Ayam bakar Kutai dan Hardiknas

Assalamualaykum! ^_^

Selamat Hari Pendidikan Nasional! Semoga pejuang pendidikan, guru dan murid dan segenap insan perawat juang kita, berlimpah syukur dan bahagia. Mengingat pendidikan yg telah sejauh ini aku tempuh, ada rekaman yg lekat sekali di ingatan, diikat oleh cita rasa penuh kesan, ayam bakar bumbu Kutai.

Maka di kesempatan yg baik ini, akan aku perkenalkan sebuah keluarga yg meletakkan kesan mendalam pada memori aku disepanjang dedikasinya terhadap dunia pendidikan. Dan karena ingatan aku bekerja dengan baik sekali pada cita rasa makanan, maka ayam bakar Kutai ini sukses merekam dengan baik kesan aku tentang mereka, Keluarga Pak Yit dan Ibu Parmi.

Waktu itu aku duduk di kelas dua SMP, biasanya pagi-pagi sekali aku sudah pergi ke sekolah buat sarapan di kantin Ibu Parmi. Siapa Ibu Parmi? Beliau adalah guru kesenian di sekolah. Pelajaran melukis dan keterampilan musik paling aku sukai karena bebas berekspresi rasanya. Satu-satunya saingan aku waktu itu, sang karib aku, Putri Salamun, haha.. (dia nih yg ulang tahunnya pas hardiknas). Anak sulung dan bungsu Ibu Parmi, Mas Iik dan Dek Adib, temen ngedribble bola basket di sekolah kalau main tiap sore. Suami beliau, Pak Yit adalah guru mata pelajaran keterampilan jasa, ini muatan lokal akutansi. Dan karena saat itu aku berada di bendahara OSIS, jadilah Pak Yit ini mentor aku, sekaligus pembina pramuka di sekolah. Omong-omong pembina pramuka, beliau ini yg banyak menstimulus kreativitas dan mendukung aku untuk memiliki banyak keterampilan hingga dapat bergabung di pesta jambore nasional tahun itu, 2006 di Jatinangor-Jawa Barat, pertama kalinya aku tiba di lembah indah Manglayang (dulu indah loh, serius). Masih tentang Pak Yit, guru penuh dedikasi ini, di tahun yg sama, mendampingi aku melewati masa-masa inkubasi seleksi tahunan kreativitas pelajar, dan beberapa kali melewatkan pelajaran di kelas untuk membuat prototype green residence. Didampingi Pak Yit, aku menghabiskan waktu di Lab dan Perpustakaan untuk mendesain prototype perumahan guru dengan energi hijau, tenggelam dengan asyiknya aktivitas itu, sampai-sampai aku menyangka di masa depan aku bakalan jadi arsitek, hahaa. Tapi takdir menjawab lain, karena dua kali dijorong buat ikut olimpiade biologi oleh Pak Ramin, guru biologi kami saat itu, jadi minatku mulai melangkah teratur di sisi ini. Untuk bagian ini, aku betul-betul berterima kasih karena hari ini sudah berkesempatan mengangkat sauh dari jurusan Biologi.

Well, masuk ke cerita utama, kenapa ayam bakar kutai ini begitu mengesankan. Apa karena bumbu dan sambalnya yg begitu candu? aku juga nggak nemuin ungkapan buat mendeskripsikannya gimana. Waktu itu heran juga dikasih bumbu apa sama Bu Parmi. Tapi yg jelas di masa-masa itu, aku lebih sering sarapan di kantin beliau pagi-pagi, bikin sang Ratu di rumah sampai cembura, hiyahaha. Dan berangkat pagi-pagi, padahal jarak rumah dan sekolah cuma 100 meter, wkwk. Bener-bener nggak mau melewatkan saat-saat dimana ayam ini baru diangkat dari panggangan dan uap nasi masih mengepul panas, huh! Sambil ngobrolin prototype green residence dengan Pak Yit, atau di waktu lain membahas persiapan seleksi jambore. Siangnya, kalau aku sedang menghabiskan waktu di Lab atau Perpus, aku bisa jadi kompetitor tercepat buat dapetin itu nasi ayam bakar, haha. Itu karena Ibu Parmi juga nititip ayam bakar ini di menu koperasi sekolah, lokasinya strategis karena persis di samping perpus dan terjangkau dari Lab. Sementara kelas aku sendiri, seperlempar diagonal dari lokasi koperasi, persis di samping kantin Bu Parmi tadi itu, maka nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan, in? Ini malah yg sering jadi stimulus buat cepet-cepet menyelesaikan tugas atau PR persis saat diberikan, jadi bisa keluar kelas paling cepat saat bel istirahat bunyi. Dan kebiasaan tadi malah jadi bagus karena aku hampir nggak pernah merasa perlu bawa pulang buku pelajaran, ditaroh di loker meja semua. Toh ibu di rumah juga gak protes nyuruh-nyuruh belajar selama rangking aku masih anteng. Nggak cukup sampai disitu, ayam bakar kutai ini yg hampir tiap sore pas beres main basket atau beres agenda pramuka dan OSIS, bikin aku iseng buat mampir lagi ke kantin Bu Parmi tadi. Udah tutup memang, tapi biasanya ibunya masih suka beres-beres dan haha, di waktu yg tepat biasanya aku masih bisa dapetin seporsi ayam bakar lagi, huh! sisa bakaran terakhir buat anak-anak yg bimbel sore. Beberapa tahun yg lalu keluarga Pak Yit dan Bu Parmi pindah rumah, sekarang jadi persisi di depan rumah kami, bersamaan dengan nikahannya Mas Iik, tapi waktu itu aku nggak bisa pulang karena masih jadi panitia acara kampus, hwaah.

Nah, itu tadi sekeping puzzle memori yg diikat oleh cita rasa ayam bakar kutai. Semoga Allah limpahkan kasih sayang untuk keluarga pendidik ini, dan Ia eratkan ikatan silaturrahiim-nya pada hati-hati kami. Kalau direnung-renungkan sedikit, ayam bakar kutai tadi memang nggak jadi co-aktor di cerita aku masa-masa itu, tapi mengisi berbagai kesempatan dalam banyak episode. Dan mungkin ada banyak yg seanalog dengannya, beda rupa aja barangkali. Misalnya, orang-orang yg sama dan hampir selalu mengisi episode hidup kita pada waktu-waktu tertentu, tapi tidak jadi lawan main. Hanya membantu kita bermain. Terlepas dari itu semua, manis sekali bukan? Kalau ternyata hanya diperlukan sebuah kehadiran, untuk dapat membantu orang lain agar bermain dengan baik.

Pada akhirnya,
Selamat hari pendidikan Nasional! Semoga Allah limpahkan berkah dan curahkan kasih sayangNya terhadap semua guru yg telah dan sedang mengajar di sekolah-sekolah kehidupan kita, aamiin..
ayam bakar kutai1
Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: