Belajar dari (men)cela

Assalamualaykum! 😀

Ini tulisan yg sudah usang di kepala, apalah baru berdaya menuliskannya sekarang. Mungkin waktunya memang baru tepat untuk terbit di Ahad pagi bulan Maret 2016 ini, (lalu bilang Alhamdulillaah). Silahkan dinikmati, selamat membaca 🙂

Ada yg aku sukai ketika hentakan pertama kakiku menjejak Haramain hari itu. Kelak, disanalah aku mengambil maksud Tuhan untuk menjaga diri dari mencela, baik dilakukan oleh hati di dalam hati, maupun dilakukan oleh lisan saat sendiri, apalagi oleh jama’ah lisan, naudzubillahi min dzalik. Hari itu, setiap muhrim dan muhrimat tentu menghendaki kemurnian hati. Puncaknya di saat tahallul yg menandakan rukun haji telah tunai, maka kita berharap keberkahan, mabruran, mengharapkan dapat lahir kembali sebagaimana fitrah. Apa yg terlahir kembali? Kesucian hati ini tentu saja. Nah, berhubung postingan kali ini adalah tentang belajar dari (men)cela, mari kita awali dengan kisah Utsman ini.

Dulu sekali, nun jauh di zaman para sahabat, ada seorang lelaki yg datang kepada Utsman ibn Affan ra. Saat kedatangan pemuda tersebut, Utsman ra berkata, “Wahai fulan, aku melihat ada bekas zina di matamu”.

Pemuda ini terkejut, lalu bertanya, “Apakah wahyu masih diturunkan setelah Rasulullah saw wafat?”.

Jawab Utsman ra, “Tidak, ini adalah firasat seorang mukmin”.

Kemudian pemuda itu dengan malu lantas berterus terang, “Tadi, di perjalanan menuju kemari, aku melihat sebuah wajah pualam milik seorang wanita, aku lantas menghayalkannya”.

Melalui kisah di atas kita belajar, bahwa Utsman ra tidaklah mengetahui apa yg dilakukan pemuda tadi. Tapi hatinya mampu menangkap tanda-tanda ini dari wajah pemuda itu. Hatinya telah sampai pada kesimpulan lebih dahulu dari bukti-bukti yg mampu diterangkan oleh lisan. Mangapa bisa? Jawabannya telah ditunjukkan oleh Rasulullah saw tentang firasat seorang mukmin tadi. Rasulullah bersabda, “Berhati-hatilah kamu terhadap firasat seorang mukmin, sebab ia melihat dengan (diterangi) cahaya Allah.” (Riwayat Tirmidzi, dari Abu Sa’id al-Khudry).

Hati yg bersih akan seperti cermin. Dia memantulkan cahaya iman hingga pendarannya dapat dirasakan sekitar. Dapat dirasakan oleh dirinya sendiri, keimanan menjadi hujjahnya, menjadi penegasan terhadap apa yg dilakukannya, lalu prasangkanya adalah prasangka yg ditunjukkan oleh Allah kepada kebenaran.

Hari itu di tempat yg sama, ratusan tahun setelah kisah para sahabat ini diceritakan kembali, aku sampai di tempat yg sama. Lalu shalat di tempat ini bersama ragam wajah muslim dari etnis yg berbeda. Setelah shalat didirikan, aku bertemu dengan Umm Allatogf dari Bahrain. Ibu  yg telah memasuki usia senja ini datang untuk shalat bersama dua saudaranya, mereka duduk di shaf yg sama denganku. Kami berbincang ringan dan darinya aku mengetahui bahwa keluarganya telah menetap selama 20 tahun di tanah haram. Di tengah-tengah perbincangan, sorang pemuda-yg sebaya denganku datang menghampiri kami. Anak muda ini memanggilku dan menanyakan keadaanku yg pergi shalat sendiri. Tampaknya dia tidak menemukan wajah Indonesia lain yg tengah bersamaku saat itu. Nah, si anak muda tadi-yg aku sudah lupa namanya, lalu bertanya, “Iin, dimana ibumu?”.

Lalu jawabku, “tidak tahu dimana sekarang”.

Dia masih bertanya lagi, “Kau bawa hp?”.

Aku jawab, “tidak juga”.

Orang itu lantas melangkah pergi setelah berpesan agar berhati-hati. Umm Allatogf tampaknya menyadari sesuatu, setidaknya senyumnya telah berkata begitu. Dia menggodaku, “Iin, apa itu tadi suamimu?”

Aku jawab, “bukan, Umm”.

Dia bertanya lagi, “Kau sudah menikah?”.

Aku jawab, “juga belum, Yaa Umm”.

Umm Allatogf lantas merangkulku, dengan tangan yg satu lagi memperagakan do’a, dia tersenyum penuh dan berkata, “maka berdo’alah kepada Allah”.

Kata-kata yg diulangnya dua kali, “Nak, kau berdo’alah kepada Allah”.

Saat itu aku tersenyum membalas kata-katanya, “Allah mendengarnya Yaa Umm, bahkan kata-katamu saja adalah do’a untukku”

Demikianlah, lalu aku, Umm Allatogf dan kedua saudaranya tertawa renyah. Ya, karena hati kami bersepakat, bahwa keberadaan seorang suami dalam setiap safar istrinya, adalah bangunan kehormatan bagi iffah dan izzah sang istri. Sesuatu yg sama tandingannya ketika anak perempuan berjalan bersama ayahnya, pun juga dengan saudara lelakinya. Sesuatu itu tidaklah sama meski ia keluar bersama ibunya, juga dengan saudari perempuan atau teman-temannya. Demikianlah, serahkan penjagaanmu kepada lelaki muslim yg kuat, yg Allah datangkan kepadamu dengan penuh kelembutan, dan dengan penuh hormat ia memintamu dari ayahmu.

Apakah tulisan ini sudah selesai? Belum. Cerita barusan baru pembuka.

Ini tentang belajar dari (men)cela tadi, dua kisah di atas adalah contoh dari firasat. Masih ada contohnya, yg ini bukan dari koleksi pengalaman pribadi, tapi dari seseorang yg berkenan berbagi ibroh terhadap pengalaman hidup yg telah ia jadikan pelajaran.

Suatu hari, katanya, “Aku melihat seseorang yg berwudhu dengan banyak sekali air. Yg aku tahu bahwa menghambur-hamburkan air saat berwudhu termasuk dalam perbuatan mubadzir. Rasulullah saw pun mencontohkan kita, berwudhulah dengan air yg sedikit, secukupnya. Maka hari itu, saat melihatnya berwudhu dengan cara demikian, aku lantas bergumam di dalam hati, ‘betapa borosnya dia!’. Tidak tahunya, di hari-hari kemudian, aku ditimpa sakit yg menyebabkan aku tidak dapat menggunakan air sama sekali. Ini menyedihkan”, ujarnya.

Ada lagi cerita yg lain, suatu hari aku sedang berpergian mengendarai motor. Saat itu aku sedang memikirkan fee parkiran di negeri Sakura yg katanya mahal supaya penduduknya bisa menerapkan Go Green, dan emang ngefek ternyata. Lantas membandingkan dengan sistem yg serupa yg hendak diterapkan di kampus rakyat ini (karena waktu itu masih mahasiswa), untuk berkendara di kampus-bayar, parkir kendaraan pribadi-bayar. Nah, karena terbiasa dengan bayar-bayar, keluar kampus pun punya mindset begini, “parkir-bayar”.

Kembali pada cerita tadi, di tengah jalan saat berkendara, aku melihat sebuah mobil keluar dari parkiran dan melemparkan koin lima ratus kepada petugas parkir. Dia, bapak petugas parkir tadi lantas berupaya meraih si uang koin yg sudah menggelinding ke trotoar.

Kali ini, giliran aku yg bergumam dalam hati, “Adohai, susah kan? kenapa tak beri uang ribu, hai!”

Hari terus berlalu, suatu waktu aku mampir ke ATM dan hendak pergi segera, bapak parkir disitu lantas mengarahkan motorku dan bersiap menerima, “bayar”an tadi. Aku teringat bahwa selain pecahan uang yg aku ambil dari ATM, aku memang nggak bawa uang lagi. Sambil malu-malu aku sampaikan kepada si bapak, “pak, saya ke seberang dulu ya cari pecahan dulu”.

Si bapak yg mengerti lantas tersenyum, “atuh teh, teunenaon”.

Sambil garuk-garuk helmet (yg pasti nggak gatal), aku pergi, “iya, makasih ya, pak”, kataku.

Well, disitu aku baru menyadari sebenarnya. Barangkali, si mobil yg kemaren cuma nemuin koin gope’ di atas dashboard-nya, sementara di loci uang udah nggak ada lagi. Ditambah kesulitan menyeberang jalan, daripada nggak ngasih ya barangkali dilempar saja lebih baik. Ah, dunia, haha. Karena yg tampak di mata memang bukan bayangan sebenarnya, kan?

Sampai disini, poin pentingnya adalah, jika dibandingkan. Maka daripada firasat yg hadir dari hati seorang Utsman ra, kebanyakan dari kita justru lebih sering berprasangka. Karena itu prasangka memang hendaknya dikelola. Karena kalau dilihat-lihat, Allah juga kasih kita ujian dari prasangka yg kita hasilkan, maka sebaiknya segera belajar dari (-)cela diri sendiri, ehehe.

Tulisan selesai! Selamat berlibur ^_^

Foto cover: Sketsa skylight pertama iin. Masih ada sekitar 20 judul terhutang dari frame perjalanan ini yg belum dituliskan. Mohon do’anya supaya segera dituliskan ya (aamiin..)

Pesan sponsor (Ps): Dan semoga yg sudah ingin berjodoh, segera berjodoh dengan jodohnya dan jangan banyak berprasangka. Credit buat grup 24_ours cantik *kedipin mata, amin yg kenceng, sama sama2 siapin diri juga jangan lupa.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: