Ghumaisha

“Kita banyak yg pandai berdebat, tapi tak jujur dalam bersahabat”

~Bersamamu di jalan dakwah berliku

Adalah manis adalah kecut, kejujuran. Suatu hari Dawud alaihissalam didatangi oleh dua dua orang bersaudara yg sedang berselisih. Mengadulah seorang ini kepada Dawud ihwal saudaranya yg memiliki 99 ekor kambing betina sementara ia hanya memiliki satu saja. Lalu saudaranya tadi (pemilik kambing terbanyak) berkata, “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku! kemudian ia mengalahkannya dalam perdebatan.

Serta merta Dawud memutuskan perkara keduanya seraya berkata, “Sungguh dia, telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak diantara orang-orang yg bersekutu itu berbuat zalim kepada yg lain, kecuali orang-orang yg beriman dan mengerjakan kebajikan, dan hanya sedikitlah mereka yg begitu”.

Dawud alaihissalam menduga bahwa Kami mengujinya, maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Dikisahkan dalam surat Sad ayat 22 dst.

Suatu hari, Ghumaisha ditinggalkan sang suami pergi, saat itu dakwah telah terbit di gurun tandus Makkah. Ghumaisha yg cerdas, cantik, dan lembut, telah mendapati kebenaran dakwah, hatinya berikrar iman. Ia yg cinta suaminya kepadanya termat dalam, mendapati pertentangan keras setibanya sang suami di rumah. Dalam usaha hijrah, Ghumaisha turut serta dalam kafilah muhajirin, ia bercerai dengan sang suami.

Setibanya di Madinah, banyak lamaran ditujukan kepadanya. Namun keteguhan hati dan kasih sayangnya yg besar terhadap putranya, Unais, meneguhkan perjuangannya membesarkan Unais-sang Anas kecil. Sampai pada suatu hari, Anas ra telah cukup besar, datanglah Abu Thalhah, ia seorang pembesar Anshar yg masih musyrik kala itu. Pada kedatangannya yg kedua kali, Ghumaisha berujar, “Pergilah kepada Rasulullaah. Lamaran engkau tak selayaknya aku tolak. Sementara aku adalah muslimah. Dan muslimah tidak menikah dengan lelaki musyrik”.

Maka pergilah Abu Thalhah kepada Rasulullah saw, sedang di matanya telah terpancar binar iman. Maka mulai hari itu, waktu telah menyampaikan berita kepada kita, tentang seorang muslimah dengan mahar termahal di sepanjang sejarah, yaitu Islamnya Abu Thalhah.

Demikianlah, kejujuran Dawud mengungkapkan kealpaan pertimbangannya dalam memutuskan perkara, bukanlah kejujuran yg manis, tapi berbuah ampunan dan karunia dari Tuhan pemilik semesta raya. Kejujuran Ghumaisha dalam menyatakan keimanannya berujung pada perpisahan yg mengiris hati. Kejujuran yg mengantarkan ia pula untuk teguh berjuang, rela berkorban, ikhlas menerima. Kejujuran yg dalam banyak aspek tidak selalu nikmat ini, adalah ujian yg diujikan berulang-ulang terhadap suatu hubungan. Manusia dengan Tuhannya untuk sebuah tujuan “ridhaNya”, manusia dengan manusia dalam “ukhuwahnya”.

Kejujuran, dia akan selalu berteman dengan keberanian dan kebenaran, untuk menyalakan iman, meneguhkan ketaatan. Kejujuran adalah keshalihan yg diwariskan.

“Dan kepada Dawud kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)”. QS Sad:30

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: