Dua Menit Berbagi: 212

Saat berangkat aksi super damai gelar sajadah, tepat setelah subuh tadi aku udah berharap dapat sampai di titik kumpul relawan, balai kota tepat waktu. Qadarullah, KRL yg ditumpangi harus antri, 2x berhenti untuk masuk stasiun. Sampai di sana, monas udah sesak bak wukuf arofah, sementara posko yg dituju sudah selesai mengerahkan relawannya. Akhirnya aku bergabung dengan posko di luar gerbang, cuma bisa berdiri kemudian mendistribusikan nasi bakar dan air mineral yg melimpah jumlahnya. Itu pun udah berkali-kali ditolak, karena jamaah yg lewat udah pada dapat bekal dari jalan. Sampai disini terbayang olehku harta zakat yg pada zaman 2 Umar ra. telah menjawab hadits tentang para amil yg kelak akan kesusahan menemukan sang mustahiq. Kondisi ini terasa berulang, hari ini.

Lalu sepanjang pengamatanku, di sayap medis dan relawan sudah tercampur kerja ormas dari mana saja, apalagi saat hujan turun. Muslimin-muslimat saling bantu berwudhu, semangat persatuan menyisihkan perbedaan-perbedaan apapun yg mengemblemi tiap pribadi. Fathul makkah, aku merasakan tiupan anginnya telah hadir disini.

Kemudian saat ummah bubar dan pulang jalan kaki. Lorong-lorong jalan, stasiun, gerbong kereta, di angkutan umum. Untuk sesaat, manusia sosial ini berbicara satu sama lain. Menyapa, tersenyum meski tidak saling mengenal sebelumnya. Entah karena gadget telah kehabisan daya, atau memang aksi super damai tadi telah mengalihkan antusiasme kita dan beralih terhadap kehidupan nyata (?) Ataukah ini tersebab sunnah, ucapan salam yg dapat menghangatkan jiwa itu terlaksana.

Terakhir, aku melirik al-qur’an sakuku, mengelusnya kini terasa jauh lebih bermakna. Membaca huruf dan rangkaian kalimatnya lalu menyeretku dalam kisah dan hikmah. Pikiranku bekerja dalam mengartikan makna, aku menemukan tadabbur, kekuatan bacaan yg selama ini terlalaikan. Disitu aku sadar, 212 tidak perlukan aku sebetulnya, toh disana telah berlimpah manusia. Tapi sesungguhnya akulah yg butuh hadir disana, butuh kesadaran yg dibangunkan dari lalainya. Dan menjadi satu dalam gelombang jamaah yg terbentuk, ini perasaan luar biasa.

Sampai disini, tidakkah kita juga sama berpikir. Bahwa kualitas persatuan ini dapat meningkat dari latihan-latihan. Indonesia sedang bersiap bukan (?)

Jakarta 212

Allahu Akbar!

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: