Soalnya dulu dia ganteng

Lepas subuh, tetangga aku buru-buru mengejar ke teras masjid. Sudah seminggu iin nggak kelihatan emang, abis dari Bengkulu nih, Oma! haha, dan selesai sholat langsung cabut pulang, eh eh si iin.

Ternyata si Oma ngajak jalan-jalan.

Dan kesinilah kami pergi,

oma-oma-komplek
Tampak belakang: Waduk Jatiluhur, Purwakarta-Indonesia (Iin yg mana?) Coba cari, hehe

Tak enak hati menolak tawaran Oma-oma enerjik nan rajin jama’ah di masjid, itu loh yg kemarin sempat iin tanyain dimana makamnya, wkwk (rujuk cerita sebelum ini). Dan turutlah daku pergi, uwow. Paling muda dong, in? Da aku mah angkatan kepala 2, yg pergi udah kepala 5 dan 6 (Makanya nggak ada iin di foto itu, kan?)

Well, kerjaan iin adalah jadi fotografer jalanan buat oma-oma di komplek (sekaligus kampanye bentar lagi pilkada hoho). Enggak kok, nggak becanda 😀

Pergi bareng oma-oma itu yaah, kerjaannya becanda aja sepanjang jalan. Dan ada beberapa poin yg jadi penting buat iin (kita harus tetap ambil ibrah, kawan). Apa tuh?

Ehem, pelajaran nomor 1

Kalau kita udah memasuki babak hidup lanjut usia, denger si-A, si-B udah nggak ada itu udah biasa. Ini Oma Ade yg cerita, temen sebangku iin di sepanjang perjalanan. Usia beliau 66 tahun, masih gahoel sana-sini. Masih canggih, masih bisa gunakan gadget.

Kata si Oma, “Ya gitu in, waktu reuninya kita di grup whatsapp tuh suka nanya-nanya kabar. Si-A gimana kabarnya? Si-B gimana? Ntar tau jawabannya, eh si-A udah pulang tuh tahun sekian. Si-B baru aja berangkat kemaren”.

“Kalau udah gitu ya, in. Berasa dah kita ini yg hidup paling lama, dapet bonus usia lebih dari enam tiga, wkwk. Alhamdulillaah..”

Reaksi iin? Bengong (nampaknya, mudah aja bilang blah-blah demikian). Duh, oma..

Trus pas tiba jam kuis. Ini perjalanan juga punya doorprize loh, wkwk (kalau bisa jawab kuis), hadiahnya bross cantik. Kuisnya gampang, contohnya, Siapa nama ayah Khadijah.ra? Tanggal berapa Rasulullah saw dilahirkan? Siapa wanita yg menyusui beliau?

Gampang pertanyaannya, gampang juga jawabannya, kan? Yg seru itu cara mereka menjawab. Bener-bener pakai mikir, berebut angkat tangan. Tapi jawaban masih dilempar-lempar, haha. Jadi asyik ngelihatnya, sempai iin lupa angkat tangan, wkwk. Terpukau dengan peristiwa tersebut.

Pelajaran nomor 2, bahkan jika pun dulu sewaktu muda, adalah kita orang yg pintar. Bagi kebanyakan lansia, memproduksi kata-kata yg telah dipikirkan tidaklah mudah. Kadang setelah pikiran itu tiba di ujung lidah, kelu. Kadang apa yg diucapkan tidak bersesuaian dengan apa yg dipikirkan. Nah loh, kenapa bisa? Philip G.Zimbardo dalam Psychology & Life menjelaskan, bahwa lansia adalah tahap akhir dari proses penuaan. Di masa ini, kemampuan manusia merespon dan memutuskan sesuatu akan semakin menurun. Cara megingat alami (unconclously memorized) masih dapat dipertahankan, caranya adalah dengan memperbanyak interaksi sosial. Maka jalan-jalan begini adalah sesuatu yg bagus buat lansia, haha. Oma di sebelah iin pun cerita, kalau kerjaan dia dan si kakek emang jalan-jalan teruus. Pakai garis bawah, jangan nunggu tua juga sih, baru mau jalan-jalan hehehe.

Pelajaran nomor 3, kita perlu menerima berhentinya produktifitas secara biologis.

Lansia adalah masa berjaya menikmati ibadah, khususnya bagi wanita. Maka tampaklah di masjid, jama’ah paling rajin, full dan on time itu tuh para lansia. Eh tentu! Kan udah nggak ada libur-liburnya, pun uzur karena masih ditunggu baby menyusu. Joke rada fulgar yg iin temui di jalan adalah saat waktu sholat tiba. Kata salah satu oma yg memandu perjalanan, Hayo, turun sholat semua yaa! “Kalau masih ada yg menstruasi, berarti masih muda! Oke!” Gelak tawa, riuh terdengar. Ya emang, duh Oma, bus dikosongkan, semua sholat.

Perjalanan BSD-Perwakarta menempuh waktu sekitar 3 jam karena padat kendaraan di tol. Sayup-sayup oma di belakang iin memulai cerita, kali ini soal kisah kasih, tsaah. Apa ceritanya?

Suatu hari, di usia menginjak 70an, ada oma-aki yg reuni. Bertemulah ia dengan sang pemuda pujaan hatinya dikala muda. Dan ya, oma-oma jaman sekarang udah beda loh sama oma-oma jaman dulu, pada melek gadget doong, haha. Chatting lah mereka dengan mengharu biru. Sang cucu, yg melihat oma-nya kasmaran, lalu bersedia mengantarkan sang oma ke Sukabumi, bertemu dengan yg tadi, si pemuda pujaan hati.

Setibanya di tempat yg dijanjikan, mereka bersua. Semenit dua, sejam berikutnya, si Oma udah minta pulang. “Eh kenapa, Oma??” Tanya sang cucu, memastikan.

Omanya bilang, “Udah, ayok kita pulang aja!” sambil cemberut.

Setibanya di rumah, diketahuilah alasan dibalik semua ini.

Si aki yg bertemu oma-nya tadi, saat bicara tuh, air liurnya kesana kemari, hahaha. Maklum, dah tua-pun dah tanggal gigi depannya. Cucunya bertanya pada si Oma, heran, “Eh, tapi kan maaa??”

Oma-nya cuma jawab, “Iya, soalnya dulu dia ganteng”, wkwkwk. Maka semua yg di bis ini tergelak syahdu. Syahdu tentu, karena kita semua tahu bahwa tua itu berarti kehilangan semua perkasa dan gagahnya fisik saat muda, di usia yg dirasa begitu cepat. Pelajaran nomor 4, lansia lebih banyak bernostalgia, seakan baru mengalami kemarin usia muda, melewati masa-masa menjadi ibu dengan lemak berlipat di perut seusai melahirkan, dan tiba disini bersama rambut putih dan fisik melemah. Cinta yg didasarkan pada keindahan fisik hanya berstandar rendah. Tentu.

Kabar baiknya, kalau sudah sampai jadi oma-oma, itu berarti sebentar lagi kita akan kembali cantik dan seksi. Kapan? Nanti di surga (insya Allah). Eh gitu?

“Ya karena kita-kita ini udah bau kamboja, in!” kata oma di sebelah iin yg dari tadi udah ketawa. Hem hem, “kan Oma, mati tuh bisa kapan dan siapa aja?” iin protes dalam hati. Tapi emang dasar oma-oma, dzikrul mautnya emang lebih kenceng rupanya. Iya, dengan semua tanda yg udah mereka terima.

Sampai di Waduk Jatiluhur, aktivitas setelah snack pagi-bebas. Ada yg foto-foto, ada yg pergi jalan-jalan, pun ada yg nyanyi tembang kenangan, sementara dua oma ini menuju ke dek atas, mushola-sholat dhuha. Pelajaran nomor-5. Kesukaan kita di usia lanjut, ya sama aja dengan apa yg kita sukai saat muda. Beribadah dengan konsisten di saat muda, menjadi kendali otomatis ketika tua. Apapun dan bagaimanapun kondisinya. Memang itu perjuangan kala muda, tapi nikmat yg dituai ketika tiba masa tua.

iin-dan-oma
Oma Ade dan Oma Eti, iin (tengah)

Well, demikianlah tulisan singkat ini diselesaikan. Ada banyak hal yg menjadi catatan perjalanan iin, tapi yah, berada di luar kemampuan untuk dapat dituliskan semua. Beberapa off the record. Ah, mungkin di lain kesempatan ada baiknya dituliskan. Tentang dua hal, menghadapi takdir menjanda dan megelola anak berbakat yg kecerdasannya di atas rata-rata dan autis. Sekian cerita-cerita hari ini, ditutup oleh Programmer’s codes:

20. Dan di Bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yg yakin, 21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?  QS.Adz-Dzariyat

gigi loh.jpg
Last shoot!
Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: