Jujur

Dalam kacamataku yg tidak minus atau plus atau silinder, dia adalah urusan yg paling privasi. Urusan antara kau dengan kau. Kalau diletakkan urusan jujur pada sel-sel hati. Maka jujur itu urusan antara sebuah sel dengan satu kesatuan kompak di dalam dirinya. Disanalah ia bermula. Andaikata sebuah lokus dalam rantai materi genetik, tidak jujur mengekspresikan apa yg dibawanya. Itu pasti tersebab sintesis protein yg salah menafsirkan instruksi sebuah pesan. Dan enzim yg pada dasarnya berfungsi menghambat atau mempercepat reaksi sama sekali tidak mendapatkan petunjuk, harus melarang atau mendukung atau malah diam saja. Dia kemudian menjadi sebuah konstitusi yg buta, tuli, sekaligus bisu.

Maka jujur itu urusan antara sel dengan sel-sel tetangganya. Bagaimana jika mereka,  sel-sel itu lalu berbohong satu sama lain? Neuron dan sinaps saling berdusta tentang berita yg dibawanya, tidak mau mengambil pekerjaan berat melebih yg diterima temannya, dan tidak mau menempuh perjalanan lebih panjang juga usaha lebih melelahkan demi menyampaikan kebenaran, mengantarkan kejujuran?

Aku kira tidak ada manusia berakal yg dibangun oleh sistem tubuh seperti itu. Atau bagaimana jika semua sel, organisasi organ, sistem tubuh manusia, berkhianat dengan amanah yg diembannya? Berlaku sewenang-wenang dengan kemampuan yg dimilikinya?

Maka kiamatlah dunia sel, kita mungkin tidak akan pernah membuka mata, meraba dunia. Jangan kan menjadi sesuatu yg tanpa rupa, tentu kiamat telah mendahului kehidupan. Kemudian penghianatan tersebut menjadi sesuatu yg keji, pembunuh kehidupan.

Kejujuran, nyawa kehidupan. Dia adalah urusan yg sangat besar. Dia sintesis protein, katalis enzim, ekspresi gen. Dia adalah sel. Dia melibatkan sirkuit neuron dan sinaps di seluruh tubuh, sungai-sungai arteri dan vena. Dia adalah kecerdasan, dan dia adalah gerak. Dia adalah kehendak fitrah. Yang menerbitkan kemurnian hati.

Maka kejujuran Tuhan meliputi setiap detail penciptaan semesta.

Maka jujur adalah janji yg diambil dari para Rasul untuk menyampaikan kebenaran.

Dan dia adalah mitsaqan ghalidza, ketulusan untuk membersamai kebenaran.

Bandung, 30 Agustus 2016

Dalam perjalanan memahami kejujuran.

 

Iklan

One thought on “Jujur

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: