Isteri dari putra Aish ibn Ishaq as

Beliau adalah contoh nabiyullah yg dianugerahi kenikmatan tiada tara. Isteri shalihah, anak-anak yg banyak, kemewahan dunia, dan umat yg taat. Dalam kenikmatan syukur ia hidup berpuluh tahun lamanya. Hingga..

Lalu Allah mengujinya. Atap rumah yg roboh mewafatkan semua putra-puterinya, harta yg habis dalam sekejap, umat yg mengingkari seorang utusan yg tampak disia-siakan Rabb-nya. Lengkaplah ujiannya dengan penyakit kulit yg menyebabkan ia terusir. Satu yg tersisa, isteri.

Bertahun berlalu.

Dalam banyak kisah disebutkan bahwa sang isteri menuntutnya agar berdoa kepada Tuhan meminta kesembuhan hingga membuatnya bersumpah, padahal tidak demikian, aduhai.

Kesabaran putra Aish ibn Ishaq alaihissalaam ini adalah sebaik-baik contoh kesabaran.

Suatu hari isteri Ayyub datang tanpa harta lagi yg tersisa untuk dapat merawatnya. Berkatalah ia pada nabiyullah ini dengan perasaan teriris,

“Wahai Ayyub, izinkan aku memotong rambutku dan pergi menjualnya. Sungguh aku begitu sedih melihatmu demikian sementara tak ada lagi harta yg mempu kugunakan untuk merawatmu, maka ada kiranya engkau berkenan agar aku melakukannya?”

Ayyub alaihissalaam, tidak mengizinkan.

Suatu hari tanpa lagi ada harta, dan kondisi Ayyub semakin lemah karena sakit yg dideritanya. Pergilah isteri Ayyub lalu datang kepadanya dengan makanan, ia datang dengan memakai penutup kepala. Disitulah kita mengatahui sumpah Ayyub untuk mencambuk sang isteri.

Isteri Ayyub pergi dengan menangis, terusir bukanlah suatu yg menyebabkannya. Kemarahan sang suami dan murka Tuhan ia takutkan.

Tapi apakah yg menyebabkan penderitaan Ayyub berakhir?

Sesungguhnya apabila ia memohon kepada Allah untuk mengangkat ujian, tentu Dia kabulkan. Namun Ayyub alahissalaam malu melakukannya. Berlimpah nikmat hidupnya, sementara ujian yg baru saja dimulai membuat ia begitu malu kepada Allah.

Satu-satunya hal yg membuatnya memohon kepada Allah adalah isterinya. Kesabaran Ayyub adalah kesabaran terbaik. Ketulusan sang isteri dan kesabarannya di dalam mendampingi Ayyub membuat ia begitu ingin memohon. Tapi bahkan permohonanannya itu sama sekali bukan sebagai permintaan. Ia pengaduan. Dan sama sekali tidak untuk dirinya, ini untuk sang isteri. Agar Allah sudahi.

Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah kisah) Ayub ketika ia menyeru Tuhannya: (‘Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.‘ Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (QS. al-Anbiya’: 83-84)

Lanjutan kisah Ayyub dapat kita baca di dalam al-Qur’an, surah Shaad: 41-44

Well, siang tadi aku begitu terharu dengan kisah ini. Di dalam al-Qur’an ada banyak sekali kisah, sebagai cermin, untuk menghibur juga mengingatkan. Jawaban dari semua persoalan, obat dari semua penyakit. Kudekap saja saat teralu banyak khilaf menghalangiku dari membacanya. Berharap aku tidak dilempar menjauhi al-Qur’an. Dan mengingat isteri Ayyub ini membuat aku meringis, betapa sabar dan aduhai ketulusan, adalah do’a tanpa suara. Allahu akbar.

Iklan

your comment here ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: