapi anjing, nah ya.

Lain kondisi lain juga siasat membersihkannya. Usaha membersihkan najis dalam kondisi normal tentu sampai hilang najisnya, usaha membersihkan najis dalam kondisi safar (perjalanan) sebersih-bersihnya, ada keringanan dalam kondisi ini. Wallahua’lam.

Dan omong-omong soal kondisi, saat sakit pun tentu berbeda usaha membersihkan najis ini. Sementara kewajiban untuk sholat tetap harus dilakukan pun saat sakit (meskipun hanya bisa dengan lirikan) tetap harus ditunaikan. Keluarga dapat membantu membersihkan najis semisal air seni ini dari kulit, pakaian, dan tempat tidur sebelum melaksanakan sholat.

Bagaimana jika merawat anggota keluarga yg sedang sakit di rumah? dan untuk beberapa contoh, tidak bisa menghindari najis yg berasal dari air seni dengan mudah. Aku pernah mengalami hal ini saat merawat kakek sakit. Ayah, waktu itu dengan telaten membantu kakek pergi ke belakang, dan untuk anggota keluarga lain, ayah mengharuskan memakai sandal jepit setelah wudhu-sampai ke tempat sholat.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At-Tahrim:6)

Nah, itu tadi soal air seni, najis, dan tips singkat untuk mengindari atau membersihkannya. Cover foto di atas mengingatkanku tentang cerita ini. Saat kemarin di awal tahun 2014 diberikan kesempatan untuk melaksanakan umrah, labbaykallah. Ceritanya bermula ketika aku hendak melaksanakan sholat di masjidil haram.

Menunggu masuk waktu sholat, aku terasa begitu ingin pergi ke kamar kecil, qod’ul hajat. Sementara jarak tempat aku dan ibu akan sholat dengan kamar kecil itu jauh, kurang lebih 300 meter dan masih harus turun tangga lagi. Aku berlari, dan di tengah jalan hatiku lalu bergumam, duhai Allah aku tak mampu menahannya lagi, bagaimana ini? Well, saat turun tangga menuju kamar kecil, kesadaranku terhempas oleh antrian panjang di setiap pintunya. Wallahi, jangan aku Kau hinakan dengan air seni Ya Rabb, aku berteriak dalam hati hampir menangis. Kakiku terus saja melangkah saat itu, lalu berhenti dalam sebuah antrian, di hadapanku ada 3 orang muslimah turki, mereka menatapku. Aku lupa persisnya mengatakan apa, “ana ba’daki” kalau nggak salah sih, kepada satu yg termuda di hadapanku. Oleh seorang muslimah yg berdiri paling depan dijawab, “ta’alii”, pintu kamar kecil terbuka lalu aku dipersilahkan menunaikan hajat terlebih dahulu. Maasya’ Allah..

Ajarkan pada anak bagaimana membersihkan najis, beristinja’ dari air seni, ajarkan ini pertama kali kepada seorang muslim hingga ia sempurna memahaminya. Karena sungguh kita sedang menolong ia meraih syarat sah nya ibadah sholat, menolong seorang muslim terhadap suatu hal yg penting di keseluruhan hidupnya adalah hal wajib yg utama. Demikianlah, apalah arti kesombongan manusia jika dia menyadari bahwa kemana pun pergi, selalu membawa kotoran di dalam tubuhnya. Yg bila dikeluarkan, bahkan dirinya sendiripun merasa jijik terhadapnya. Maka semoga Allah muliakan kita dengan adab bersuci. Selesai, semoga untukmu, ada manfaatnya tulisan ini.

Jakarta, 3 Maret 2016

Dan semoga Adik Nabil lekasi pulih (mohon do’a ya) Terima kasih, kakak ^_^

Questioning your self:

Bagaimanakah derajat kesucian air yg telah terjemur di bawah terik matahari?

Bagaimana keringanan membersihkan najis jika dalam kondisi keteter terpasang?

Apakah menyentuh darah kering yg menempel pada fasilitas umum termasuk terkena najis?

 

 

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: