Fruzhin

Pulang dari luar kota, dan aku baru duduk di bangku kelas dua saat ayah menyodorkan sebuah buku dengan judul menarik, “Ambilah hikmah meskipun keluar dari mulut keledai”. Bertahun-tahun kemudian di masa depan, baru aku sadari bahwa mencari oase ilmu itu tidak melulu dari hal-hal yg tampak baik, terbungkus baik, terlihat rapi, dan membahagiakan hati. Dari keributan adik-kakak, kejadian memalukan hoho, saat melihat kemungkiran penguasa jahil misalnya. Ada hikmah-ada pelajaran. Supaya syukur, upaya sabar. Sampai aku menyadari, kalau ternyata dalam Al-Qur’an pun hampir semua adalah kisah yg tak hanya baik-indah tapi juga kemungkaran-buruk. Supaya? Kita berhikmah dengan yg baik untuk keteladanan, berhikmah pula dari yg buruk sebagai peringatan.

Well, post kali ini isinya kutipan. Setelah kemarin sempat nggak jadi masuk kelas sirohnya Ust. Budi Ashari, Lc yg begitu diinginkan, hoho. Seminggu ini jadi menghibur diri dengan bacaan sejarah yg modelnya naratif karena jauh lebih ringan. Yg begitu halal menyenangkan. Dan kesenangan yg halal itu mahal harganya. Ya nggak? hehe..

Judul bukunya, The Chronicles of Ghazi seri ke-4 cerita oleh Ust. Felix Y. Siauw, dan yg kedua judulnya Humaira by Kamran Pasha. Ini bagian kutipan saat Mehmed, putra Sultan Murad  yg naik tahta di usianya yg belia, 12 tahun. Beliau saat itu belum tiba pada momentum penaklukan Konstantinopel, sehingga tahta diserahkan kembali kepada ayahandanya. Nah, soal Fruzhin, dia adalah pangeran Bulgaria-tokoh di dalam kisah Ghazi yg hidupnya penuh kemalangan. Fisiknya tangguh, wajahnya tampan, dan amat bernafsu untuk membalas dendam kepada Turki usmani kala itu. Aku berhikmah dengan kehadirannya, maka jadilah dia judul untuk postingan kali ini. Foto (by google search.)

Eum, fungsi sejarah secara pribadi buat aku, adalah rekam mozaik hidup yg sudah dilalui oleh orang-orang terdahulu. Yg paling kerasa tuh, kalau kondisi diri sedang berada pada titik nadir *eits. Menengok sejarah yg isinya perjuangan dan kondisi ekstreme, cukup meluaskan pandangan bahwa apa-apa yg sedang dihadapi ternyata kecil, belum apa-apa, yg kadang malah mengembalikan semangat, merajut kembali optimisme hidup. Bahwa aku bisa kok menjawab panggilan hayyalal falah itu.

Nah, berikut kumpulan kutipannya (milihnya emang disesuaikan sama kondisi yg baca, barangkali ada yg sama bergunanya pas baca ini, silahkan 🙂


“Aku tidak percaya adanya jalan buntu,” tiba-tiba Mehmed mengancungkan telunjuknya. “Allah pasti akan memberikan jalan keluar, asalkan kita tetap yakin dan bertaqwa kepadaNya. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita. Dia pasti akan memberikan jalan. Pasti! Maka sekarang aku akan memberikan misi rahasia untuk kalian semua. Dengarkan baik-baik, dan laksanakanlah!” ~Ghazi, hal.106

“Ketahuilan sesuatu, Mehmed, tak peduli apa yang dikatakan banyak orang di luar sana, ayah percaya kepadamu sepenuhnya. Di balik pintu ini, kau akan menghadapi banyak ujian dan cobaan, dan jangan pernah menyerah di hadapan itu semua. Jadilah sultan yang teguh, mintakan selalu pertolongan kepada Allah. Jangan jauhi guru-gurumu, bersahabatlah dengan para ulama. Karena merekalah yang akan selalu menunjuki dirimu kepada kebenaran. Sayangilah bawahan-bawahanmu, dan bersikap lembutlah kepada rakyatmu.” ~Ghazi, hal.186

“Jika kau lihat ada kebaikan yang pernah ayah lakukan, maka teladanilah itu. Selain itu, masih ada banyak hal yang belum sempurna dari kepemimpinan ayah, maka sempurnakanlah. Ayah percaya, tak lama lagi, kau akan melakukan semua itu.”

 “Bagaimana mungkin aku bisa menjadi pemimpin yang lebih baik dari ayah jika banyak orang meragukan kepemimpinanku?”

 “Kita tidak akan bisa meyakinkan semua orang, Mehmed, hanya saja yakinkanlah hatimu sendiri, kemudian kokohkan dan pancarkan tekadmu itu. agar Allah subhanahu wata’ala menyaksikannya, dan kelak Dialah yang akan meyakinkan semua orang untuk bersatu di bawah kepemimpinanmu dan meraih kemenangan Islam. Selain itu… ayah takkan meninggalkanmu begitu saja. Kelak ayah akan mewariskan sesuatu kepadamu.” ~Ghazi, hal.209 

Al Qur’an itu berukuran besar, dengan barisan huruf-huruf yang indah. Mehmed langsung tenggelam dalam alunan suaranya sendiri yang menyiratkan kerinduan kepada Tuhan. Walau berbagai kekhawatiran dan keraguan menyiksa hatinya, Al Qur’an menjadi penawar yang indah. Dalam bacaannya itu, ingatannya kembali kepada peristiwa yang telah lalu. ~Ghazi, hal.216

Hawa musim semi begitu nyaman, membuat lelahnya tubuh mereka menjadi berkurang. Begitu besar perjuangan yang sedang mereka jelang, maka mereka pun menyambutnya dengan tindakan-tindakan terbaik yang bisa mereka lakukan. Sambil mengharap ridho dan ampunan dari Allah Sang Penguasa Semesta. Dialah yang meniupkan angin, membuat Mehmed dan kawan-kawannya merasakan kesejukan yang ramah. Langkah kuda berketoplak memukul-mukul bumi, punggungnya naik-turun pelan. ~Ghazi, hal.269 

“Yang mengembuskan keraguan, penderitaan, dan ketakutan, ke dalam hati manusia adalah setan. Mereka telah bersumpah untuk melakukan semua itu sejak dahulu kala, dan mereka akan terus begitu hingga akhir dunia.”

Mehmed terus terisak hingga air matanya tercurah ke atas sajadah. Wajahnya tertunduk kepada bumi dan segala harapannya menguar akan jalan keluar. Apalagi yang bisa dilakukan seorang anak manusia jika dia sudah berhadapan dengan setan bernama kebingungan? Sudah banyak orang yang tersesat jalan karena kebingungan, dan sisanya mati bunuh diri. Kebingungan memang mengerikan, mencengangkan, ia sanggup mengubah hati dan diri seseorang. ~Ghazi, hal.291

“Maka hadapilah semuanya dengan gagah berani dan kuat. Berdo’alah kepada Allah, dan jangan pernah menyerah. Kemenangan itu adalah ketika tidak ada lagi keraguan sedikitpun di dalam hati kita, bahwa Allah pasti akan menolong kita. Tidak peduli apa yang dilakukan dan apa yang dikatakan semua orang, kita tetap teguh di atas keyakinan itu.” ~Ghazi, hal.293

“Kau tahu, Mehmed, bahwa anak panah harus ditarik mundur, barulah dia bisa melesat secepat kilat. Allah sedang merencanakan yang terbaik, insya Allah, maka mundurlah dulu, kelak kau akan melesat jauh kepada suatu tempat yang semua orang belum pernah berada di situ!” ~Ghazi, hal.293 

Surat Sultan Mehmed kepada ayahandanya di Amasya:

Siapakah yang saat ini menjadi sultan,

aku ataukah ayahanda?

Jika ayahanda yang menjadi sultan,

maka datanglah kemari dan pimpinlah pasukan ayahanda. 

 Tetapi jika ayahanda menganggap aku sebagai Sultan Turki Usmani, 

maka dengan surat ini, aku perintahkan ayahanda untuk datang kemari 

dan memimpin pasukanku ke medan perang. 


“Kau sudah cukup menghukum dirimu sendiri, wahai putra Al-Khatab,” kata beliau dengan lembut. “Islam itu bagaikan sebuah sungai. Ia membersihkan mereka yang menenggelamkan masa lalu mereka.” ~Humaira, hal.91

Namun, segalanya harus berakhir. Kita tidak bisa menentang kebenaran dan tenggelam dalam duka atau kita menyerah dan hanyut ke dunia baru tempat arus sungai kehidupan menyeret kita. Pasrah adalah yang kupikirkan sejak semula karena itulah makna Islam itu sendiri-menyerah kepada kehendak Allah. ~Humaira, hal.142

Jika aku mempelajari sesuatu dalam hidupku, Abdullah keponakanku tersayang, itu adalah bahwa rasa takut itu musuh paling buruk dari jiwa seseorang. Karena apa pun yang kita takutkan, ia akan mendatangi kita dengan bergegas laksana anak panah yang menyeberangi ruang waktu. ~Humaira, hal.209 

Kebaikan itu tidak dipaksakan, dia terpanggil untuk datang ke dalam hati 🙂

~iin yang lagi belajar

Iklan

2 thoughts on “Fruzhin

Add yours

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: